WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 93 Nasihat Radita


__ADS_3

Kehadiran Cytra di rumah besar seperti istana itu membuat Putra dan Sanjaya makin manja. Dua bocah laki-laki itu tidak mau makan, tidur dan mandi kalau bukan mamanya yang turun langsung.


Dua asisten rumah tangga yang ditugasi mengasuh dan merawat mereka sudah kuwalahan tidak bisa mengendalika dua bocah yang lincah dan cerdas itu.


Akhirnya hari itu Cytra benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak. Ternyata tidak gampang dan capek sekali.


Selama ini ia tidak pernah membayangkan hal itu. Karena sibuk dengan aktivitasnya sendiri.


Sampai sore Cytra belum berhenti mengurus dua bocah yang makin agresif. Teriakan Cytra tak digubris ketika mereka diingatkan untuk tidak melakukan sesuatu.


Seperti sore itu Putra dan Sanjaya tak henti-hentinya berlari naik turun tangga karena bermain perang-perangan. Kadang ngumpet di bawah meja, lain kali pindah di balik guci keramik.


Hingga suatu saat guci yang lebih tinggi dari Putra itu terseggol badannya. Guci Cina itu bergoyang-goyang lebih dulu sebelum ambruk dan mengelinding ke arah tangga.


Tak ayal Cytra yang melihat itu berteriak keras dan meloncat ke tangga untuk menangkapnya. Namun sial kakinya malah terantuk. Akibatnya guci tak tertangkap dan jatuh ke lantai bawah pecah berkeping-keping. Sedangkan Cytra jidatnya terbentur tangga hingga berdarah.


Suara guci pecah dan teriakan Cytra yang jatuh tengkurap mengagetkan orang-orang yang ada di dalam rumah. Mereka berhamburan lari ke tempat kejadian. Dan melihat pecahan guci yang berserakan di lantai, serta Cytra yang tergeketak di tangga.


"Aduuh..., ada apa sih!" Teriak Radita yang keluar dari kamar.


Sementara itu Putra dan Sanjaya malah tertawa berderai melihat kejadian itu dari tangga atas.


"Hai! Lihat ini mamamu berdarah," teriak Radita jengkel kepada dua bocah itu.


Mendapat perlakuan kasar dari Radita dua bocah itu langsung diam menunduk. Seperti baru sadar atas keteledoran mereka membuat guci pecah dan mamanya sendiri jatuh dengan jidat memar dan berdarah.


"Maafkan Putra, Ma," ucap anak sulungnya. Dan adiknya ikutan minta maaf kepada Cytra.


"Sudah sudah diobati dulu itu lukamu, Cy. Dan kalian cepat masuk ke kamar belajar!" Vika istri Radita ikut turun menangani.

__ADS_1


Dua bocah itu pun menurut, bergegas lari ke kamarnya.


Sementara beberapa asisten rumah tangga dengan cekatan membersihkan pecahan guci keramik yang berserakan di lantai. Sebagian membantu Cytra bangun dari tangga dituntun ke kamarnya.


"Bener bener sial aku hari ini," ucap Cytra sendirian di depan kaca untuk mengobati lukanya dengan minyak tawon supaya benjolan di jidatnya cepat kempes.


Mulut Cytra nyungir menahan perih. Ternyata ada kulit yang robek kecil di bagian jidat karena terbentur pinggiran lantai tangga.


Setelah diobti dan agak mereda rasa sakitnya Cytra keluar. Ternyata Radita dan Vika sedang duduk di ruang tengah menonton teievisi. Cytra lalu menghampiri mereka dan ikut duduk menonton televisi.


"Maafkan tadi anak-anaku. Apa biasa dia begitu kalau tidak ada aku, Dit?" tanya Cytra.


"Biasanya mereka kalem, tidak beringas seperti itu. Mungkin karena ada mamanya mereka jadi manja dan kolokan begitu," kata Radita setengah menyalahkan Cytra.


"Saya tidak tahu apakah mereka mau saya ajak tinggal di rumah sendiri. Supaya tidak merusak lagi barang-barang disini," kata Cytra berdalih.


"Jangan. Biar saja mereka disini. Mereka adalah anak-anak Papa yang berhak pula atas semua barang-barang yang ada disini. Terserah mereka mau apa di rumah ini," kata Radita agak menohok perasaan Cytra.


Padahal dari segi finansial Cytra sekarang sudah bisa memberikan fasilitas yang sama seperti Radita kepada anak-anaknya. Sebentar lagi ia akan menjadi orang kaya raya setelah seluruh perusahaan Morgabt selesai ia verifikasi. Cytra yakin seluruh perusahaan kondisinya masih sehat. Kalau para karyawan atau staf yang tidak beres, yang selama ini bikin keuangan kacau balau sudah ia bersihkan, niscaya perusahaan akan dapat tumbuh dengan pesat.


