
Davian masih duduk termenung di depan ruang UGD, saat ini perasaannya benar benar khawatir, dia terus menantikan kabar dari Sam.
Dulu dia pernah merasakan khawatir yang sangat besar ketika Sam kritis tapi kali ini rasanya berbeda ada rasa kehilangan dalam hati Davian, tapi dia segera menepis perasaannya.
Tapa sadar Davian menitihkan air mata, dia berdoa dengan sepenuh hati berharap Sam bisa selamat dan kembali berdiri di belakangnya seperti dulu.
- - -
Di kantor para karyawan sudah mulai meninggalkan kantor karena jam kerja sudah habis, di bagian keuangan hampir semua karyawan sudah pulang, hanya tersisa beberapa saja termasuk Monica.
Monica beberapa kali melihat jam di tangannya, sudah lewat 30 menit dari waktu seharusnya dia pulang, dia menunggu Sam mengabarinya, karena tadi pagi Sam berpesan akan mengajak Monica ke suatu tempat setelah jam pulang kerja.
Monica membuka ponselnya untuk menghubungi Sam, sudah lima kali dia mencoba menelpon Sam tapi ponsel Sam tidak bisa di hubungi, setelah menunggu hampir satu jam akhirnya Monica memutuskan pulang dengan perasaan khawatir, karena setahu Monica Sam adalah orang yang selalu menepati janjinya.
- - -
__ADS_1
Davian masih duduk dengan tangan menopang dagunya, dia baru saja menghubungi beberapa orang kepercayaan nya untuk mencari tahu siapa pengemudi mobil yang hampir mencelakai dirinya dan menabrak Sam.
Dengan langkah gontai dokter Sifa keluar dari ruang UGD, dia berjalan menghampiri Davian, air mata dokter Sifa mengalir deras membasahi pipinya.
"Dav." Panggil dokter Sifa berdiri di samping Davian yang terlihat sedang termenung
Davian langsung berdiri menatap dokter Sifa.
"Bagaimana kondisi Sam?" Tanya Davian dengan sorot mata tajam.
"Sam sudah pergi." Ucap dokter Sifa dengan suara parau.
Davian langsung terduduk, lututnya berasa sangat lemas mendengar ucapan dokter Sifa, sorot matanya menatap tajam ke arah pintu ruang UGD, hatinya hancur berkeping keping, tenaga Davian terasa hilang mengetahui Sam telah pergi.
"Ikhlaskan Sam Dav." Dokter Sifa bersimpuh di sebelah Davian, dia memeluk Davian dengan erat.
__ADS_1
Air mata menetes dari mata Davian, dia hanya diam tanpa menjawab ucapan dokter Sifa, tidak pernah terpikirkan olehnya Sam akan pergi meninggalkan Davian di saat seperti ini.
Dokter Sifa menuntun Davian masuk ke dalam ruang UGD, disana terlihat tubuh Sam yang sudah terbaring kaku dengan kain putih yang sudah menutup sampai kepala Sam.
Davian membuka kain yang menutupi wajah Sam, terlihat senyum tipis di wajah Sam, orang yang selama ini menemani Davian dan selalu setia berdiri di belakang Davian dalam kondisi apapun kini sudah terbaring kaku.
Davian mengelus lembut kepala Sam, dia memberi salam perpisahan untuk Sam, sesekali Davian menyeka air matanya.
"Beristirahat lah dengan tenang Sam." Ucap Davian dengan suara lirih.
"Terimakasih telah menjagaku selama ini, andai aku bisa menebus nafas mu dengan semua yang aku punya, aku akan melakukan itu Sam." Air mata semakin mengalir deras membasahi pipi dokter Sifa mendengar ucapan Davian, dia seakan bisa merasakan seberapa besar rasa sayang Davian pada Sam yang sudah dianggap sebagai saudaranya.
"Sam tidak akan suka melihatmu lemah Dav." Ucap dokter Sifa memeluk erat lengan Davian.
Dokter Sifa menuntun Davian keluar dari ruang UGD, Davian hanya diam sesekali melihat kebelakang.
__ADS_1
"Aku akan menemanimu dalam keadaan apapun Dav." Ucap dokter Sifa dalam hati sambil menatap Davian.