
"Huh!"
Cytra tidak yakin bila yang mengantar Putra pulang adalah orangtua temannya.
Bisa jadi Ibra yang kali pertama kali menemukan Putra keluar dari klas karena dipulangkan lebih awal.
Putra anak yang genius tidak mungkin mau ikut orang yang tidak dikenalnya. Ketika para pengawalnya dan babysitter tidak dilihatnya, maka pilihan terakhir yang diminta mengantarnya pulang adalah Ibra.
Tapi lebih jelasnya Putra yang tahu. Siapa yang mengantarnya pulang.
Cytra belum ingin keluar dari kamar. Dongkol sekali dia melihat sikap Radita tadi. Seolah tidak merasa bersalah. Padahal dia yang membuat acara tidak bermutu itu. Menunjukan kemesraan di depan anak, agar anak melihatnya senang lalu akan disuruh mengakuinya sebagai pasangan orangtua yang cocok?
"Mbelkedes!"
Anak-anak memang tidak paham, siapa yang membuat mereka berpisah dengan mamanya sampai beberapa tahun. Untungnya sekarang Putra dan Sanjaya masih tetap mengakuinya sebagai mama. Bagaimana seandainya ceritanya dibalik. Cytra dituduh sebagai ibu yang tidak bertanggung jawab. Melalaikan tugas sebagai orangtua. Pasti anak-anak itu tidak mau menganggapnya lagi sebagai mamanya.
"Cytraaa!" suara teriakan itu terdengar di depan pintu.
Itu suara Radita. Suara teriakan yang khas bila sedang marah atau dongkol karena keinginannya tidak dipenuhi.
"Memang mirip seperti anak-anak duda keren itu sekarang," gumamnya.
Cytra tidak menyahut panggilan Radita. Malah pura-pura tidur terlentang dengan mengenakan gaun transparan. Sehingga pakaian dalamnya sangat terlihat jelas.
Sengaja ia melakukan itu. Biasanya sebesar apa pun kemarahan yang ada, bila melihat wanita bugil pasti langsung mereda. Disamping itu Cytra ingin melihat sejauh mana Radita ingin memilikinya secara syah menurut hukum dan aturan yang ada.
Sreeet! terdengar pintu kamar terbuka.
"Ciiikh.." teriakan yang kesekian kalinya itu tak sampai lengkap menyebut nama Cytra.
Cytra tetap tenang pura-pura terlelap tidur telentang dengan gaun tipis yang sangat seksi dan menggairahkan.
Radita menutup pintu kamar dan menguncinya. Kali ini sikapnya kebalikannya dari tadi. Jika tadi marah ingin mendamprat Cytra, kali ini terlihat sangat halus. Bahkan menutup pintu pun sampai tidak terdengar sama sekali.
Glekh!
"Sangat indah sekali! Baru kali ini aku melihat tubuh wanita begitu sempurna!" Radita mendekat ke tempat tidur dengan langkah halus.
__ADS_1
Lalu setelah sampai di tepi ranjang, panorama indah di depannya ingin sekali ia sentuh.
Tangannya gemetar maju ke depan. Semakin dekat ke tubuh indah itu semakin gemetar tangan yang sudah menjulur kaku itu.
Tetapi tiba-tiba tangan itu berbelok arah menuju ke selimut di ujung kaki Cytra. Sudut selimut itu lalu ditarik ke atas menutupi tubuh Cytra sampai ke dada.
Cytra terlihat membuka matanya. Dan pura-pura kaget melihat Radita sudah berada di sampingnya.
"Kamu mau apa, Dit. Ingat kita belum bisa bersetubuh, kita belum menikah," kata Cytra sambil menarik selimut sampai ke lehernya. Sehingga kini hanya terlihat wajahnya saja.
"Tu-tubuhmu... tadi terbuka penuh... Lalu kututup dengan selimut," jawab Radita gugup.
"Bohong! Kau pasti akan meniduriku," Cytra ingin melihat reaksi Radita. Apakah masih marah-marah seperti tadi.
"Lelaki mana yang tidak tergiur melihat tubuh yang sempurna telentang di ranjang. Tapi...."
"Tapi apa??"
"Memang hasratku tadi hampir tak terkendalikan. Tapi aku ingat kata-katamu. Bahwa pacaran kita harus dilandasi sikap orangtua. Mau apa-apa harus dipikir dulu masak-masak."
"Iya, itu baik. Tapi ada apa tadi sampai kamu berteriak-teriak memanggilku sampai kamu masuk ke kamarku. Apakah kalau mau bicara tidak bisa di luar kamar saja."
