
Kegiatan rutin Cytra setiap pagi adalah berolahraga. Disaat sibuk atau senggang pokoknya badan harus bergerak dan berkeringat serta jantung terpompa dengan bagus. Setelah keringat kering dia baru mandi sehingga terasa segar bugar.
Begitu pun pada pagi yang agak redup itu. Dengan wajah bersinar berseri, Cytra keluar dari kamarnya melangkah ke meja makan.
Anak-anak telah berangkat sekolah kembali dengan tetap dikawal bodyguard. Cytra dan Radita tidak mau mengambil resiko sekecil apa pun walaupun teror sudah tidak muncul lagi.
"Wajah kamu nampak segar sekali pagi ini," ucap Radita sambil mengambil dua lembar roti bakar yang sudah tersedia di meja makan. Termasuk ada pula telur rebus dan susu hangat.
"Ini manfaat selalu olahraga rutin pada pagi hari. Beda dengan kamu yang jarang berolahraga," ujar Cytra sambil mengunyah roti bakar pelan-pelan.
"Emang wajahku kenapa?" tanya Radita.
"Kelihatan kusut seperti kurang tidur."
"Iya sudah lama aku tidak olahraga. Karena tidak ada waktu luang."
"Dibiasakan rutin nanti tidak terasa berat untuk melakukannya."
"Memang manfaatnya besar kalau rutin berolahraga. Badan menjadi segar dan pikiran jernih tidak sumpek."
"Apa perasaanmu masih sumpek, masih ingat soal firasat buruk kemarin?"
"Perasaanku nyaman sih kalau kau dampingi terus seperti ini," kata Radita merayu.
Cytra tahu kalau dari sorot matanya Radita sudah ingin melakukan hubungan intim dengannya. Tetapi ia tidak menanggapinya. Hanya tersenyum manis.
"Kita ini sudah sama-sama dewasa, Dit. Tidak seperti lima sepuluh tahun yang lalu. Yang hanya mengedepankan emosi dan ambisi saja," kata Cytra kemudian.
"Perkembangan diri kamu memang sangat pesat. Aku kalah dengan kamu. Seandainya dulu kau sudah seperti ini, mungkin Putra dan Sanjaya tidak akan berpisah beberapa tahun dengan kamu."
"Itulah kehidupan. Waktu itu aku memang sangat berambisi menjadi diva. Tidak tahunya malah terjerumus di bidang bisnis."
"Aku minta maaf kalau sikapku dulu terlalu kasar kepadamu," Radita ingat waktu itu sampai meminta Cytra pergi dari rumahnya apabila masih tetap mau menyanyi di cafe.
"Itu sudah merupakan garis Tuhan. Kalau kamu tidak kasar dan aku tidak pergi dari rumah ini ceritanya akan lain lagi sekarang ini," Cytra menyadari saat itu memang sangat berambisi menjadi diva.
"Waktu itu kita memang tidak tahu apa yang bakal terjadi sekarang ini. Apakah kamu tahu kita yang dulu sebagai anak dan ibu sekarang menjadi sepasang kekasih."
"Idiih! Sepasang kekasih. Kayak cerita remaja saja. Kita sudah bukan remaja lagi, Dit," ledek Cytra.
__ADS_1
"Ya, aku tahu sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Maka pacaran kita harus dewasa."
"Kalau pacarannya seperti orang dewasa malah kesannya negatif. Yang tepat seperti orangtua. Mau apa-apa harus dipikir panjang. Tidak grusa grusu menurut orang Jawa."
"Memangnya kamu belum pingin berhubungan intim sekarang ini?" tanya Radita penuh hasrat.
"Belum, ah! Kita belum menjadi suami istri. Kamu sebagai anak jangan kurang ajar kepada ibumu ini," kilah Cytra agak ketus.
"Kamu kok ngomongnya begitu, sih. Apakah menurutmu janggal aku mencintaimu?" Radita merasa jengah kepada Cytra.
"Tidak, tidak janggal. Usia kita kan sebaya pantas kalau nanti menikah. Biarkan saja nanti kalau ada orang bilang bekas anak dan ibu kok menikah," Cytra berusaha menetralisir perasaan Radita.
"Aku sih sudah siap bila nanti orang lain berkata begitu. Karena kamu memang pantas aku cintai dan kagumi. Kalau kamu bagaimana memandang persoalan pribadi kita ini?"
"Saya tidak mempersoalkan orang lain berkata apa. Yang penting kalau kita sudah siap menikah, siap menghadapi tantangan kehidupan yang akan datang, termasuk membesarkan Putra dan Sanjaya, tidak perlu memikirkan lagi orang lain berkata pantas atau tidak," papar Cytra mengungkapkan perasaannya.
"Terimakasih, Cy. Saya bertambah yakin menjadikan kau sebagai istriku," kata Radita sambil meraih kedua tangan Cytra lalu digenggamnya penuh perasaan.
Masih tetap duduk di depan meja makan itu mereka kemudian saling mengungkapkan perasaan cintanya masing-masing.
"Mau kemana, Cy?" tanya Radita karena tiba-tiba Cytra berdiri melangkah meninggalkan meja makan.
"Hai! Kamu mau apa, Dit?" teriak Cytra halus.
