WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 98 Terjebak Permainan Ibra


__ADS_3

Keluar dari lift Cytra langsung berlari ke restoran.


Di tengah para tamu hotel yang sedang menikmati makan pagi, Cytra berlari kesana kemari mencari dua anaknya. Sampai dia salah sangka melihat kedua anaknya sedang makan. Tapi ternyata setelah di dekati anak tersebut bukan Putra atau Sanjaya.


Perasaan Cytra makin panik. Ia tidak pedulikan lagi keadaan dirinya yang hanya mengenakan pakaian apa adanya. Berupa tshirt dan celana pendek. Sedang rambutnya yang panjang nampak lepek karena baru mandi keramas.


Orang-orang yang berada di restoran itu makin perhatian pada perilaku Cytra. Berlari kesana kemari sambil memanggil nama kedua anaknya.


"Sudah dicek di kamar. Barangkali mereka ada disana," kata seorang ibu yang peduli melihat Cytra gelisah tidak karuan.


Cytra sudah sangat gelisah ia tidak mendengarkan pertanyaan seorang ibu di sampingnya itu.


"Kita tanya kepada OG di depan restoran barangkali melihat mereka," ajak Radita dengan menggandeng tangan Cytra.


"Saya tadi melihat ada dua anak kecil turun dari lift bersama seorang wanita dan pria. Tapi mereka tidak masuk ke restoran. Melainkan terus keluar hotel," kata OG yang bertugas di depan restoran.


"Apakah yang anak-anak mengenakan kaos biru dan celana jeans?" tanya Cytra tak sabar.


"Lupa saya tadi anak-anak itu mengenakan kaos apa. Tapi kelihatannya kaos mereka kembaran," ujar OG tersebut.


Jelas yang dimaksud OG tadi adalah Putra dan Sanjaya. Cytra langsung lemas mendengar keterangan itu. Radita yang ada di sampingnya langsung mendekap tubuh Cytra yang limbung. Lalu dipapah duduk di sofa depan restoran.


"Kuatkan hatimu jangan pingsan dulu. Kita masih harus mencari mereka," kata Radita ikut gugup dan panik.


Setelah minum teh hangat yang diambilkan oleh petugas OG tadi, Cytra bertanya lagi kepadanya.


"Ciri-ciri orang yang membawa dua anak itu seperti apa, mbak?"


"Yang perempuan kalau tidak salah ingat sepertinya orang bule. Tubuhnya agak gendut. Kalau yang laki-laki tegap atletis," jawab OG.


Cytra kelihatan agak bisa tenang setelah mendengar keterangan tersebut. Pasti mereka Deryll dan Ibra.


"Ini kesalahan kamu. Aku kan sudah bilang tidak usah mengajak mereka," kata Cytra dengan dongkol kepada Radita.


"Saya salah memang, maaf. Aku tidak mengira akan terjadi peristiwa seperti ini," kata Radita menyesal.


Cytra lalu berdiri dan berjalan ke lift untuk naik ke kamar lagi. Diikuti oleh Radita. Sementara empat bodiguard sudah menyebar ke beberapa tempat yang sekiranya dilalui oleh orang yang membawa Putra dan Sanjaya.


Di kamarnya yang langsung diambil oleh Cytra adalah Hp-nya. Ia akan menelpon Ibra. Cytra yakin Deryll dan Ibra yang berbuat. Keterangan OG tadi sudah jelas menunjukkan mereka yang membawa Putra dan Sanjaya.


Tapi belum sempat Cytra menelpon, Hp Cytra berdering mengagetkan


["Halo, apakah ini Cytra Amalia!"] Suara seorang laki-laki terdengar dengan jelas.

__ADS_1


Radita yang berada di samping Cytra juga mendengar suara itu.


"Ini Ibra kan yang menelpon?" kata Cytra karena suara laki-laki itu jelas suaranya Ibra. Tetapi menggunakan nomor telepon lain.


["Ya, saya Ibra. Maaf, ini saya bersama anak-anakmu. Kamu ada dimana?"]


"Saya masih di hotel "X". Bagaimana bisa anak-anakku bersama kamu. Kamu bisa dituduh menculik anak saya!" kata Cytra dengan nada setengah marah.


Sementara itu Radita mendengarkan dengan perasaan tidak senang.


["Kebetulan tadi saya melihat mereka sedang di depan pintu lift. Mereka mengatakan lapar mau makan di bawah. Maka mereka saya ajak saja makan di luar. Sekarang mereka masih bersama saya."] kata Ibra beralasan.


"Ok. Sekarang kalian sedang makan dimana. Saya yang akan menemui kalian."


Setelah Ibra menyebutkan tempat makan mereka, Cytra bergegas bersiap untuk menyusulnya.


"Tunggu dulu, Cy. Kamu mau ke sana dengan mengenakan pakaian seperti itu," Radita mengingakan.


Cytra baru sadar kalau dirinya masih mengenakan pakaian yang sangat minim. Celana pendek dan kaos tipis.


