WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 160. Bertemu Penyebab Kecelakaan


__ADS_3

Selepas Cytra pergi, Radita mencari Vionita di kamarnya. Wanita itu ternyata sedang berdandan. Kelihatannya mau pergi.


"Mau kemana, Ma?" tanya Radita sambil merebahkan badannya diranjang.


"Mau ke rumah Cytra."


"Mau apa kau kesana. Kan barusan bertemu?"


"Aku mau ingatkan dia. Agar tidak coba-coba lagi merayu kamu," kata Vionita masih dibalut rasa cemburu.


"Apakah tadi dia merayuku. Itu kan karena perasanmu saja."


"Halah! Jangan pura-pura tidak tahu. Datang kesini bilangnya sih mau mencari Hanna. Tapi padahal pingin bertemu kamu."


Radita kurang sependapat omongan istrinya itu. Memang waktu ia pegang tangannya perasaan Cytra menatapnya penuh rasa Cinta. Tapi itu cuma kebetulan saja. Bukan sebagai kesengajaan.


"Kamu ada-ada saja. Tidak mungkin dia mau merayu aku karena sudah ada kamu dan iyet."


"Halaah! Jangan pura-pura tidak tahu. Kalau kamu masih cinta dia. Terus aku dan Iyet mau kau kemanakan!" Vionita tambah membuat bingung radita.


"Perasaan cemburu kamu itu keterlaluan sekali. Saya itu tadi cuma pingin tahu akibat dari kecelakaan itu. Maka saya pegang tangannya yang teruka. Tidak ada maksud lainnya."


"Terserah kamu, Pa. Tapi mata dan perasaanku tidak bisa dibohongi. Kamu dan dia masih saling cinta kan?"


"Kamu itu selalu berpikiran jelek kepada akunan dia. Padahal belum tentu dia seperti yang sedang kau tuduhkan," Radita menasihati.


Vionita kelihatan tidak senang diingatkan seperti itu. Ia merasa semakin yakin kalau Radita dan Cytra masih saling cinta.


"Pingin tahu lukanya saja sampai pegang-pegang tangan. Jelas sekali kalau Papa masih cinta dia, kan?" kata Vionita lebih pedas.


Radita ganti yang tidak senang dikatain istrinya seperti itu. Walaupun benar apa yang dikatakan istrinya, tapi itu hanya sebuah perasaan saja. Tidak ada keniatan untuk kembali kepada Cytra.


"Memang kalau boleh jujur aku masih ada perasaan dengannya. Tapi aku tidak ada niat untuk kembali padanya," ucap Radita jujur.


"Dasar laki-laki, bilangnya tidak ingin kembali. Tapi nanti diam-diam menyelusup mencari Cytra." kata-kata itu sangat menyinggung perasaan suaminya.


"Diam! Cerewet amat sih kamu!" bentak Radita sewot.


"Memang saya harus cerewet pada suami yang mau mengobral cinta," kata Vionita dengan perasaan terpukul karena bentakan itu.


"Memang kamu pingin aku kembali padanya. Sudah dibilang tidak masih saja berprasangka buruk kepada saya!" Radita mengomel.


Diomelin begitu Vionita merasa seperti tak dihargai lagi oleh suaminya. Ia yang sedang dandan seketika berhenti. Di depan meja rias dia duduk menangis.


Semenit kemudian tiba-tiba si kecil Iyet masuk ke kamar memeluk Vionita. Melihat Mamanya menangis ia bingung sendiri lalu ganti berlari mendekat Papanya yang duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Mama menangis, Pa," ucap gadis yang belum tahu apa-apa itu.


"Iyet keluar sana sama Mbak, ya," kata Radita meminta anak meninggalkan mereka.


Gadis kecil itu menurut lari keluar kamar. Di luar babysitter yang sudah menunggunya langsung membopongnya dan dibawa menjauh dari kamar orangtuanya yang sedang bertengkar.


Sejak pertengkaran itu suami istri itu saling diam. Vionita sibuk sendiri dengan pekerjaannya mengelola hotel milik keluarga. Begitu juga Radita di perusahaannya yang lain.


Dua hari situasi beku dan menjemukan itu berlangsung. Radita menunjukkan sikap masih kesal melihat istrinya. Begitu juga Vionita tak mau mengalah. Mereka berdua benar-benar puasa bicara. Hanya sepatah dua patah kata yang keluar. Walaupun masih tidur seranjang mereka tak pernah bersentuhan.


Pada malam ketiga Radita tidak pulang. Dia memilih bersama teman-temannya di sebuah klub. Mengbiskan waktunya untuk minum-minum.


"Dit! Kamu tetap di sini. Tidak pulang," kata salah seorang temannya.