"Ya, bisa sih. Tapi sekarang aku sudah masuk ke kamarmu. Apaķah kamu tega mengusirku keluar hanya untuk ngobrol sebentar."
Cytra ingin terus menguji sedalam mana kesadaran Radita mencintainya. Ini penting sebelum Cytra sepakat bulat diperistri oleh Radita. Karena Cytra bukan gadis lagi. Tapi kini telah dua kali menjadi janda.
"Kalau niatnya kamu cuma mau mengobrol tidak masalah. Tapi saya kan tidak tahu isi hatimu. Apakah cuma mau ngobrol saja apa mencari kesempatan dalam kesempitan."
"Sungguh, Cy. Saya tadinya cuma mau bicara saja soal siapa yang mengantar pulang Putra. Tapi naluriyah lelaki pasti akan terkesima melihat tubuh indah wanita telentang di depan mata."
"Jadi kamu tadi sudah melihat tubuhku secara utuh!" teriak Citra sambil merapatkan lagi selimutnya walaupun sudah menutup rapat tubuhnya yang bugil.
"Maaf, aku melihatnya."
"Iiih! Jahat kamu!" seru Cytra mencubit lengan Radita. Tapi sesungguhnya dia senang melihat perkembangan psikologis Radita yang jauh lebih sporif dari sebelumnya.
"Ya, dimaklumi dong. Bukankah nantinya kita menjadi suami istri. Kali ini aku nyicil menikmati tubuhmu dengan mata dulu saja," kata Radita mengajak bergurau.
__ADS_1
Cytra kembali merasakan perubahan sikap dari yang kaku, mudah marah kini menjadi lunak dan menyenangkan dalam diri Radita.
"Kalau kamu masuk ke kamarku bukan untuk hal yang negatif itu, lalu mau apa?" tanya Cytra ingin menguji lagi sikap Radita.
"Aku mau membicarakan soal orang yang mengantar Putra pulang dari sekolah."
"Apakah perlu kita ketahui?" tanya Cytra pura-pura belum punya jawaban tentang itu.
Menurut perkiraan Cytra sendiri yang mengantar Putra pulang adalah Ibra. Perkiraan itu sangat mendekati kenyataan karena kesaksian Jenet melihat Ibra jalan di depan sekolahan pada saat kelas satu belum dibubarkan.
"Menurutku perlu karena aku takut orang yang mengantarnya punya maksud tertentu," Radita mengira-kira.
"Punya maksud tertentu bagaimana? Maksudmu dia mau minta tebusan atau upah mengantar anak sudah sampai di rumah dengan selamat?"
"Bukan, bukan itu maksudku," jawab Radita tapi diam sebentar seperti sedang menata kalimat berikutnya.
"Aku menduga orang yang mengantar Putra punya target untuk mendapatkan kamu. Aku tahu kamu itu sekarang ini telah menjadi primadona dalam kalangan pengusaha. Disamping memiliki aset kekayaan yang berjibun juga cantik mempesona."
Cytra sangat menyadari posisi dirinya sekarang ini seperti apa yang dikatakan Radita. Dan salah satu orang yang sedang memburunya adalah Ibra. Tapi ia tak mungkin mengatakan hal itu kepada Radita.
"Terus saya harus bagaimana? Kamu sih cari gara-gara saja," kata Cytra mengalihķan perhatian Radita.
"Cari gara-gara bagaimana? Bukankah kamu juga setuju kita yang menjemput anak-anak pulang. Ternyata ada orang lain yang menjemputnya, yang cuma cari perhatian dari kamu."
Cytra tersenyum manis.
"Ya saya setuju karena aku kira kamu mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang. Ternyata kurang perhitungan kalau Putra pulang lebih awal."
"Sudalah tidak perlu diperpanjang lagi urusannya. Bila tiba saatnya nanti, mereka akan bisa menilai sendiri terhadap kita. Cocok atau tidak menjadi Papa dan Mama."
Cytra tersenyum manis lagi.
Rupanya itu yang membuat Radita marah karena cemburu hingga berteriak-teriak memanggilnya dan masuk ke kamarnya.
Tapi sebenarnya Cytra sempat kesal. Sudah dua kali Radita membuat masalah. Pertama, di Bali Citra tidak ingin membawa anak-anak karena ada urusan pekerjaan. Tapi Radita minta membawa anak-anak. Akhirnya Putra dan Sanjaya hilang dari kamar hotel. Kedua kejadian hari ini, Cytra kembali lagi dipusingkan dengan Putra yang pulang ke rumah dengan orang yang belum diketahui.
Bersambung
__ADS_1