
"Mama akan ceritakan soal Hanna. Tapi saya tidak mau dilibatkan dengan masalahnya. Karena saya hanya mengantar dia saja. Saya tidak tahu kalau dia punya masalah denganmu," kata Vionita.
"Siapa sebenarnya Hanna. Kenapa Mama lebih membela dia daripada aku. Ada apa sebenarnya dengan Mama," tanya Cytra dengan perasaan kecewa.
"Hanna itu hidupnya belum mapan seperti kamu. Dia masih membutuhkan bantuan Mama," jawab Vionita sungguh-sungguh.
"Hanna itu siapa kenapa Mama lebih memikirkan dia daripada aku?" tanya Cytra kesal.
"Dia anak teman seperjuangan Mama dulu. Berangkat mencari kehidupan ke Jakarta bersama. Nyanyi di cafe juga bersama. Sayang umur ibunya tak panjang. Hanna lantas diadopsi oleh orang bule dan dibawa ke Australi," ungkap Vionita.
"Mama tahu dari siapa. Hanna itu pandai mengibul. Mama jangan percaya dengan cerita murahan begitu," Cytra mengingatkan.
"Mama mengalami sendiri bukan cerita orang. Terakhir saya dengar dia aktif di catwalk. Dan beberapa hari yang lalu Mama bertemu lagi dengan dia yang minta tolong diantar ke rumahmu. Sungguh mama tidak tahu kalau dia sedang ada masalah dengan kamu," papar Vionita panjang lebar.
Cytra menyerap cerita Mamanya dengan penuh perasaan. Ada benarnya juga bila Mama berbaik hati dengan Hanna. Karena ternyata dia anak teman seperjuangannya dulu.
"Tapi kenapa Mama membiarkan Hanna mencelakakan saya. Percuma Mama berbaik hati kepada anak teman seperjuangan tapi dengan anak sendiri malah sebaliknya," Cytra mengeluh.
"Kamu memang anak Mama dari bayi, tapi Mama tidak pernah mengandung kamu," Vionita tiba-tiba membuka masa lalu Cytra dengan muka sedih.
Sementara Cytra bagai mendengar bom meledak mendengar pengakuan Vionita. Terbongkar sudah fakta penting itu. Benar apa yang dipikirkan selama ini. Tidak mungkin wanita yang selalu memusuhinya itu adalah orangtuanya sendiri.
"Jadi Mama bukan orangtuaku? Kenapa baru sekarang Mama ceritakan asal usulku.?" kata Cytra dengan sangat sedih.
"Aku tidak tahu siapa orangtuamu. Aku menemukanmu di depan rumah. Dan aku pelihara karena aku ingin punya anak saat itu," cerita Vionita lagi.
Cytra semakin sedih mendengarkannya. Betapa hina ternyata dia lahir ke dunia. Orangtuanya sendiri sampai hati tidak mau mengakui dan membuangnya di depan rumah Vionita.
"Terimakasih Mama mau memelihara anak haram seperti diriku ini sampai besar," kata Cytra pendek karena tak kuat menahan tangisnya yang meledak.
"Inilah yang tidak ingin aku lihat. Maka dari dulu aku tidak mau ceritakan asal-usulmu," kata Vionita. Lalu berusaha menenangkan perasaan Cytra dengan menepuk-nepuk bahunya.
"Sekarang baru aku sadari kenapa Mama tega merebut Radita dari tanganku. Juga tega memusuhiku bersama Hanna," kata Cytra berusaha menenangkan sendiri perasaannya.
"Salah jika kau menuduhku seperti itu. Dari dulu sampai sekarang aku masih menyayangimu seperti anakku sendiri."
__ADS_1
"Aku tidak bisa percaya!"
"Memang kelihatannya aku berbuat jelek. Tapi sebenarnya niatku agar kau tidak melakukan pelanggaran etika dalam pernikahan. Kalau kamu menikah dengan Radita itu berarti kamu menikahi anakmu sendiri. Bukankah hal itu tidak biasa terjadi di masyarakat," Vionita menunjukkan kesalahan Cytra.
"Tapi Radita itu anak tiri," Cytra mendebat.
"Walaupun anak tiri. Masyarakat tahunya bahwa dia adalah anakmu," Vionita bersikukuh.
"Tapi Radita menikah dengan Mama apakah itu tidak lebih melanggar Etika lagi?" Cytra tak mau mengalah dengan menunjukkan kesalahan Mamanya.
"Aku tidak pernah menjadi istri Papanya. Walaupun ada pernikahan tapi itu hanya untuk menyenangkan hati Mamanya yang minta sebelum meninggal agar Samyokgie menikahiku," Vionita membela diri.
