
Suasana di ruang tamu rumah dokter Sifa sangat tegang, tidak ada yang bersuara, hanya suara deru nafas Sam yang terdengar sangat memburu menandakan emosinya sedang tinggi, Davian menatap nanar dokter Sifa dan dokter Ferry secara bergantian.
"Maaf Dav." suara dokter Ferry memecah keheningan.
Davian melirik ke arah dokter Ferry, sedangkan Sam menatap tajam dokter Ferry sambil berkata
"Tidak ada yang menyuruhmu bicara!" dengan suara pelan Sam berbicara tapi langsung membuat dokter Ferry terdiam dan menunduk.
"Bicaralah." ucap Davian menatap dokter Ferry.
"Sifa dulu kekasih ku." ucap dokter Ferry sambil menatap dokter Sifa.
"Lalu?" jawab Davian dengan nada tenang.
"Kami berpisah karena suatu kesalah pahaman." dokter Ferry berhenti sejenak melihat wajah Davian, Davian mengangguk menyuruh dokter Ferry melanjutkan ceritanya.
"Aku melanjutkan pendidikan di luar negeri, awalnya Sifa menolak tapi aku tetap memaksa hingga akhirnya Sifa mengijinkan, awalnya hubungan kami baik baik saja sampai suatu ketika Sifa menghilang tanpa kabar." dokter Sifa mulai mengangkat kepalanya setelah mengetahui bahwa Davian bersikap tenang.
__ADS_1
"Aku terus mencari Sifa, ketika libur aku pulang untuk mencarinya tapi tidak pernah menemukannya, hingga akhirnya kami bertemu di rumah sakit." dokter Ferry berusaha setenang mungkin dalam bercerita, dia cukup takut melihat mimik wajah Sam yang menatapnya tajam.
"Bagaimana dengan mu Sifa?" tanya Davian kepada dokter Sifa.
Dokter Sifa hanya menggeleng kan kepalanya, dia belum sanggup untuk berbicara apa pun kepada Davian.
"Tidak ada kata berpisah ketika Sifa pergi, aku terus berusaha menjelaskan kepada Sifa setelah kita bertemu, tapi Sifa selalu menghindar." lanjut dokter Ferry.
"Sampai akhirnya aku datang dan meminta Sifa menjadi kekasihku." ucap Davian sambil bersender di sofa ruang tamu dokter Sifa.
"Ya, dan aku hanya meminta kepastian apakah aku akan tetap menunggu atau aku harus pergi." jawab dokter Ferry atas ucapan Davian.
"Kenapa kamu tidak cerita dari awal." ucap Davian menatap dokter Sifa.
"Bukankah sebelumnya kita telah berjanji untuk saling terbuka dan mendengarkan satu sama lain." bujuk Davian agar dokter Sifa mau berbicara.
Dokter Sifa menghapus air mata yang mengalir di pipinya, dia menatap Davian dan dokter Ferry secara bergantian.
__ADS_1
"Tidak mudah melupakan Ferry." ucap dokter Sifa yang kini sudah mulai bisa menguasai dirinya.
"Sampai kamu datang Dav, awalnya aku nyaman dekat dengan mu karena semua perhatian mu." lanjut dokter Sifa.
"Aku bisa melupakan Ferry saat di dekatmu Dav." dokter Sifa menatap Davian yang tersenyum dingin, senyum yang biasanya terlihat sangat meneduhkan bagi dokter Sifa kali ini terlihat sangat mengerikan.
"Baiklah aku sudah mengerti maksud mu Sifa." ucap Davian masih terus tersenyum.
"Aku tidak akan mengatakan kamu jahat karena menjadikan ku sebagai pelarian." Davian berhenti sejenak untuk mengambil nafas, dia sangat berat untuk mengatakannya, dia mencintai Sifa lebih dari rasa cintanya dulu pada Andini.
"Kembalilah pada cinta lama mu, jangan selalu bersembunyi di belakang senyuman semu yang kamu berikan kepadaku." ucap Davian sambil berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu dokter Sifa.
Davian berjalan keluar, Sam mengikuti dari belakang, dokter Sifa berniat mengejar Davian tapi di halangi oleh Sam.
"Jangan buat Davian menjadi orang yang akan membuat mu menyesal telah mengenal nya, dia sudah sangat baik dengan membiarkan mu kembali padanya." ucap Sam sembari menunjuk dokter Ferry.
"Sampaikan maaf ku padanya Sam, sungguh tak ada niat aku menyakiti nya." ucap dokter Sifa dengan terisak.
__ADS_1
Sam mengangguk
"Ingat satu pesan ku dokter, menjauhlah sejauh mungkin jangan pernah muncul lagi di depan Davian setelah ini, dia akan menjadi orang lain di depan mu jika kamu bertemu dengannya lagi." ucap Sam kemudian berlalu menuju mobil yang sudah ada Davian di dalamnya.