
Suasana di dalam rumah menjadi sejuk seperti dinginnya angin malam yang bertiup di luar rumah. Vionita dan Radita tidak lagi bersitegang mempersoalkan serbuk perangsang dan cinta mereka berdua.
Mereka sekarang telah berada di dalam satu kesepakatan untuk saling mencintai dan menyayangi.
Di dalam kamar dengan lampu yang redup itu Vionita menaburkan wewangian ke seluruh ruangan. Seolah akan dimulainya prosesi percumbuan seorang raja dan permaisurinya.
"Sekarang kau minum kopi ini, Sayang. Aku juga akan meminumnya. Agar malam ini kita sama-sama bergairah," kata Vionita dengan duduk dipangku suaminya.
Radita mengambil cangkir putih berhias bunga biru dan merah yang berisi kopi yang hampir dingin dari tangan istrinya. Kopi itu terlalu lama tergeletak di atas meja selama mereka bersitegang dan bersilat lidah saling mengeluarkan pendapat dan harapan.
Diteguknya kopi itu dua kali. Lalu sisanya diberikan kepada Vionita yang juga meneguknya dua kali. Setelah itu mereka ngobrol lagi sebelum serbuk perangsang itu merambat ke urat saraf dan otot-otot mereka secara perlahan.
Setelah pengaruh serbuk maut itu sampai ke puncaknya, Radita melepaskan kancing baju Vionita satu persatu dengan tatapan mata penuh gairah.
Vionita tersenyum manis berbaring di ranjang. Lebih manis dari biasanya. Hatinya bersorak gembira. Radita yang semula ia bayangkan sulit untuk ditaklukan seperti Papanya dulu, ternyata yang terjadi relatif mudah. Tidak perlu butuh perjuangan panjang. Mimpi besarnya untuk menjadi Nyonya Besar di rumah besar seperti istana itu seketika melambung dibenaknya.
"Ya, Tuhan aku ingin malam ini menjadi malam yang bersejarah bagi kami. Sejarah dimulainya perjalanan untuk meraih mimpi besarku mendapatkan keturunan dari Radita Bin Samyogie," doa Vionita dalam hati.
Selesai Vionita berdoa Radita selesai pula membuka kancing bajunya. Sengaja ia biarkan dada Vionita terbuka. Ingin ia nikmati dulu dengan matanya keindahan buah dada itu.
Lalu Radita sentuh barang itu dengan penuh semangat. Vionita merasakan kedua telapak tangan suaminya yang hangat menari-nari disana. Seperti membuat adonan kuwe tangan jahil itu terus bergerak. Membuat Vionita merem melek menikmatinya.
Vionita tidak cuma diam. Pada awal permainan yang hangat itu kedua tangannya bergerak maju. Mengusap wajah Radita beberapa kali. Lalu menekan tengkuknya dengan halus ketika bibir mereka bertemu dan saling *******.
Vionita tidak ingin buru-buru di malam bersejarah itu. Ia ingin suaminya dalam posisi yang sempurna untuk melancarkan benih unggul di dalam rahimnya.
Maka tangan Vionita tak berhenti merangsang semua saraf suaminya agar tembakan yang dilancarkan benar-benar berisi sampai ke sel telur yang sudah siap dibuahi.
Radita tidak tahu apa yang sedang diinginkan oleh Vionita. Ia mengikuti saja apa yang dilakukan istrinya. Dan ternyata kopi yang ditaburi serbuk perangsang itu tidak hanya meningkatkan gairah. Tetapi juga mengencangkan saraf inti. Hingga akhirnya ia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika tembakan itu terjadi.
Thes! Thes! Thes!
Tiga kali tembakan itu berlangsung dengan serunya. Tiga kali pula rahim Vionita terasa bergetar. Seperti teraliri listrik 12 volt. Sampai tak tak sadar ia menggigit bibirnya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Radita mengerang kemudian jatuh lemas di samping Vionita.
"Yaang...," lenguh Vionita dengan mata masih terpejam.
Radita cuma berdehem kecil belum bisa berkata-kata.
"Aku ingin sekali lagi seperti yang barusan, Sayang," ucap Vionita dengan tetap berbaring di samping suaminya.
"Ramuanmu benar-benar luar biasa!" Radita mulai bisa bicara dengan suara serak.
"Masih bisa sekali lagi, kan?" bujuk Vionita dengan halus.
"Sudah ah besok pagi saja," jawab Radita dengan nafas yang masih terengah pelan.