"Aku sudah tak sabar lagi merasakan cintamu."
"Jangan, Dit. Lihat itu para asisten rumah tangga pada ngliatin kita," Cytra menoleh ke sekitarnya.
"Mana tidak ada. Mereka pada di belakang sedang sibuk," Radita membalikan tubuh Cytra menghadap kepadanya.
Cytra juga sebenarnya merasakan dadanya bergetar, menandakan terbit perasaan ingin bercinta. Tetapi ia tahan kuat-kuat agar tidak jebol. Wajahnya ditundukan tidak berani memandang wajah Radita yang mirip-mirip suaminya dulu.
Radita lalu mengangkat dagu Cytra agar wajahnya mendongak. Lalu ia ***** bibir indah itu dengan penuh nafsu. Sambil bertahan Cytra merasakan sebentar kehangatan pelukan dan ciuman dari Radita.
Ketika Radita hendak meningkat ke permainan lebi dalam lagi, spontan Cytra mendorong dada Radita dan ia pun mundur beberapa inci.
"Maaf, kamu lupa apa acara kita hari ini," kata Cytra menyadarkan hasrat Radita yang sudah sampai ke ubun-ubun. Ia ingat hari itu akan menjemput anak pulang sekolah.
"Sudah tidak perlu memikirkan yang lain. Kita teruskan saja di kamar mumpung anak-anak belum pulang," rayu Radita.
__ADS_1
"Waduh! Kamu sudah tidak tahan lagi, ya. Tapi maaf, Dit. Sebaiknya jangan lakukan itu. Kita harus bersabar sampai waktunya nanti tiba," Cytra memohon.
Radita akhirnya melepaskan pelukannya. Cytra memandangnya penuh kasihan. Lalu ia mendekap lagi Radita.
"Jangan kecewa dulu. Saat ini aku juga ingin melakukannya. Tapi rasanya tidak etis kalau kita melakukannya sebelum kita syah menjadi suami istri," Cytra berusaha meredam perasaan Radita yang masygul.
"Lalu kapan kita akan menikah. Sekarang aku kan sudah cerai dengan Vika?" tanya Radita.
"Aku perlu minta doa restu dulu kepada Mama. Karena aku masih punya orangtua," jawab Cytra tanpa ingin menolak keinginan Radita itu.
Tapi Radita tersentak mendengar jawaban Cytra. Karena Radita tahu siapa mama Cytra. Bahkan bukan hanya tahu. Tapi Radita pernah pacaran dengan Voinita. "Ya, Tuhan betapa rumit sekali kisah cinta aku ini," keluh batin Radita.
Cytra tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Radita. Dan ia biarkan Radita melangkah ke sofa dan menyandarkan badannya disana.
"Kamu tidak perlu takut bertemu Vionita. Dia orang baik dan pemaaf. Pasti hubungan kita akan direstui," ujar Cytra sambil duduk di samping Radita.
"Tapi aku malu. Malu sekali kalau bertemu dengan mamamu," Mimik muka Radita nampak tertekan.
"Kenapa malu. Akui saja bahwa kamu dulu pernah mencintai mamaku dan hampir menikahinya. Tapi karena kamu sadar bahwa hal itu tidak etis, lalu kamu batalkan untuk menikah dengannya," kata Cytra manasihati.
"Aku tidak mungkin tega bertemu dengannya. Aku yang telah membuatnya menderita. Sebenarnya dia tidak mau. Tapi aku terus merayunya untuk menjadi istriku. Ketika dia mau malah aku meninggalkannya," kata Radita merasa bersalah.
"Sebenarnya akulah penyebab dari semuanya. Seandainya cintaku tidak liar, menabrak batas-batas etika, tidak akan pernah terjadi kisah kita yang rumit sekarang ini," ungkap Cytra mengenang masa lalunya.
"Bukan, bukan salahmu, Cy. Papa yang bersalah membuat kamu fly sehingga terjadilah hubungan intim dengannya. Sedangkan aku sebenarnya cuma kasihan melihat mamamu ditelantarkan begitu saja oleh Papa. Dari rasa kasihan itu kemudian terbit rasa cintaku kepadanya."
"Kalau menurutku aku yang salah. Kenapa kemudian aku mencintai papamu disaat masih beristrikan Mama," kata Cytra dengan mimik sedih. Dia teringat bagaimana terpukulnya Vionita ketika tahu Cytra sudah berhubungan intim dengan Samyokgie.
"Sudahlah! Jangan kita teruskan bicara kisah yang sudah usang itu. Nanti bisa mempengaruhi hubungan kita," kata Radita sambil membelai rambut Cytra.
"Setelah kita ingat sejarah keluarga, apakah kamu masih ingin menggauliku sakarang?" tanya Cytra.
Radita cuma tersenyum. Tidak tertarik menanggapinya.
"Benar katamu, Cy. Bahwa pacaran kita memang harus seperti orang tua. Mau apa-apa harus dipikir panjang dulu," tukas Radita.
Setelah itu mereka kemudian pergi keluar untuk menjemput Putra dan Sanjaya di sekolah. Mereka sedang merencanakan misi memikat hati anak-anak itu, agar setuju kalau mereka menikah.
Bersambung
__ADS_1