WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 142. Soal Serbuk Perangsang


__ADS_3

"Antar sekarang aku ke rumah sakit kalau benar dia sakit," kata Vionita seperti ingin menguji kebenaran informasi suaminya.


"Ini sudah malam jam bezuk sudah tidak ada. Dan saya baru saja dari sana. Rasanya malas kesana lagi," jawab Radita tenang.


"Masih bisa kalau bilang ke resepsionis bahwa kita keluarganya, orangtuanya," Vionita memaksa.


"Tidak bisa. Di bilang tidak bisa kok. Capek aku," jawab Radita.


"Tuh! Ketahuan bohongnya kan? Kenapa tidak mau mengantar ke rumah sakit. Berarti kamu bohongi aku kalau Cytra sebenarnya tidak sakit, kan? Kamu cuma berada di rumahnya dari pagi sampai sore. Sungguh tidak bisa kubayangkan apa yang terjadi sepanjang waktu itu," seperti senjata mesin tuduhan Vionita meluncur deras.


"Kenapa kamu sekarang kelihatan peduli padanya. Mau bezoek segala. Padahal kemarin-kemarin kamu tidak pernah memikirkan Cytra. Apakah dia kecewa, sakit hati atau hancur hidupnya akibat ulahmu," Radita melarikan ke topik utama yang ingin ia bongkar.


"Bukan ulahku sendiri tapi ulah kita dong. Kita kan melakukan bersama-sama. Malah kamu begitu bernafsu menggauliku," Vionita tidak mau dijadikan sebagai pemantik dalam insiden itu.


Padahal menurut Radita insiden persetubuhan itu dipicu serbuk perangsang yang dimasukan oleh Vionita ke dalam kopi Radita. Tante Mira juga menduga begitu. Bahkan sudah ditemukan bukti adanya sisa serbuk perangsang di laci kamar Vionita.


Tapi Radita mau menanyakan hal itu langsung kepada Cytra tidak enak. Bisa tersinggung dia merasa seperti seorang janda yang kegatalan.


"Tapi kenapa waktu itu kamu mau kugauli kalau kejadian itu bukan karena ulahmu," hanya itu yang bisa dikatakan Radita. Belum berani menyinggung soal serbuk perangsang.


"Karena saya memang kepingin. Tetapi kalau tidak ada kamu, sayangku, ya mana mungkin akan terjadi," pandai Vionita bersilat lidah.


"Kalau pun ada aku dan aku tidak bernafsu, bisa juga persetubuhan itu tidak terjadi," Radita mengimbangi silat lidah Vionita.


"Tapi nyatanya kamu bernafsu, kan?"


"Iya, saya sangat bernafsu waktu itu karena...," Radita tidak melanjutkan kalimatnya.


"Karena apa? Kok tidak diteruskan?"


"Karena waktu itu kamu sangat cantik. Rasa cintaku yang sudah mendekam bertahun-tahun seakan menjadi zombie yang bangkit dari kubur ingin menghirup darah," Radita menjawabnya ngawur.


Tapi Vionita nampak senang. Ia merasa dirinya memang dibutuhkan, bukan sekedar sebagai pelampiasan hawa nafsu Radita belaka.

__ADS_1


"Saya juga waktu itu lupa segalanya. Karena kau nampak ganteng sekali dan dewasa. Disamping itu ada yang mempengaruhi otakku. Seakan perbuatannya dulu merebut apa yang kumiliki seperti baru kemarin terjadi."


"Apakah waktu itu kau minum obat perangsang sehingga lupa segalanya?" tanya Radita menggelitik agar Vionita ingat dengan serbuk pembawa malapetaka itu.


"Tidak, aku tidak minum obat apa-apa. Begitulah, semangatku saat itu ingin balas dendam kepada Cytra." Pandai Vionita beralasan.


"Pantas saja kamu tidak memikirkan Cytra selama ini. Apakah dia patah hati atau cemburu karena telah kau rebut suaminya."


"Aku mikir sih mikir soal itu. Tapi aku yakin Cytra tidak sampai patah hati. Malah mungkin sekarang dengan kekuatan hatinya ia sudah menyerahkan dirimu sepenuhnya kepadaku."


Radita diam sejenak mengingat kembali sikap Cytra saat bersamanya di rumah sakit. Cytra memang tidak kelihatan patah hati atau masygul. Malah meminta Radita untuk segera pulang."


"Itu kan asumsi pikiranmu sendiri. Belum tentu Cytra berpikiran yang sama denganmu." sanggah Radita.


"Cytra itu bukan wanita yang sulit mencari suami. Jadi soal hubungan kita di rumah Mira waktu itu bukan peristiwa yang terlalu berat baginya," ujar Vionita memfetakompli keadaan pasca insiden itu.