"Aku berharap benih yang kau tanamkan akan menjadi anak yang tampan seperti dirimu," rayu Vionita.
"Saya juga pingin. Tapi saya yakin tadi sudah cukup untuk membuahi sel telurmu," ucap Radita mengagetkan Vionita.
"Kau tidak pingin kuperlakukan seperti Papa memperlakukanmu dulu, kan?"
"Sudah jangan bicara itu lagi aku trauma. Sekarang saya percaya bahwa kau memang mencintaiku. Benar-benar ingin menjadikanku sebagai istrimu yang utuh," kata Vionita dengan mimik wajah yang gembira.
Vionita merasa malam ini adalah malam yang bersejarah. Sejarah dimulainya perjalanan kehidupannya kelak. Kehidupan yang tentunya jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dia iri kepada Cytra yang kini bisa hidup mewah. Menjadi lady boss dengan mengelola sejumlah perusahaan. Kenapa dia tidak bisa seperti itu. Sekaranglah kesempatan untuk merubah hidupnya. Salah satu jalan untuk menggapai angan-angannya itu adalah harus punya anak dari Radita.
Usaha dan doa Vionita malam itu dan malam-malam berikutnya, baru menunjukkan hasilnya setahun kemudian. Dia melahirkan anak perempuan yang cantik dan sehat.
Rumah besar seperti istana itu kini ramai oleh tangisan dan tawa anak Vionita. Radita ikut senang atas kehadiran machluk kecil di rumahnya itu. Tapi ada sesuatu yang masih membuatnya belum puas.
Radita menginginkan anak yang lahir adalah anak laki-laki. Karena bisa menjadi pewaris kekayaan mendiang Papanya. Dalam surat wasiat yang ditulis oleh almarhum Papanya, anak perempuan tidak berhak mengelola perusahaan.
Dalam surat wasiat itu tertulis sudah ada tiga nama yang berhak mengelola dan memiliki perusahaan. Yaitu Radita, Putra dan Sanjaya. Mereka semuanya adalah anak laki-laki Samyokgie dari ibu yang berbeda.
__ADS_1
Ditulis juga dalam surat wasiat itu, jika anak laki-laki mempunya anak laki-laki maka bisa dicantumkan sebagai ahli waris berikutnya. Namun bila yang lahir adalah anak perempuan tidak berhak mengelola dan memiliki perusahaan. Anak perempuan hanya akan mendapatkan penghasilan dari pemberian anak laki-laki.
Tidak ada yang tahu kenapa almarhum Samyokgie membuat surat wasiat yang merugikan anak perempuan. Radita belum sempat mencari tahu. Kehidupan Samyokgie dulu memang kurang menghargai wanita kecuali istrinya Agustin. Vionita yang sempat menjadi istrinya juga tak seberapa mendapatkan dari Samyokgie. Begitu juga Cytra. Tetapi dua anak Cytra yang semuanya laki-laki tercantumkan sebagai pewaris kekayaan perusahaan besar miliknya.
Vionita belum mengetahui perihal surat wasiat tentang warisan Samyokgie. Radita masih merahasiakan hal itu. Apalagi Vionita sedang senang-senangnya memiliki anak perempuan yang cantik. Bisa mengganggu kebahagiannya kalau surat wasiat itu diungkapkan.
"Cantik tidak anak kita, Pah?" ucap Vionita menunjukan bayi mungil di gendongannya kepada Radita.
"Cantik dong seperti Mamanya," kata Radita.
"Cantik mana sih Putri sama Mama, Pah?" tanya Vionita lagi.
"Ya cantik Putri ya, Put," Radita meledek sambil mencubit pipi anaknya yang belum bisa bicara itu.
"Ya jelas dong. Putri kan anak istri Papa yang cantik."
"Coba kalau dia laki-laki pasti ganteng seperti Papa."
"Papa lebih suka anak laki-laki ya?" tanya Vionita mengagetkan Radita.
"Iya, sih," jawab Radita pendek.
"Apa alasannya?"
Radita ingin jelaskan alasannya yang berkaitan dengan surat wasiat itu. Tapi ia pikir belum saatnya Vionita tahu mengenai hal itu.
"Sepertinya Papa kok menyembunyikan sesuatu kepada Putri?" tanya Vionita lebih menggelitik ke soal yang sedang dipikirkan Radita.
"Nanti saja kalau Putri sudah besar saya jelaskan ya."
Jawaban Radita justru menambah penasaran Vionita. Ingin ia tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya itu.
Bersambung
__ADS_1