WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 127. Cowok Yang Mirip Ridwan


__ADS_3

Siapa pria yang sedang bertamu di rumah Yanu, keponakan Pak Obi?


Cytra beberapa kali mencuri pandang sambil ngobrol dengan nyonya rumah. Bahkan sempat bersirobok dengan tatapan mata cowok itu yang tajam menggetarkan dada Cytra.


"Bapak biasanya jarang di rumah," kata Winar kepada Cytra.


"Sibuk terus Bapak ya, Bu."


"Ya, begitulah sepertinya tak pernah istirahat. Baru kali ini dia ada di rumah karena ada tamu penting."


"Begitu ya, Bu," ucap Cytra pendek padahal dalam hati dia ingin Winar menyebutkan siapa tamu itu.


"Oya, bapak anak-anak dimana kok tidak ikut?" tanya Winar.


"Maaf, Bu. Bapak anak-anak sudah meninggal," jawab Cytra apa adanya.


"Sudah lama ya meninggalnya?" tanya Winar lagi.


"Sudah, Bu. Waktu sanjaya masih berumur setahun."


"Sudah lama ya. Bu Cytra sekarang sendiri, belum ingin menikah lagi?"


Cytra cuma tersenyum. Dia tidak mungkin menceritakan baru saja dikhianati calon suaminya.


"Bu Cytra kan cantik. Masih kelihatan muda lagi dan kata Om Obi pemilik sejumlah perusahaan. Pasti banyak pria yang mengincar Bu Cytra."


"Ah, tidak juga, Bu. Pak Ob terlalu membesar-besarkan diri saya," ucap Cytra merendah.


"Iya, tapi saya percaya kok ceritanya Om Obi."


"Cerita apa saja sih dia?" tanya Cytra curiga. Jangan-jangan sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Radita yang sudah berantakan.


"Ya, cuma cerita itu saja. Tadinya saya mengira Om Obi bekerja pada orang yang sudah tua, galak dan sombong. Ternyata kebalikannya dari semua itu. Ternyata bosnya masih muda, cantik dan tidak sombong," jelas Winar memuji Cytra.


"Terimakasih atas pujiannya. Tapi saya menilai diri saya ini biasa-biasa saja. Prestasi yang saya raih karena bantuan teman-teman dan karyawan yang baik hati seperti Pak Ob."


"Kalau menurut saya Bu Cytra ini hebat. Walaupun jadi orang sukses tidak sombong. Sebaiknya Bu Cytra itu punya suami lagi. Jadi bepergian begini ada pendampingnya tidak kerepotan bawa anak-anak."


"Ah tidak ada laki-laki yang mau sama janda seperti saya ini," Cytra merendah lagi.


"Kata siapa?"


"Lha anaknya saja sudah dua begini," Cytra merangkul Putra yang duduk di sebelah kanan dan Sanjaya di sisi kiri. Mereka dari tadi cuma diam mendengarkan orangtua ngobrol.


"Menurut saya mereka para lelaki bukannya tidak mau sama Bu Cytra. Tetapi mereka itu minder. Tidak berani atau segan mendekati Bu Cytra."

__ADS_1


"Masa sih, Bu. Aku jadi GR nih!" Cytra tertawa riang sampai terdengar ke telinga tamu cowok yang sedang ngobrol dengan tuan rumah.


Winar kemudian berdiri mendekat ke Cytra dan membisikan sesuatu.


"Masa sih, Bu?"


"Iya bener! Dia masih sendiri," kata Winar dengan suara berbisik.


"Aku masih takut cari pengganti papanya anak-anak," Cytra ikut mengecilkan suaranya.


"Tadinya dia itu cowok ugal-ugalan. Penampilannya tak pernah bener. Tapi sebenarnya baik hati. Dan pekerja keras," terang Winar.


Cytra mencuri pandang lagi ke cowok itu. Dia ingat anak Tante Mira. Apakah dia itu Ridwan yang sudah berubah wajah karena penampilannya sekarang jauh lebih rapih seperti eksekutip muda. Ah! Tidak mungkin!


"Gimana, Bu Cytra?" tanya Winar mengagetkan Cytra yang sedang mengamati cowok itu.


"Ap-apanya?" tanya Cytra gugup.


"Bu Cytra kan sudah mengamati dia barusan."


Cytra tersenyum malu.


"Namanya Muhammad Ridwan. Ayahnya pengusaha ritel. Dia pewaris tunggal perusahaan itu," papar Winar.


Cytra belum yakin kalau Muhammad Ridwan yang dimaksud Winar itu adalah Ridwan anaknya Tante Mira yang urakan itu.


"Kami sudah kenal lama dengannya. Makanya saya tahu kalau dia sekarang sudah lebih baik penampilannya. Saya sendiri pangling ketika melihat dia datang tadi."