"Ya sudah kamu keluar dulu. Saya mau ganti pakaian," kata Cytra sambil mendorong Radita keluar dari kamarnya sampai ke depan pintu. Lalu pintu ditutup kembali oleh Cytra.


Radita setelah keluar dari kamar Cytra langsung menuju ke kamarnya. Sementara empat orang bodyguard yang masih melacak keberadaan Putra dan Sanjaya belum ia beritahu perkembangan kejadian yang baru itu.


"Bisa jadi sekarang dia mau memanfaatkan situasi untuk menggaet Cytra," gumam Radita di kamarnya.


Setelah mengenakan pakaian lengkap, juga merias wajahnya dengan makeup ringan, Cytra keluar dari kamarnya menuju ke kamar Radita.


Tok...tok...tok, Cytra mengetuk pintu kamar Radita.


"Maaf, Dit. Kamu tidak usah ikut. Biar aku sendiri yang menjemput Putra dan Sanjaya," ucap Cytra.


"Lho, emang kenapa?" Radita nampak heran melihat perubahan sikap Cytra kepadanya.


"Tidak apa-apa saya sendiri yang kesana. Kamu tetap saja disini," kata Cytra sambil membelikan badannya untuk pergi.


"Sebentar. Tunggu dulu," Radita menangkap tangan Cytra sehingga ia berhenti melangkah.


"Sudah kamu tidak usah khawatir. Ibra tidak akan macam-macam denganku."


"Saya berhak juga menyelamatkan mereka," protes Radita.


"Sudah tidak perlu orang mereka sudah selamat di tangan Ibra kok."

__ADS_1


"Tapi tidak! Saya harus ikut," desak Radita.


Cytra tahu kalau Radita mengkhawatirkan Ibra mau merayu Cytra kembali dengan dalih telah menyelamatkan Putra dan Sanjaya. Dan akhirnya Ibralah yang mendapatkan cintanya.


"Jangan, Dit. Percayalah aku tidak akan terayu lagi dengan kamuflasenya. Kamu tenang saja disini."


"Tidak! Saya tetap ikut!"


"Ok kalau kamu tidak percaya denganku boleh saja ikut. Tapi tidak perlu kau menemui mereka. Kamu awasi saja aku dari kejauhan," Cytra memberikan solusi.


"Ok. Saya tidak akan menemui mereka. Tapi kamu jangan macam-macam dengan Ibra."


Cytra tertawa juga dalam hati mendengar ucapan Radita. Dasar lelaki kalau sedang jatuh cinta. Pacarnya dilirik orang saja tidak boleh. Apalagi bertemu secara khusus.


Tidak panjang lebar lagi berkata-kata Cytra tinggalkan Radita. Dia panggil sopirnya untuk mengantar ke tempat makan yang sudah diberikan alamat oleh Ibra. Sedangkan Radita mengikuti dari belakang.


Ketika sampai di tempat makan yang dituju, ternyata disana sudah kosong. Tidak ada satupun pengunjung yang sedang makan.


Tak lama kemudian Hp Cytra berdering.


["Sudah aku katakan. Kamu tidak usah membawa Radita kalau mau bertemu dengan anakmu lagi,"] suara Ibra terdengar kecewa di dalam telepon.


"Saya tidak membawa siapa-siapa. Kecuali sopir," kilah Cytra berbohong.


["Jangan bohongi aku. Itu mobil siapa yang mengikutimu dari belakang."]


Brengsek! Umpat Cytra dalam hati. Sungguh licik sekali Ibra. Rupanya dia sengaja sedang mempermainkan perasaan Cytra. "Ok. Akan kubalas nanti kalian!" seru Cytra dalam hati.


"Terus dimana sekarang kalian?" tanya Cytra agak kesal.


["Nanti akan saya kabari lagi satu jam kemudian,"] kata Ibra tak pedulikan perasaan Cytra yang sudah kepingin ketemu anaknya.


"Kamu jangan mempermainkan diriku. Saya bisa laporkan ke polisi kalau kamu sudah menculik anak saya," kata Cytra emosional.


["Silahkan lapor polisi. Kamu tidak akan bisa bertemu anakmu selama-lamanya,"] ancam Radita.


Cytra tahu tabiat pria satu itu. Kalau sedang punya keinginan semuanya akan diterabas walaupun melawan hukum.


Cytra akhirnya menuruti kenginan Ibra. Heran. Kenapa Ibra selalu bersikap kejam kepadanya. Padahal Cytra idak pernah menyakiti hatinya. Malah Cytra yang sering disakiti.


Sudah tak terhitung Ibra berbuat semau gue terhap Cytra. Yang terakhir, belum hilang dari ingatan Cytra, ketika Ibra mengkhianati cintanya dengan menikahi Marina. Padahal saat itu Mami Andante sudah mengikat hubungan Cytra dan Ibra dengan nikah siri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2