WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 162. Permainan Kedua


__ADS_3

Radita benar-benar tidak menyadari telah masuk ke dalam perangkap wanita berambut pirang dan bermata biru itu.


Apalagi Cleopatra Hanna terus memanjakan Radita bak raja yang harus diladeni semua keinginannya di dalam kamar mandi.


Bathtub yang penuh air berbusa wangi itu tidak lagi menjadi tempat mandi. Tetapi bak kasur empuk yang menenggelamkan mereka dalam permainan kedua yang jauh lebih seru.


Radita yang sudah terbebas dari pengaruh minuman, tidak cuma menunggu permainan Hanna yang lebih lihai dibandingkan Vionita istrinya. Pertama dia cuma diam bak raja yang dielus-elus dan dipijit-pijit wanita cantik. Tetapi kemudian dia berbalik yang memegang peranan permainan di dalam bathtub itu.


Hanna cuma mengimbanginya. Tubuhnya memang bergoyang. Tetapi pikirannya melayang merancang langkah berikutnya. Langkah yang akan semakin membuat Radita tidak bisa pulang bertemu istrinya.


Pendek kata mangsa yang empuk itu kini telah sepenuhnya masuk ke dalam perangkap. Tinggal mau dijadikan apa terserah dia saja!


Sementara itu di rumah besar seperti istana Vionita bingung Radita belum pulang juga. Perasaananya tergugah menyadari telah berbuat kesalahan besar terhadap suaminya.


Ya, mestinya dia tidak perlu mendiamkan suaminya sampai berlarut-larut. Tetapi wanita mana yang tahan melihat suaminya bermain mata dan pegang-pegang tangan dengan mantan kekasihnya.


Maka wajarlah kalau muncul rasa cemburu di dalam hatinya. Dan yang lebih membuatnya jengkel lagi Radita tidak memgakui kalau dia masih mencintai Cytra. Malah Vionita yang dibentak-bentak. Dikatakan terlalu cerewetlah, pecemburulah.


Sementara bagi Radita perasaan cemburu istrinya itu keterlaluan sekali. Memang masih ada cinta di dalam hatinya kepada Cytra. Tapi tidak mungkin dia akan melangkah lebih jauh dari itu. Karena sekarang telah ada Iyet buah cinta kasihnya dengan Vionita.


Vionita tidak menyangka kejadian itu berakibat Radita pergi dan tidak pulang semalam. Karena biasanya tidak sampai seperti itu kalau sedang marahan. Paling banter hanya berlangsung satu hari saling diam dan tidak tegur sapa. Setelah itu hubungan mereka berdua menjadi normal kembali.


Sekarang Vionita bingung sendiri untuk bertindak. Mau menelpon Radita tidak enak. Nanti disangka tidak percaya pada suami. Didiamkan saja bayangan dibenaknya berkecamuk yang tidak-tidak.


Dulu Radita sering menghibur diri kalau sedang jenuh dengan mendatangi cafe. Tetapi beberapa tahun ini sudah berhenti tidak pernah mendatangi tempat hiburan sama sekali.


"Aku sudah berhenti tidak minum minum lagi. aku ingin membangun keluargaku dengan sungguh-sungguh bersama kamu, Sayang," kata Radita pada awal hidup bersama dengan Vionita.


"Aku tidak melarang hobi Papa itu. Asal jangan main perempuan. Karena pekerja keras seperti Papa memang sesekali perlu refresing. Agar tidak stres," Vionita malah menyilahkan kalau suaminya mau cari hiburan dengan minum-minum dan ngobrol bersama teman-teman sepekerjaan.


"Kamu memang istriku yang paling baik. Tidak salah aku menikahimu. Tapi aku sudah bertekad untuk tidak mendatangi lagi tempat hiburan. Di rumah ada dirimu yang sudah bisa memenuhi seluruh kesenanganku." Begitu Radita pernah mengatakannya.


Sehingga membuat Vionita merasa tersanjung dan merasa nyaman menjadi istri Radita.

__ADS_1


Tetapi gara-gara Cytra Radita tiba-tiba berubah. Bicara kasar dan membenta-bentak kepada Vionita. Cinta dan kasih sayangnya seakan sirna tanpa bekas.


"Tidak usah menjadikan kamu panik. Sebentar lagi juga pulang," kata sahabat karibnya Mira menasihati.


Hari ini Mira sengaja dipanggil untuk mendengarkan curahan hatinya, karena Radita belum pulang juga sampai siang hari. Disamping itu Cytra ingin minta masukan dan saran dari Mira. Bagaimana menyikapi kelakuan suaminya itu.