"Kalian pulang saja dulu. Nanti saya yang beresin di kasir," jawab Radita dengan tatapan mata memerah karena pengaruh minuman.


"Ok. Kami pulang dulu ya," ujar mereka.


Sesudah mereka pergi Radita memesan lagi minuman yang sama.


"Tuan sudah banyak minum nanti mabuk," kata waitress yang melayani.


Radita tak peduli. Dia menuangkan botol minuman itu ke gelas kecil lalu ditenggaknya dalam satu kali tegukan. Ketika dia menuangkan sekali lagi minuman itu ke gelas, seseorang menahannya dengan memegangi tangannya.


"Hanna!"


Radita memandang wajah wanita cantik yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Sedangkan waitress yang tadi melayani sudah pergi.


"Kenapa belum pulang, Mas. Kasihan Bude di rumah sendirian," kata wanita bermata biru itu lembut.


Radita tidak menjawab. Dia malah teringat Cytra yang masih ada masalah dengan wanita cantik di depannya itu.


"Kemana saja kamu. Tidak pernah ke rumah lagi?" tanya Radita berbasa-basi.


"Baru seminggu yang lalu saya dari sana. Mas masih di luar jadi tidak melihat," kata Hanna tersenyum manis.


"Oh, ya ya."


"Kenapa Mas minum-minum sampai banyak begini. Tidak baik untuk kesehatan," Hanna menasihati.


"Itu bekas punya teman-teman tadi baru dari sini."


"Kenapa Tuan tidak ikut pulang. Tuan menunggu siapa? Tuan masih ada masalah ya dengan Bude Vio?" Ceriwis sekali Hanna seperti menginterogasi Radita.


"Tidak ada apa-apa kok saya dengan Vio. Saya kesini karena pingin cari hiburan saja," jawab Radita berbohong. Padahal dia datangi tempat hiburan malam itu karena sedang kesal kepada Vionita.

__ADS_1


"Baiklah aku temani mau kan?" Hanna mulai merayu.


Radita sebenarnya masih terngiang dengan cerita Radita bahwa Hanna telah mencelakakannya. Perasaannya menjadi ikut tidak suka kepada wanita perayu itu. Tapi disisi lain dia masih enggan pulang ke rumah. Masih ingin melampiaskan kekesalannya pada istrinya di klub itu.


"Kau mau minum apa silahkan pesan sendiri," ucap Radita sambil menenggak lagi minuman yang ia tuangkan di gelas kecil. Padahal kepalanya sudah pusing berputar-putar.


"Sudah tidak perlu aku sudah minum tadi," Hanna menolak halus.


"Kamu dengan siapa tadi kesini?" tanya Radita.


"Sama seperti kamu dengan teman-teman. Tapi sudah pada pulang." Hanna berbohong. Padahal dia sengaja mendatangi klub itu sendiri mencari sasaran orang-orang kaya.


Kesempatan itu kemudian digunakan Radita untuk mengorek keterangan tentang kecelakaan yang dialami Cytra.


l


"Kamu kok sering ke indonesia ada bisnis apa?" tanya Radita mulai menyelidik.


"Bude Vio belum cerita ya. Aku ini sebenarnya sedang mencari kekasihku. Dia berjanji mau menikahi tapi belum terlaksana malah lari ke Indonesia," kata Hanna dengan manisnya.


"Rupanya kamu sudah punya calon suami?" tanya Radita.


"Iya, Tuan. Tapi gagal gara-gara Cytra!" keluh Hanna.


Radita tidak senang Cytra dituduh sebagai penyebab gagalnya pernikahannya.


"Memangnya Cytra berbuat apa?" tanya Radita.


"Dia merebut calon suamiku. Bangsat itu begitu mudahnya merayunya. Dasar wanita pelakor yang tidak bosan-bosannya mengganggu hak milik orang lain," cerita Hanna dengan perasaan jengkel.


Radita tidak langsung menanggapi. Ia pegang kepalanya sendiri. Pusing. Kenapa wanita ini juga tidak suka kepada Cytra. Sama seperti Vionita.


"Lalu apa yang kau lakukan pada Cytra?"


"Ingin aku membunuhnya. Dan hampir saja dia mati karena kecelakaan mobil. Tapi umurnya masih panjang karena hanya luka ringan saja."


Kini jelas sudah kenapa Cytra mencari Hanna.


"Tapi apakah benar Cytra berbuat seperti yang dituduhkannya," gumam Radita.


"Kalau kata-katamu itu benar. Apa kamu berani saya pertemukan dengan Cytra," tantang Radita.


Karena kebetulan Cytra juga sedang kepingin bertemu dengan wanita misterius itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2