"Kenapa dia lari dan bersembunyi tidak ingin bertemu dengan kita. Itu tandanya bahwa dia shock berat dan sakit hati atas insiden itu bukan?"


"Belum tentu begitu. Karena Cytra sejak dulu bercita-cita punya rumah sendiri yang besar dan hidup bersama anak-anak. Kini berarti dia sudah berhasil mewujudkan cita-citanya."


"Sekarang cita-cita itu memang sudah terwujud. Dia sudah punya rumah besar dan anak-anak betah tinggal di sana. Tetapi saya rasa dia menderita. hanya saja selama ini tidak berteriak alias menutup-nutupi perasaan kecewanya," kata Radita sangat telak menohok perasaan Vionita.


"Malas ah! Ngomongin dia melulu. Gimana bisa tidak mengantar ke rumah sakit?" Kata Vionita kembali kepada keinginannya mengkroscek alasan Radita pulang terlambat.


"Dibilang tidak bisa kok," kesal Radita tidak bisa membuka mulut Vionita mengakui telah memberikan serbuk perangsang ke dalam kopi yang dia minum.


Bagi Radita hal itu sangat penting untuk diketahui. Karena kunci hubungannya dengan Cytra yang hampir mencapai pernikahan, telah rusak berantakan karena soal serbuk itu.


Niatnya waktu itu datang ke rumah Tante Mira adalah untuk minta doa restu Vionita sehubungan dirinya akan menikah dengan anaknya.


"Sudah akui saja kau sudah berhubungan intim dengan Cytra kan tadi disana?" tanya Vionita seperti penyidik.


"Ah! Sebel ngomong sama pendeki. Capek! Aku mau istirahat," Radita berdiri dari kursi meja makan lalu melangkah ke kamarnya.

__ADS_1


"Sebentar! Kita belum selesai bicara," cegah Vionita yang masih penasaran dengan tuduhannya kepada Radita telah berhubungan intim dengan Cytra.


Radita tak peduli. Dia terus melangkah ke kamar. Tapi Vionita menghadangnya dengan mendekap tubuh Radita.


"Kamu pingin main ya. Nanti dulu pemanasan dulu disini," Vionita mendorong tubuh Radita hingga duduk di sofa.


"Kamu sudah tiduri Cytra dengan puas tadi siang. Sekarang aku minta kau tiduri juga," ucap Vionita merayu.


"Aku capek, tidak vit buat main kuda-kudaan," Radita pura-pura beralasan. Padahal dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Vionita.


Akhirnya Radita menurut saja duduk di sofa dengan bersandar.


"Duduk sebentar tak buatkan kopi dulu biar segar kembali." kata Vionita lalu pergi ke dapur.


Inilah kesempatan untuk menangkap basah dia! Pikir Radita. Lalu dengan kaki berjinjit ia melangkah mendekati dapur. Dan berhenti di balik daun pintu.


Dari sela-sela pintu terlihat Vionita menghidupkan kompor dan merebus air sedikit. Setelah itu dia mengambil cangkir di rak, toples kopi serta gula. Kelihatan begitu tenang dia melakukan semua itu.


Sampai disitu tidak ada tingkahnya yang mencurigakan. Begitu pun ketika air panas dituangkan ke cangkir.


Namun setelah itu tiba-tiba Vionita merogoh sesuatu dari saku celananya. Mata Radita melotot memperhatikan. Ternyata ia mengambil botol kecil berisi seperti gula halus.


Radita menahan diri untuk tidak langsung menangkapnya. Ia biarkan Vionita menaburkan serbuk di dalam botol kecil itu ke dalam cangkir kemudian mengaduknya perlahan bercampur dengan kopi panas. Kemudian botol kecil itu dimasukan kembali ke saku celana.


Radita pura-pura tidak tahu apa yang sudah dilakukan istri CBLK-nya itu. Dia duduk betsandar di sofa ketika Vionita datang membawa secangkir kopi hangat yang bisa membuat nafsu birahinya menggelepar-gelepar.


"Ayo diminum, Mas. Mumpung masih panas. Nanti staminamu segar kembali," kata Vionita merayu.


"Kau minum sendiri saja dulu enak tidak rasanya," kata Radita dengan tenang.


"Katanya kecapean tidak kuat main. Ayo diminum nanti staminamu naik ke level atas dan siap bertarung sampai pagi, Vionita merayu lagi.


"Cuma capek sedikit saja kok, sebentar lagi juga vit kok," Radita bertahan tidak mau minum.

__ADS_1


Bersambung


"


__ADS_2