"Kalau cuma minum-minum, okelah aku tidak mempermasalahkannya. Tapi yang aku takutkan bagaimana kalau tadi malam dia pulangnya ke rumah Cytra. Hal itu mungkin sekali terjadi. Karena aku lihat mereka masih saling mencintai," kata Vionita prihatin.


"Kalau melihat sifat Cytra selama ini aku rasa tidak mungkin dia masih mengharapkan Radita menjadi suaminya. Perasaanmu saja yang khawatir kehilangan Radita," kata Mira berusaha menenangkan perasaan Vionita.


"Menurut saya hendaknya kamu itu tenang saja dulu," kata Mira lagi. "Kalau dia nanti pulang kamu sambut saja dengan sikap seperti biasanya. Tidak perlu marah-marah. Apalagi menuduhnya yang tidak-tidak. Buatlah dia betah di rumah."


Saran dan masukan Mira itu cukup masuk akal. Sebelum Radita pergi sikapnya memang kurang menyenangkan suaminya. Habis kenapa masih mau pegang-pegang tangan Cytra. Sehingga membuat dia cemburu. Dan terjadi pertengkaran kecil. Berlanjut saling diam tidak pernah tegur sapa.


"Saranmu itu nanti akan saya praktekan. Mudah-mudahan bisa membuat Radita betah lagi di rumah."


"Jangan sampai bernasib seperti saya. Ditinggal suami itu rasanya sakit dan sedih sekali, Von."


"Iya sih. Tapi aku tidak mau. Aku sudah enjoy hidup sendiri. Apalagi aku sudah punya Maulana. Buah cinta kasih saya dengan Mas Haji. Aku rasa itu sudah cukup yang aku miliki. Tidak perlu rujuk dengan dia," kata Mira tenang.


"Aku bisa bersikap begitu ndak, ya pada Radita?"


"Maksudmu akan kamu biarkan Bila nanti Radita kembali kepada Cytra?"


"Ya siapa tahu!"


"Sudah kubilang kamu tidak perlu berpikir macam-macm. Tenang sajalah dulu. Saya yakin dia pasti pulang hari ini," kata Mira kembali meyakinkan Vionita.


Entah kebetulan atau doa mereka terkabul, setelah mengatakan itu terdengar suara mobil Radita masuk ke garasi dengan tergesa-gesa.


"Katamu benar, Mir... Dia pulang!" seru Vionita senang.


"Cepat sana sambut dengan senyuman," perintah Mira.

__ADS_1


Vionita buru-buru berlari menjemput Radita di depan pintu.


"Capek ya, Sayang. Sini tak bawakan tasnya," ucap Vionita.


"Terimakasih, saya bawa sendiri saja," jawab Radita sambil terus berjalan setelah menyalami dan mencium pipi Vionita.


Ketika langkahnya sudah sampai di ruang tengah, Radita melihat ada Tante Mira sedang duduk sendirian. Tapi ia pura-pura tidak melihatnya.


Vionita yang berjalan mengikuti suaminya menengok ke arah Mira dengan mengacungkan jempolnya. Mira menyambutnya senang.


"Selesai sudah tugas saya mendamaikan mereka," gumamnya. Lantas dia pergi meninggalkan rumah itu.


Setelah Radita meletakan tasnya di meja, dia langsung mencopot pakaiannya diganti pakaian santai yang sudah disiapkan.


"Banyak pekerjaan ya, Sayang?" tanya Vionita berusaha bersikap manis kepada suaminya.


"Iya, karena ada tamu penting di kantor. Perusahaan kita mendapatkan tender baru sehingga perlu saya urus sendiri," kata Radita dengan wajah tegang.


"Kamu kelihatan capek sekali. Mandi air hangat dulu ya, Sayang," rayu Vionita.


Radita pun masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa disangka-sangka Vionita mengikutinya di belakang.


"Kamu mau apa?" tanya Radita heran.


"Mandi juga," jawab Vionita manja.


Radita teringat baru saja melakukan mandi bareng dengan Hanna. Tenaga sudah terkuras habis meladeni nafsu wanita cantik itu. Dan entah kenapa kini menjadi tidak bernafsu untuk melakukan bersama istrinya.


"Jangan sekarang aku sedang tidak kepingin. Nanti malam saja, ya," pinta Radita.


Vionita akhirnya keluar dengsn menahan perasaan kesal dan kecewa yang semakin menggondok.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2