WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 145. Babak Baru Kehidupan


__ADS_3

Surat wasiat yang ditulis oleh mendiang Samyokgie yang berisi mengenai hak pengelolaan dan kepemilikan perusahaan, itu akhirnya diketahui oleh Vionita esok harinya.


Radita merasa perlu menjelaskan hal itu agar tidak ada rahasia diantara mereka berdua. Sedangkan Vionita tidak menyangka akan menjumpai persoalan baru yang tak pernah terpikirkan olehnya itu.


"Ini adalah babak baru kehidupan kita yang harus kita jalani. Kita tidak perlu nglokro," kata Radita agar Vionita tidak merasa sendirian dalam mengarungi kehidupan bersama.


"Apakah kamu juga kecewa saya melahirkan anak perempuan?" tanya Vionita.


"Kecewa atau tidak begitulah yang tertulis di dalam surat wasiat itu," kilah Radita.


"Apakah tidak bisa dirubah isi surat wasiat itu. Agar anak perempuan mendapatkan hak yang sama," usul Vionita.


"Tidak bisa dirubah. Surat wasiat itu sudah ditetapkan di depan notaris menjadi keputusan. Kacuali bila pembuat surat wasiat itu hidup kembali," jelas Radita.


"Ya, tidak mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Tapi kamu sebagai anak kandung beliau apakah tidak bisa merubahnya," kata Vionita berharap.


"Tapi tidak masalah. Bukankah masih ada aku dan kamu yang bisa memberikan nafkah yang banyak kepada Putri," Radita mencoba menetralkan perasaan vionita yang kelihatan kecewa atas isi surat wasiat itu.


"Kalau sekarang sih tidak masalah. Karena Putri masih kecil belum tahu apa-apa. Tapi nanti kalau sudah besar dia bisa menuntut kita, agar haknya disamakan dengan Putra dan Sanjaya."


"Mereka malah belum tahu soal ini, Sayang," kata Radita mengejutkan Vionita.


"Apa Papa belum memberi tahu soal ini kepada Cytra?" tanya Vionita.


"Dari dulu saya tidak pernah menceritakan surat wasiat ini kepada Cytra."


"Kalau Papamu apakah belum pernah mengatakan hal itu kepada Cytra?"


"Saya kira dulu Papa juga belum cerita. Karena sampai akhir hayatnya tidak pernah dibicarakan soal itu dengan saya maupun Cytra."


"Lalu kamu mengetahuinya dari siapa?"


"Dulu dari notaris setelah pemakaman Papa."


"Kalau begitu jangan sampai Cytra tahu. Biarkan saja dia sibuk dengan rumah tangganya sendiri."

__ADS_1


"Iya benar begitu. Dan rasanya dia sudah tidak butuh warisan untuk anak-anaknya. Karena hidupnya sudah lebih dari cukup."


......Benarkah hidup Cytra sudah lebih dari cukup?


Dalam segi ekonomi memang iya. Kekayaannya yang diperoleh dari warisan suaminya Mr Morgant kini makin berkembang. Karena Cytra makin pandai dan berpengalaman dalam mengelola perusahaan. Baik yang ada di Bali, Jakarta maupun Australia.


Tapi dalam soal cinta dia selalu gagal sampai ke pernikahan. Terakhir pacarannya dengan Ridwan kandas di tengah jalan. Karena Mami Ridwan tetap tidak setuju anaknya menikah dengan wanita bekas penyanyi cafe.


Tidak itu saja nasib nahas yang diterima. Dia malah dituduh oleh Mami Ridwan sebagai penyebab tersambungnya kembali hubungan asmara Haji Aris dan Mira.


Walaupun tuduhan itu tidak realistis, namun sangat mengganggu privasinya. Karena baik Ridwan dan Umi Salmah kerap datang disaat Cytra mau istirahat di rumah atau sedang sibuk di kantor hanya untuk membicarakan masalah Mira dan Haji Aris....


\*\*


Pagi yang cerah diawal bulan Desember. Situasi kantor Cytra di Bali terligat gemuruh. Para karyawan sibuk menyiapkan laporan akhir tahun. Terlebih lagi pas kedatangan tamu penting dari Audtralia Mr Alberto. Sehingga tak bisa dibyangkan kesibukan Cytra hari itu.


Mr Alberto usianya baru sekitar 35 tahun. Dia adalah saudaranya Mr Morgant. Baru-baru ini diserahi tugas memimpin perusahaan di negeri kanguru itu. Dia datang ke Indonesia dalam rangka liburan sekalian melihat-lihat kondisi perusahaan unclenya yang ada di Indonesia.


