WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 116. Mendulang Cinta Lama


__ADS_3

Cukup lama Radita menunggu Tante Mira dan Vionita datang sambil mengamati cafe di samping rumah itu.


Melihat keramaian di tempat makan dan hiburan itu, tergoda hati Radita ingin masuk ke dalam. Apalagi arloji di lengan Radita menunjukkan pukul 19.30. Masih banyak waktu untuk sekedar melongok ke dalam cafe, mencicipi menu makanannya atau menikmati lagu-lagu lembut yang tersaji.


Radita meminta Pak Ob turun setelah memarkir mobilnya. Harum masakan yang pertama kali menyapa hidung Radita ketika naik ke anjungan cafe dan melangkah masuk mengambil salah satu meja yang kosong.


Seorang pramusaji datang menghampiri menyerahkan buku menu yang di sampulnya tertulis Mira & Nita Cafe. Nama itu langsung mengingatkan orang yang sedang dicarinya.


Radita memang belum tahu kalau tempat makan dan hiburan itu milik Mira dan Vionita.


Setelah menu di pesan datang lagi seorang karyawan cafe yang lain ke meja Radita dan Pak Ob duduk.


"Tuan berdua silahkan duduk di dalam saja. Disana tempatnya lebih cocok untuk tuan semua," kata pramusaji.


Sebelum beranjak mengkuti ajakan tersebut Radit mengamati sekitarnya. Memang tak cocok kalau dia berada di meja itu karena kebanyakan pengunjunrg adalah kaum muda.


Ketika Radita sampai di dalam mengikuti karyawan cafe tersebut, terlihat tempat yang lebih bagus. Tempat duduknya berupa sofa warna hitam dipadu interior yang mayoritas berwarna putih, terlihat sangat kontras sekali.


Di sekitar mereka sudah terlihat beberapa pengunjung yang sedang asyik dengan menu makanan kecil dan pasangannya masing-masing.


Radita kaget ketika mendengar namanya disebut oleh MC dan semenit kemudian tampil di panggung seorang wanita cantik dan anggun menyapa dirinya dengan lembut.


"Vionita!" gumam Radita teringat kembali masa-masa indah bersamanya.


Dengan mata tidak berkedip ia menikmati pesona dari seorang wanita yang pernah ia cintai, tambatan hatinya saat ia mengenal cinta pertama kalinya. Dan sungguh ajaib, seperti dalam mimpi, bidadari cantik itu menghampirinya usai menyanyikan lagu kenangan mereka.


Radita merasa seperti tamu agung yang dihormati oleh semua hadirin di ruang yang sejuk dan nyaman itu.


"Kamu masih ingat lagu tadi?" tanya Vionita menyalami Radita dengan sangat akrab.


"Tentu aku masih ingat selalu," jawab Radita dengan menatap wajah Vionita penuh kerinduan.


"Sudah berapa lama kita tidak bertemu. Tapi perasaanku belum berubah masih mencintamu, sayang," Vionita menggenggam tangan Radita penuh kehangatan.


Sekali lagi ajaib, sungguh ajaib! Radita seketika itu lupa segalanya. Bukan karena minuman atau rayuan, tapi karena pesona Vionita yang sangat luar biasa itu.


"Aku dengar katanya kamu mau menikah dengan Cytra," ucap Vionita kemudian.


"A-aku..., tidak serius, kok. A-aku masih mencintaimu," kini ganti Radita yang menggenggam hangat tangan Radita.


"Kemarin Cytra menemuiku dan mengatakan akan menikah denganmu. Aku merasa tak percaya mendengar kabar itu, sayang."

__ADS_1


"Sebenarnya sudah lama aku menunggumu datang. Tapi sepertinya kamu sudah melupakan diriku. Padahal aku ingin minta maaf atas kesalahanku tempo dulu."


"Kenapa menunggu, mestinya kamu mencariku. Aku kira saat itu kamu sudah tidak mencintaiku lagi."


"Kamu adalah cinta pertamaku. Aku tidak bisa mengingkarinya. Dan sampai kapan pun aku masih mencintaimu."


Bagai diguyur air sorgawi terasa adem sekali Vionita mendengar ungkapan perasaan Radita. Dan perpisahan yang sudah begitu lama terjadi, seolah tidak terasa lagi malam itu.