Maka Cytra lebih baik tidak membuka front perlawanan dengan Radita. Biar saja sekarang anak-anaknya tinggal bersama Radita dulu. Nanti pada saatnya tiba akan ia ambil dengan paksa.


"Saya pikir pendapatmu benar juga, Dit. Saat ini aku memang belum mampu merawat dan mengasuh mereka," ujar Cytra mengakui kekurangannya.


"Ya. Biarkan saja mereka disini. Kalau kamu kangen bisa saja datang kesini sewaktu-waktu. Percayalah dia akan lebih aman tinggal disini. Daripada tinggal dengan kamu sangat rawan menjadi sasaran pelampiasan dendam musuh-musuhmu," Radita tidak mengendorkan kritiknya terhadap kehidupan Cytra.


"Apa hubungannya antara aktivitasku dengan mereka?" tanya Cytra agak tersinggung.


"Apakah kamu tidak sadar telah menyingkirkan beberapa orang dalam memperbaiki perusahaan Morgant. Mereka pasti tidak akan tinggal diam atas kebijakan yang kau terapkan. Mereka pasti akan menuntut balas dengan cara apapun," kata Radita membuka pengetahuan baru kepada Cytra tentang resiko aktivitasnya sekarang.

__ADS_1


"Tetapi bukankah yang aku singkirkan adalah orang-orang yang membuat perusahaan beroperasi tidak sehat. Itu berarti saya menyelamatkan ribuan tenaga kerja dari PHK karena perusahaan tidak jadi bangkrut dan gulung tikar."


"Memang tidak salah apa yang sudah kamu lakukan. Tetapi orang-orang yang kamu singkirkan tidak berpikir sejauh itu. Secara manusiawi mereka pasti akan dendam dan mengancam keselamatanmu."


"Tidak masalah kalau keselamatanku yang terancam. Tapi kalau sampai mengancam anak-anakku. Apa mungkin hal itu bisa terjadi."


"Sangat bisa terjadi. Kemarin saja katanya sudah ada yang bertanya keberadaan anakmu di sekolah. Untungnya pengawal mereka mendengar. Dan ketika ditanya apa maksudnya, orang tersebut lantas bergegas pergi."


"Itu pasti Deryll dan Ibra. Mereka yang tahu soal diriku dan anak-anakku."


"Aku tidak tahu mereka atau bukan. Tetapi sinyalemen itu bahwa sekarang dirimu sedang dalam ancaman orang-orang yang tidak suka kepadamu."


"Aku tidak tahu hal itu."


"Maka mulai sekarang jangan kau sepelekan keselamatan dirimu sendiri. Biarlah Putra dan Sanjaya tetap tinggal disini. Aku pun akan memperketat penjagaan untuk keselamatan mereka."


Sekarang Cytra jadi paham mengapa Mellany langsung menyediakan dua bodyguard saat ia akan mulai bekerja membersihkan perusahaan dari benalu-benalu yang mematikan.


Semula ia memang tidak faham. Mellany, sekretaris Morgant yang terpercaya itu, cuma bertanya kapan akan dimulai bekerja saat Cytra menelponnya.


Pikir Cytra saat itu melani cuma akan menyiapkan penginapannya dan untuk transportasinya selama mengurus perusahaan Morgant. Tidak tahunya ketika ia datang di sebuah hotel, Mellany langsung menjaga keselamatan Cytra dengan menyediakan dua orang bodyguard.


"Untuk apa kau melakukan penyambutanku seperti ini?" tanya Cytra heran.


"Ini sudah protap. Dulu Mr Morgant juga mendapatkan fasilitas seperti ini sebagai bos perusahaan besar," jawab Mellani taktis.


"Tapi aku bukan bos. Aku adalah orang yang mendapatkan tugas dari Mr Morgant yang kebetulan adalah suamiku," Cytra ungkapkan ketidaktahuannya.


"Ya, saya tahu. Ibu Cytra adalah istri Morgant. Beliau sudah menceritakan seluruhnya. Baik tugas Ibu maupun hak-hak yang harus kami berikan. Termasuk pengamanan terhadap diri Ibu. Karena tugas ibu tidak ringan. Rawan terhadap tindak kekerasan dari orang-orang yang tidak puas atas kebijakan yang akan diterapkan ibu nanti."

__ADS_1


Sekarang Cytra baru paham akan hal yang tak pernah ada dalam pikirannya itu. Dengan telah dijelaskannya oleh Radita kini Cytra memang harus hati-hati keluar rumah.


Bersambung


__ADS_2