"Berapa hari kau akan tinggal di Indonesia, Al?" tanya Cytra di ruang kerjanya.


"Ok, kami sudah menyiapkan tempat istirahatmu di hotel "S". Buatlah hari-harimu sangat indah di hotel itu. Karena fasilitas dan pelayanannya nomor satu di kota ini?" Kata Cytra.


"Thank you very much. Saya sebenarnya lebih suka tinggal di homestay. Karena bisa bergaul dan mengenal lingkungan orang-orang Indonesia yang ramah," ujar Mr Alberto.


"Oh, maaf. Kalau begitu biar kami pindahkan penginapanmu ke homestay saja."


"Oh, so sorry. Tidak usah. Saya sudah dapat tempatnya sendiri. You, tidak perlu repot mencarikannya?" tolak Alberto ramah.


"Ok, selamat menikmati liburanmu. Jangan sungkan-sungkan menghubungi asistenku kalau butuh sesuatu, ya?"


"Thank you very much. Saya permisi mau langsung ke homestay."


"Ya, sama-sama. Selamat menikmati liburan!" ucap Cytra menyalami Mr Alberto.


Setelah pria tampan itu keluar dari ruang kerjanya, Cytra kemudian mengemasi barang-barangnya untuk pulang juga ke rumah.

__ADS_1


Cytra kini sudah memiliki rumah sendiri di Bali dengan ukuran yang tidak begitu besar. Karena sekedar untuk tempat istirahat saja pas tugas di Bali. Rumah itu dibeli oleh Cytra dari seorang pengusaha penginapan yang sedang butuh uang.


Letaknya rumah sangat strategis dekat dengan objek wisata. Dan lingkungan sekitarnya masih sangat alami. Nyaman sekali untuk tempat istirahat. Cytra malah punya ide untuk disewakan menjadi homestay bila tidak sedang tugas di Bali. Karena dia lebih banyak tinggal di Jakarta bersama Putra dan Sanjaya.


Agar tidak sepi tinggal sendirian di rumahnya itu, Cytra mengajak asistennya Mellany untuk menemani.


Mellany ternyata wanita yang rajin dan suka kebersihan. Melihat meja, kursi dan lantai rumah berdebu, dia langsung ganti baju santai dan membersihkannya. Padahal Cytra sudah mengundang pembantu dari penduduk setempat.


"Sudah Mel. Kamu kuajak tinggal disini bukan untuk kerja begituan lho. Sudah ada Bibi yang nanti membersihkannya," kata Cytra mencegah.


"Tidak apa-apa buat olahraga sore. Bibi biar konsentrasi di dapur, biar masaknya enak ya, Bi jawab Mellany seenaknya saja.


Nyatanya memang Mellany bekerja sungguh-sungguh. Badannya yang hanya dibalut kaos singlet dan celana pendek, kelihatan mengkilat oleh keringat.


Cytra yang tak enak Mellany kerja sendirian akhirnya ikut terjun mengelap perabotan. Dia juga hanya mengenakan singlet dan celana pendek.


"Berarti rumah ini kosong kalau Bu Cytra tidak di Bali ya?" tanya Melly sambil terus kerja.


"Ya iya. Saya punya ide untuk saya jadikan homstay saja. Gimana Mell menurutmu?" tanya Cytra.


"Ya, bener, Bu. Saya juga tadi mau bilang begitu. Mubazir ada rumah bagus begini, di dekat objek wisata lagi, kalau tidak dimanfaatkan untuk bisnis."


"Otakmu ternyata otak bisnis juga ya," kata Cytra menyanjung.


Mellany tertawa. Lalu setelah selesai bersih-bersih di dalam, Mellany keluar ke halaman untuk merapikan tanaman hias. Cytra sebenarnya malu juga ikut keluar rumah dengan hanya mengenakan pakaian minim seperti itu.


Tapi karena ada temannya ia jadi berani juga.


Sialnya disaat mereka sedang sibuk merapikan tanaman hias, memotong ranting dan daun yang tumbuh tak beraturan, tiba-tiba ada seorang bule laki-laki sedang berolahraga lewat di depan rumah. Tak pelak mata pria bule itu melirik ada dua wanita berpakaian seksi.


"Good afternoon....Nona manis!" sapa bule itu.


Cytra dan Melly tidak menoleh atau membalas sapaan. Cepat-cepat mereka masuk ke dalam rumah kembali karena malu memakai pakaian sangat munim. Si bule pun sama takutnya lantas cepat-cepat pergi.


\*\*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2