Vionita menyandarkan kepalanya ke dada Radita. Hati pria yang sedang diselimuti perasaan rindu itu memeluknya dengan hangat. Vionita menengadah. Lalu pria itu menciumnya dengan penuh kasih sayang.


Sambil mendengarkan lagu-lagu lembut yang dibawakan oleh penyanyi lain, mereka terus lengket tak hiraukan pengunjung lain di sekitarnya. Dari kejahuan Mira membiarkan saja mereka memadu kasih.


Sampai kemudian Radita ingat datang ke cafe itu bersama Pak Ob.


"Waduh dimana sopir saya tadi?" kata Radita.


"Kamu datang bersama sopir? Kok tidak bilang dari tadi?" Vionita melepaskan pelukannya. Lalu menggeser letak duduknya.


"Tetapi tidak masalah. Dia itu orang tua. Pasti paham bagaimana mengatur diri melihat bosnya lagi pacaran," kata Radita tenang.


"Saya kira sudah saatnya kamu pulang. Kasihan Cytra sendirian di rumah," saran Vionita kemudian.


"Baiklah. Saya pulang ya, sayang. Besok atau lusa nanti kita ketemu lagi."


Di perjalanan menuju ke rumah, Radita baru menyadari telah mengkhianati cinta yang sudah ia berikan kepada Cytra. Benar kata Vionita tadi, jangan sampai Cytra tahu akan hal itu.


Sungguh Radita tidak menduga pertemuannya dengan Vionita akan memunculkan masalah baru dalam kehidupannya. Bagaimana nanti dia akan menyelesaikan masalah baru itu?


"Bagaimana Pak Ob?" gumam Radita tak sadar hingga terdengar oleh sopir pribadinya itu.


"Ada apa, Tuan?" tanya Pak Ob.


"Anu..., itu tadi...." Radita sulit mengatakannya.


"Saya tidak tahu yang dimaksud, Tuan," kata Pak Ob sambil terus konsentrasi mengendalikan kendaraan.


"Tadi Pak Ob melihat saya bersama seorang wanita kan?"


"Iya saya melihat. Tapi setelah itu saya keluar, menunggu di mobil."


"Pak Ob bisa menjaga rahasia ini kan?" pinta Radita.

__ADS_1


"Siap, Tuan. Tidak mungkin saya mengatakan kepada Nyonya Cytra," kata Pak Ob mengerti akan maksud bosnya itu.


"Bagaimana Pak Ob menjawabnya kalau nanti ditanya kenapa pulang sampai larut malam."


"Ya biasa mengantar Tuan bekerja. Karena keperluannya banyak hingga bekerja sampai larut malam."


"Kalau nanti Pak Ob dikejar keperluannya apa saja, nanti malah bingung."


"Iya ya, Tuan. Terus bagaimana saya bicaranya?"


"Saya sendiri bingung. Saran Pak Ob gimana saya terus terang saja sama Cytra atau tidak nanti di rumah."


"Ya, jangan dong, Tuan. Nyonya Cytra pasti marah dan sakit hati nanti."


"Ya, pastinya begitu, Pak Ob."


"Maaf, Tuan sudah lama ya hubungan dengan wanita tadi?"


"Wanita tadi adalah Mamanya Cytra."


"Lho kok bisa begitu sih, Tuan," Pak Ob nampak heran.


"Dia itu cinta lama saya, Pak Ob. Bisa dikatakan cinta pertama."


"Kata orang cinta pertama itu memang paling indah dikenang, Tuan."


"Betul Pak Ob. Dan dia masih tetap saja seperti dulu. Masih tetap cantik dan muda. Tidak ada yang berubah sama sekali darinya."


"Tuan masih cinta sama wanita itu?"


"Aku sangat mencintainya. Dia lebih segalanya dari Cytra."


"Susah memang kalau Tuan mencintai dua wanita sekaligus. Tidak mungkin Tuan akan menjadikannya mereka semua sebagai istri."


"Itulah yang membuatku pusing. Saya pun tidak bisa membuang mereka salah satu."


Tidak terasa perjalanan mereka hampir mendekati rumah. Sementara Radita belum menemukan jawaban yang pasti bila nanti Cytra bertanya.


Tapi kemudian Radita berpikir Cytra pasti sudah tidur lelap. Terasa begitu lama dia meninggalkan rumah dari jam 06.00 hingga pukul 02.00 dini hari.


Ternyata benar ketika sampai di rumah keadaan sepi karena penghuni masih terlelap tidur semua.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2