"Bu Winar sudah kenal lama berarti tahu juga dong tentang keluarganya."


"Ya, tahu karena sering curhat sama Bapak. Dia kini sedang pingin Mama dan Papanya bersatu lagi. Sejak dia kecil Mama dan Papanya bercerai. Dia ikut Papanya sampai sekarang."


Cerita Winar makin mendekati apa yang sedang dipikirkan oleh Cytra. Tapi kalau dia benar Ridwan anaknya Tante Mira kenapa tadi ketika melihat Cytra tidak menyapanya dengan panggilan "bidadariku yang cantik".


Dua kali Cytra bertemu dengan Ridwan. Terakhir di mall saat mengantar Putra menghadiri ulang tahun teman sekolah. Sedang yang pertama di rumah Tante Mira. Malah sempat bentrok dengan pengawal Cytra. Karena tangan cowok urakan itu mau mencowel wajah Cytra.


Disaat Winar dan Cytra sedang membicarakan seseorang secara bisik-bisik itu, suami Winar, Yanu mendekat ke kursi mereka.


"Bu, dia mau pamit pulang," kata Yanu.


Cytra menoleh sekali lagi ke sosok yang sedang ia bicarakan dengan Winar tadi.


"Ayo, Bu Cytra saya kenalkan sekalian," ajak Winar.


Cytra mau menolak tidak enak, nanti dikira sombong. Akhirnya dia ikut berjalan di belakang Winar dan Yanu ke ruang tamu.

__ADS_1


"Ini Cytra seorang pengusaha juga. Dan Bu Cytra...Ini Muhammad Ridwan pengusaha muda," Winar mengenalkan mereka.


Ridwan menyalami tangan Cytra dengan mimik muka biasa saja. Senyumnya juga tidak lepas bebas seperti anak Tante Mira. Ridwan yang ini terkesan angkuh.


Sedangkan Cytra menanggapi sikap yang cuek dan angkuh itu dengan tersenyum tipis. Setelah itu Ridwan melangkah dengan angkuhnya ke mobilnya yang diparkir di dekat mobil milik Cytra.


Setelah melihat dari dekat cowok itu, Cytra menjadi bingung sendiri. Sugguh sikapnya tidak ada kemiripan dengan Ridwan yang Cytra kenal. Akan tetapi wajahnya bisa persis sama bagai pinang dibelah dua.


"Bu Win dan Pak Yanu saya sekalian minta ijin pamit ya, Putra dan Sanjaya saya tinggal dulu disini," ucap Cytra.


"Ditinggal saja ndak apa-apa, Bu. Biar nanti main bareng sama Boy."


"Makasih Bu Win. Putra dan Sanjaya jangan nakal ya, Nak. Mama pergi sebentar ke kantor."


"Sanjaya ikut Mama aja," protes anak nomor dua.


"Jangan Mama mau kerja. Dedek disini sama kakak," anak sulungnya mencoba merayu.


"Tidak mau! Dedek takut, Ma," Sanjaya merajuk.


"Waduuh, gimana sih Dedek. Katanya ndak mau nakal ikut Mama. Kok jadinya nyewotin gitu sih."


"Ndak mau! Pokoknya dedek ndak mau!" Sanjaya menjerit menangis.


Putra anak yang genius itu berusaha merayu adiknya agar tidak ikut Mamanya. Dibandingkan adiknya Putra selama ini memang sebagai anak yang penurut. Walaupun kadang terlihat nakal dan usil. Tapi di tempat yang jauh dari rumahnya sendiri itu, dia bisa sebagai kakak yang baik pada Sanjaya.


"Gimana, Kak. Adikmu mau ikut, Mama. Kamu mau ikut apa ditinggal disini?" kata Cytra akhirnya pada Putra.


"Kalau Mama repot, biar kakak disini saja, Ma," ujar Putra.


"Iya Putra disini saja, nanti bisa kenalan sama boy," celetuk Winar.


"Nanti malah ngrepotin Ibu."


"Tidak apa-apa. Anak saya sebentar lagi pulang kok. Nanti biar main dengan Boy."


"Kakak ikut Mama saja, Ma," ucap Sanjaya.


"Iiih kamu itu bawel banget!" keluh Cytra.


Winar, Yanu dan Pak Ob tertawa melihat tingkah dua anak Cytra yang lucu itu.


"Makanya Bu Cytra cepat cari pengganti papa mereka biar tidak repot begitu," ujar Winar.


Kalimat itu agak menyentuh perasaan Cytra. Ia jadi teringat kembali permasalahannya dengan Radita yang belum selesai. Terlihat mimik mukanya menyedihkan.

__ADS_1


Setelah basa-basi sebentar dengan Winar dan Yanu, Cytra kemudian pamitan pergi dengan membawa kedua anaknya. Tidak jadi ia tinggal di rumah keponakan Pak Ob.


Bersambung


__ADS_2