WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

Davian baru saja mendapat kabar bahwa tuan Abas masuk rumah sakit, dia langsung bergegas mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tempat tuan Abas di rawat.


"Bagaimana keadaan paman?" tanya Davian dengan penuh rasa khawatir kepada asisten tuan Abas.


"Tuan Abas sedang ditangani oleh dokter di dalam." jawab asisten tuan Abas lirih tapi tetap dengan suara yang tegas.


Davian duduk termenung di depan ruang perawatan, dia terus berusaha berfikir positif.


"Paman jangan tinggalkan aku paman." atap Davian dalam hatinya.


"Bagaimana keadaan ayah?" Davian menoleh ke arah suara tersebut, dia melihat sosok laki laki sedang berbincang dengan asisten tuan Abas.


Laki laki tersebut berjalan menuju tempat duduk di sebelah Davian.


"Davian?" ucap laki laki itu, Davian menatap orang itu dengan tatapan bingung, dia mencoba mengingat siapa orang itu.


"Kamu tidak kengenal ku?" lanjut laki laki itu yang membuat Davian semakin bingung.


"Aku Aditya, Aditya Wardana." ucapnya


Davian pun langsung berdiri dan memeluk Aditya.


"Kamu apa kabar?" tanya Davian antusias sambil memeluk sepupunya itu.

__ADS_1


"Hahahaha" Aditya tertawa, tawa karena dia seperti mendapat kejutan "Aku baik Dav, bagaimana denganmu?" tanya Aditya.


"Aku juga baik, sudah sangat lama kita tak bertemu, sampai sampai aku tak mengenalmu." ucap Davian dengan raut wajah bahagia.


Aditya sedari kecil tinggal bersama ibunya, semenjak perceraian orangtuanya Aditya tinggal bersama ibunya karena hak asuh jatuh ke tangan ibunya, setelah ibu Aditya meninggal tuan Abas menjemput Aditya dan mengajak tunggal bersamanya. Davian tidak pernah bertemu Aditya karena semenjak lulus SMA Davian memilih hidup mandiri sedangkan Aditya baru satu tahun ini tinggal bersama tuan Abas.


Mereka berbincang banyak hal selayaknya saudara yang sudah lama tidak bertemu.


"Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Aditya.


Davian mengangguk dia tak menjawab pertanyaan Aditya, karena akhir akhir ini hubungan nya dengan Andini semakin tidak jelas, Andini seperti menjauhi Davian dengan alasan yang tidak Davian ketahui.


"Bagaimana denganmu?" tanya Davian kepada Aditya.


"Oh ya?" ucap Davian semangat.


"Siapa namanya?" tanya Davian.


"An," belum selesai Aditya berbicara dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Keluarga tuan Abas." ucap dokter


Aditya dan Davian serentak berdiri menghampiri dokter itu.

__ADS_1


"Kami anak anaknya dok." jawab Aditya.


"Mari ikut saya." ucap dokter sambil berjalan keruangan nya.


"Kamu temui paman dulu biar aku yang menemui dokter." ucap Davian.


Aditya menyetujui usulan Davian, dia pun masuk ke ruang perawatan ayahnya, sedangkan Davian mengikuti dokter itu ke ruangannya.


"Silahkan duduk pak." ucap dokter.


"Panggil saja saya Davian, saya rasa kita seumuran Bu dokter." Davian duduk di kursi bersebrangan dengan dokter.


"Kalau begitu panggil saya sifa, karena menurut saya kamu lebih tua dari pada saya." jawab dokter Sifa dengan senyum manisnya.


"Baiklah dokter Sifa." ucap Davian sembari memperhatikan dokter Sifa.


"Kondisi tuan Abas saat ini sudah stabil, tuan Abas memiliki beberapa riwayat penyakit terutama penyakit jantung." ucap dokter Sifa yang membuat Davian terkejut, selama ini Davian hanya sibuk dengan dirinya dan urusannya saja dia tidak memperhatikan Paman yang sudah seperti ayah baginya.


"Apakah paman akan baik baik saja dok?" tanya Davian penuh harap.


"Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk tuan Abas." jawab doket Sifa.


Dokter Sifa memberi beberapa nasihat tentang apa yang harus dilakukan oleh keluarga tuan Abas, setelah itu Davian keluar dari ruangan dokter dan menuju tempat perawatan tuan Abas.

__ADS_1


Saat di depan pintu ruang perawatan Davian melihat dari kaca dia terkejut ada tuan Wisnu di situ, akhirnya Davian memilih pergi ke apotek untuk menebus resep yang di berikan dokter, dia enggan bertemu tuan Wisnu.


__ADS_2