WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
Bab 96 Pernyataan Radita


__ADS_3

Belum jelas siapa yang melancarkan teror berupa rentetan letusan senjata malam itu. Yang jelas penjagaan di rumah besar seperti istana itu sudah ditambah. Kewaspadaan para penghuniya juga telah ditingkatkan.


Cytra sudah meminta Radita untuk meliburkan sekolah anak-anaknya sampai terungkap otak dari kejadian teror itu. Aparat keamanan juga sudah bergerak untuk menyelidikinya.


"Aku setuju gagasanmu. Kita harus fokus pada keselamatan dan keamanan mereka lebih dulu," kata Radita.


Malam baru saja datang. Suasana mencekam mulai merambat pelan-pelan. Di ruang tengah itu Cytra dan Radita belum ingin tidur dulu. Menunggu teror apa lagi yang akan terjadi.


"Tadi siang saat kau berangkat kerja hingga sampai di kantor, lalu tadi pulangnya aman-aman saja. Tidak ada gangguan apa pun?" tanya Cytra khawatir.


"Aman tidak kurang suatu apa pun. Seperti yang kau lihat sekarang ini," jawab Radita sambil membentangkan kedua tangannya.


Selintas Cytra sempat memperhatikan badan Radita yang masih nampak tegap dan tampan seperti papanya itu.


"Alhamdulillah, kamu tidak mengalami apa-apa, kan," ucap Cytra.


Radita memperhatikan Cytra yang mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh.


"Bagaimana dengan kamu sendiri di rumah. Apakah aman juga?" tanya Radita.


"Ada sih tapi cuma gangguan kecil saja," kata Cytra ingin melihat respon Radita bagaimana.


"Apa!? Ada gangguan apa tadi? Kenapa tidak telpon aku?!" respon Radita serius.


"Cuma gangguan di hati dan pikiranku saja tidak tenang, memikirkan anak di sekolah," jawab Cytra.


"Kamu tidak memikirkan aku?" Radita nampak tak percaya Cytra tidak memikirkannya.


"Ya sempat sih, tapi sebentar," kata Cytra setengah menggodanya.


"Kok sebentar sih memang kenapa kalau banyak?" tanya Radita lebih ingin Ingin tahu isi hati Cytra.


"Ndak enak sama Vika, karena statusnya kamu kan masih suami dia." Cytra agak ragu mengucapkan itu, takut Radita marah.


"Ya. Tapi tadi dia menelpon aku di kantor. Katanya dia sudah maju ke pengadilan." Radita mengatakannya dengan nada berat.


"Kamu kecewa melepaskan dia?" tanya Cytra serius.


"Apa pun masalahnya, bagi saya perceraian itu merupakan sebuah kegagalan. Dari awal hidup bersama tidak pernah terlintas dalam pikiranku akan berakhir seperti ini," ungkap Radita datar.


"Itulah kehidupan. Kegagalan pasti ada dalam perjalanan hidup setiap manusia. Tapi sudahlah. Aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi."


"Kenapa? Kamu takut masalahmu dibicarakan juga disini?" tanya Radita lebih ingin tahu isi hati Cytra lagi.


"Aku tidak takut masalahku dibicarakan juga disini. Toh kamu sudah tahu semuanya," kata Cytra tenang.

__ADS_1


"Maksudku aku ingin tahu isi hatimu tentang pernikahan. Apakah kamu masih ingin menikah lagi setelah Morgant neninggal?" tanya Radita.


"Kenapa hal itu kau tanyakan?" Cytra balas bertanya dengan alis mata mengernyit.


"Eeng.... Misalnya kamu ingin menikah lagi, tipe pria bagaimana yang kau cari?" Radita semakin tajam bertanya.


Cytra kaget mendengar pertanyaan itu. "Gila! Apa harus aku katakan pikiran yang menggangguku semalam!" seru hatinya.


"Yaah.... Paling tidak pria yang mau belajar dari kegagalan dan konsekuen mengakui kekurangan dan kesalahannya," Cytra berdiplomasi.


"Apakah yang kau maksudkan itu diriku?" Radita tanpa tedeng aling aling menyamakan dirinya dengan kriteria Cytra.


"Iiih..., ya tidak ya. Karena kamu masih hak milik Vika sampai detik ini." Cytra bertahan agar tidak terlalu vulgar.


"Berarti kalau aku sudah pisahan dengan Vika kau mau jadi...," Radita berhenti berkata.


"Jadi apa lanjutin dong," Cytra meledek.


Radita diam seperti mati kata.


"Misalkan suami istri itu adalah kamu dan aku. Dari segi umur merupakan pasangan yang ideal. Umurku sekarang 33 tahun. Sedangkan kamu 36 tahun. Tetapi kalau dari aspek sosial kita kurang pas untuk bersanding. Kamu keturunan keluarga konglomerat. Sedangkan aku dari keluarga yang tidak jelas," kata Cytra mengajak Radita berpikir logis dan transparan.


"Kamu sekarang tidak pantas bicara seperti itu. Karena sekarang kamu sudah berhasil mengelola perusahaan besar. Sudah menjadi lady boss. Sudah sangat sejajar dengan pengusaha lainnya," Radita bicara serius.


Cytra cuma tersenyum manis dinilai Radita seperti itu. Sekarang baru jelas kalau Radita memang telah mengaguminya. Tapi Cytra belum ingin mengungkapkan persaannya sendiri kepada pria yang dulu menjadi musuhnya itu. Cytra tidak ingin gegabah.


