
Davian sudah menjalani rutinitas seperti biasa, beberapa waktu lalu dia sempat terpuruk karena kepergian tuan Abas, berkat semangat dan dukungan dari Sam dan dokter Sifa Davian mampu bangkit dari keterpurukannya.
Hubungan dokter Sifa dan Davian sudah semakin dekat, dokter Sifa sering berkunjung ke rumah Davian pada saat Davian terpuruk.
Sam masuk ke ruangan Davian saat jam makan siang, Davian bersiap keluar untuk makan siang bersama dokter Sifa.
"Dav ada pesan dari pengacara tuan Abas." ucap Sam berdiri di depan Davian.
"Yasudah kamu urus saja." jawab Davian yang masih sibuk merapikan tumpukan berkas di mejanya.
"Tidak bisa diwakilkan Dav." kata Sam yang kini sudah duduk di sofa sebelah meja Davian.
"Memang kenapa?" tanya Davian sudah selesai merapikan berkas dan berdiri di sebelah Sam.
"Pembacaan surat wasiat tuan Abas." jawab Sam.
"Baiklah, jam berapa?" tanya Davian.
"Sekarang." jawab Sam singkat.
"Aku ada janji dengan dokter Sifa." ucap Davian datar.
"Akan ku atur pertemuan itu 2 jam lagi." ucap Sam yang sudah mengetahui maksud dari Davian
Davian sudah duduk di kantin rumah sakit tempat dokter Sifa bekerja, sebenarnya Davian ingin mengajak makan siang di luar tapi karena jadwal dokter Sifa yang cukup padat mau tidak mau Davian akhirnya menyetujui usulan dokter Sifa untuk makan siang di kantin rumah sakit
Dari kejauhan Davian melihat dokter Sifa datang bersama seorang dokter muda, dia melihat tingkah dokter itu yang sepertinya sedang mendekati dokter Sifa, sementara dokter Sifa hanya membalas dengan senyum yang di paksakan.
__ADS_1
"Sudah dari tadi ya?" tanya dokter Sifa ketika sudah sampai di tempat Davian duduk.
"Oh tidak baru juga datang, ini pesanan aja baru sampai." jawab Davian.
"Oh iya kenalkan ini dokter Ferry." ucap dokter Sifa mengenalkan dokter muda yang berdiri di sebelahnya.
"Ferry."
"Davian."
Dokter Ferry sedikit meremas tangan Davian ketika berjabat tangan dan menatap Davian dengan rasa ketidaksukaan.
"Maaf saya hanya memesan dua menu tidak tahu dokter Sifa mengajak teman." ucap Davian sambil menatap sinis dokter Ferry.
"Tidak masalah saya bisa pesan sendiri." jawab dokter Ferry ketus kemudian menuju.
"Hahahaha gak usah di perjelas juga." Davian tertawa melihat ekspresi cemberut dari dokter Sifa.
"Sibuk banget ya hari ini?" tanya Davian.
"Banget, pasien datang terus." jawab dokter Sifa sambil meminum jus apel pesanannya.
"Yaudah nikmatin aja, kan enak kerja tapi dapat pahala." jawab Davian sambil tersenyum.
Ketika dokter Ferry datang suasana yang tadinya hangat dan ceria penuh canda tawa berubah menjadi awkard, Davian memilih diam menikmati makanannya sedangkan dokter Ferry lebih banyak bicara pada dokter Sifa seakan menganggap Davian tidak ada.
"Nanti aku gak bisa jemput, ada meeting soalnya." ucap Davian setelah selesai makan.
__ADS_1
"Nanti aku antar kamu pulang." dokter Ferry langsung menawarkan kepada dokter Sifa
"Gapapa aku bawa mobil kok." jawab dokter Sifa pada Davian, dia rasanya sudah malas meladeni dokter Ferry.
"Kamu hati hati dijalan." ucap dokter Sifa berpisah dengan di depan lobby rumah sakit sedangkan dokter Ferry hanya menatap tajam Davian.
"Oke, semangat bekerja." ucap Davian sambil mengecup kening dokter Sifa, dokter Sifa hanya tersipu malu sedangkan dokter Ferry langsung berdehem, Davian sengaja mengecup kening dokter Sifa di depan dokter Ferry untuk menabuh genderang perang.
- - -
Davian baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah mewah tuan Abas, di depan pintu masuk Sam sudah berdiri menyambut Davian.
"Pengacara tuan Abas dan Aditya sudah di dalam." ucap Sam sembari berjalan di belakang Davian.
"Apa kabar pak Hendrik?" sapa Davian kepada pengacara tuan Abas, Davian juga menyalami dan memeluk Aditya yang berdiri menyambut nya.
"Baik Dav, habis berkencan dengan siapa?" tanya pak Hendrik dengan tawa ringannya.
"Ah hanya ada sedikit keperluan jangan dengarkan Sam." kilah Davian.
Setelah berbasa basi Hendrik langsung memulai pembahasan tentang surat wasiat tuan Abas.
"Untuk FW Corporate saham 90% atas nama tuan Ferdiansyah Wijaya yang di wariskan kepada anak kandungnya Davian Ferdiansyah." ucap tuan Hendrik.
"Sedangkan 10% saham milik tuan Abas Wardhana yang diwariskan kepada Aditya Wardhana sebagai anak kandungnya." lanjut Hendrik menjelaskan isi surat wasiat sekaligus pembagian harta tuan Abas
Davian dan Aditya yang sebelumnya sudah mengetahui dari tuan Abas pun hanya mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah saya rasa sudah jelas semua, dokumen perusahaan dan aset tuan Abas sudah di urus dengan nama pemilik yang sekarang." ucap Hendrik sembari menyodorkan amplop coklat di depan Davian dan Aditya.