"Ah itu cuma alasan pembenaran Mama saja agar Mama bisa menikah dengan Radita!" Cytra tak percaya.
"Kalau kamu tak percaya tanyakan saja pada Radita. Dia tahu dengan jelas bagaimana Papanya memperlakukan saya," Vionita mengelak.
"Tapi Radita saat itu mencintaiku, dan mau menikahiku sebelum Mama datang mempengaruhi hati dan otaknya." Cytra ingin agar Mamanya tahu bagaimana hubungan dirinya dengan Radita saat itu.
"Itu katamu tapi kata Radita lain lagi. Kalau tidak percaya tanyakan saja kepadanya, " masih saja Vionita bisa menyangkal.
"Aku tidak menyembunyikan dia. Dua hari yang lalu dia bersamaku. Kemudian pergi lagi entah kemana," jawab Vionita apa adanya.
Tapi anak yang ia temukan di depan rumah dan dirawatnya hingga besar itu, kini bersikap seperti bukan lagi kepada Mamanya.
"Awas kalau Mama berbohong. Mama bisa ikut terlibat kasus percobaan pembunuhan," Cytra berkata semakin sewot.
Bersamaan itu Radita datang dan melihat Cytra sedang marah-marah dengan Vionita.
"Ada apa ini Ibu dan Anak kok seperti kucing dengan anjing bertengkar melulu," ucap Radita.
Cytra langsung membuang muka tidak mau memandang Radita yang mengenakan jas mungkin baru pulang dari kantornya. Walaupun sekilas mata melihat, Cytra masih merasakan getaran asmara yang sudah ia kubur dalam-dalam.
"Sekali lagi saya ingatkan. Mama jangan membohongi saya soal Hanna. Akan saya laporkan polisi kalian berdua kalau menyembunyikan dia," Cytra menghardik dengan menatap Vionita tajam. Tapi tidak mau memandang ke Radita.
"Ada apa ini, Cy. Kenapa saya juga mau dilaporkan ke polisi," kata Radita sambil mendekat ke tempat duduk Cytra.
__ADS_1
Meĺihat itu Vionita bangkit dari kursinya dan menarik tangan suaminya itu supaya duduk di sampingnya lagi. Tapi Radita tidak menggubris.
"Dia menuduh kita menyembunyikan Hanna, Pa," ucap Vionita yang masih memegangi tangan suaminya.
"Hanna kenapa, Cy. Apakah ada masalah denganmu?" tanya Radita halus.
"Dia mencelakakan saya dengan merusak fungsi rem mobil. Hampir saja saya mati karena tindak kejahatannya itu."
"Jahat sekali dia. Ini kan bekas luka kamu yang kecelakaan itu?" Radita memegang tangan Cytra yang masih terlihat diverban dengan penuh perhatian.
Entah Radita sengaja atau tidak bersikap lembut, hal itu dirasakan Cytra sampai tembus ke hatinya. Lama tidak bertemu dengan Radita ternyata masih ada juga rasa itu.
Sementara itu Vionita melihat suaminya memegang-megang tangan Cytra, perasaannya menjadi cemburu. Ia bangkit dari kursinya dan meninggalkan mereka berdua dengan menendang kaki kursi lebih dulu.
"Sudah lepaskan, Istrimu marah tuh kau pegang-pegang tanganku," kata Cytra mengingatkan sambil menarik tangannya agar tidak dipegang-pegang lagi oleh Radita.
"Biarkan saja nanti juga dia kesini lagi. Takut kita ada apa-apa," kata Radita menggoda.
"Memangnya kita mau apa. Enak saja. Sudahlah saya mau pulang," cytra ngedumel.
"Nanti dulu, saya pingin dengar gimana akhirnya kasus kecelakaan itu?" tanya Radita.
"Ya, sudah begitu ceritanya. Saya kecelakaan dan diopname di rumah sakit selama dua hari. Untungnya luka ringan. Padahal waktu itu rem blong dan jalanan menurun serta padat kendaraan. Sementara pelaku penyebab kecelakaan kini menghilang entah kemana."
"Kamu yakin Hanna yang berbuat merusak rem mobilmu?"
"Siapa lagi kalau bukan dia. Karena sebelum kecelakaan itu dia ada masalah denganku."
"Memangnya ada masalah apa. Sampai dia tega berbuat seperti itu?"
Cytra tak menjawab. Dia ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan Radita.
Tidak mungkin ia ceritakan awal mula masalahnya dengan Hanna. Biar nanti tahu sendiri bahwa kini sudah ada pengganti Radita di sampingnya.
Bersambung
__ADS_1