"Kenapa tidak kau sadari bahwa dirimu kini sudah berubah. Sudah lebih maju dari dua tiga tahun yang lalu. Syukuri saja apa yang telah kau peroleh. Serta hati-hati terhadap rayuan lelaki. Karena wanita sepertimu pasti banyak pengagumnya," kata Radita jujur.


Cytra menangkap keinginan Radita agar Cytra tidak mudah memberikan perhatian kepada sembarang orang. Itu berarti dengan kata lain agar Cytra perhatian kepada dirinya saja.


"Apa iya sih banyak pria yang mengagumiku atau merayuku. Setahuku baru sekarang aku mendengar itu dari kamu, Dit," kilah Cytra.


Radita mendadak diam, merasa telah terjebak oleh kata-katanya sendiri. Mimik mukanya kelihatan menyimpan rasa malu.


"Aduuh! Aku lupa maaf!" teriak Cytra mengalihkan perhatian Radita.


"Kenapa, Cy. Ada apa?" tanya Radita kaget.


"Saya janjian mau daring dengan teman-teman yang berada di Bali jam ini. Maaf aku tinggal dulu ke dalam, ya," kata Cytra lalu bergegas masuk ke kamarnya.


Radita cuma bisa memperhatikan wanita itu yang berjalan dengan anggunnya masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa tidak dari dulu-dulu aku mengaguminya. Kini dia begitu hebat dan mempesona. Melebihi wanita-wanita lainnya yang pernah aku kagumi," kata Radita dalam hati.


Sementara itu di dalam kamar Cytra cuma rebahan di tempat tidur. Bibirnya menyungging senyum kemenangan.

__ADS_1


"Dasar laki-laki kalau sudah jatuh cinta jadi kelihatan lucu begitu," gumamnya.


Cytra sebenarnya tidak mau daring dengan Mellany dan teman lainnya yang sedang berada di Bali. Dia memang sengaja ingin mempermainkan perasaan Radita. Coba seberapa jauh sebenarnya dia punya perhatian kepada Cytra.


Sebenarnya asyik juga sih ngobrol dengan pria yang sedang galau itu. Tapi kalau diteruskan ujung-ujungnya Radita pasti akan menyatakan cinta kepadanya. Dari kata-kata dan sikapnya sudah jelas kalau pria itu sangat mengaguminya.


Kini tinggal tergantung Cytra apakah akan menanggapi kekaguman Radita itu secara positip atau mengabaikannya. Karena Cytra merasa masih ada hubungan keluarga dengan Ibra. Walaupun Papa Radita sudah lama meninggal, namun kesan Radita sebagai anak tirinya itu masih melekat sampai sekarang.


Tok...tok...tok


Tiba-tiba terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Pikir Cytra pasti Radita. Ternyata benar. Ketika ia membuka pintu wajah pria tampan itu muncul dengan senyumnya yang mengembang manis.


"Sudah selesai daringnya, boleh aku ikut mendengarkannya?" ucap pria itu dan kakinya melangkah masuk ke kamar Cytra.


"Oh..., sudah sudah kok! Mari kita ngobrol lagi disana," cegah Cytra mendorong tubuh Radita keluar.


Pria itu sempat menangkap tangan Cytra yang menyentuh dadanya. Tapi kemudian ia lepaskan kembali karena Cytra cepat berjalan ke sofa tempat mereka ngobrol tadi.


"Aku tidak bisa tidur, tolong temani aku ngobrol lagi," pinta Radita setelah duduk bersebelahan dengan Cytra.


"Kenapa tidak bisa tidur. Mikirin Vika, ya," ucap Cytra.


"Tidak juga. Sudah kuikhlaskan kalau dia mau berpisah denganku. Aku malah mikirin kamu terus," kata Radita dengan tatapan mata penuh arti kepada Cytra.


Cytra diam dulu tak menanggapi. "Nah! Betulkan prediksiku akhirnya dia berani menyatakan perasaannya," gumamnya.


"Memangnya mikir apa tentang aku?" tanya Cytra pura-pura tidak tahu.


"Bagaimana kalau kita bersatu agar masalah yang kita hadapi di masa depan semakin ringan," kata Radita terus terang.


"Bersatu bagaimana maksudmu?" Cytra masih pura-pura tidak tahu apa yang dimaksudkan Radita.


"Maksudku....Kita bersatu menjadi suami istri."


Kalimat itu cukup menggelegar di dalam dada Cytra, walaupun sebelumnya ia sudah mengira-kira kalimat itu akan meluncur dari mulutnya.


"Hemm....Aku belum bisa menanggapi ajakanmu itu sekarang. Masih banyak urusan yang belum aku selesaikan," kata Cytra tak berani memandang Radita.


"Tidak harus sekarang kamu menjawabnya. Aku juga akan menyelesaikan masalahku dulu dengan Vika."


Cytra menagngguk.


"Terimakasih. Sekarang agar aku bisa tidur nyenyak dan mimpi indah, bolehkah aku mencium kamu sedikit saja."


Cytra mengangguk lagi.

__ADS_1


Dalam waktu sepersekian detik Radita sudah mencium kedua pipi Cytra. Lantas dia berdiri tersenyum kepada Cytra,!!! sebelum berjalan melangkah masuk ke kamarnya....


.....Halo pembaca, lama ya aku tidak menyapa. Gmn nih semangatnya, masih terus mengikuti kisahnya, kan. Makacih, ya 🙏


__ADS_2