WANITA TERAKHIR

WANITA TERAKHIR
MEMINTA PENJELASAN


__ADS_3

Davian sedang menunggu di lobby gedung jaya group, dia ingin menemui Andini, karena sudah beberapa hari Andini tidak bisa di hubungi, melihat kondisi paman yang sudah membaik Davian pun ingin menyelesaikan masalahnya dengan Andini, sebelum ke gedung jaya group Davian sudah mengabari Aditya dia harus pergi karena ada suatu urusan, untung saja Aditya sedang tidak ada kesibukan jadi dia bisa menemani tuan Abas di rumah sakit.


Sudah hampir dua jam Davian menunggu tapi Andini belum juga tiba di gedung jaya group, sebelumnya Davian bertanya pada resepsionis tentang keberadaan Andini, tapi resepsionis hanya menjawab bahwa Andini sedang ada meeting di luar.


- - -


Di rumah sakit Andini dan Aditya sedang mengobrol dengan tuan Abas, mereka sepertinya sudah sangat akrab, tuan Abas senang melihat kedekatan Andini dan Aditya tidak seperti saat pertama bertemu, Andini selalu bersikap acuh kepada Aditya.


"Aditya." panggil tuan Abas.


"Iya ayah." jawab Aditya.


"Andini kesini juga nak." pinta tuan Abas


Andini yang tadi duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur tuan Abas mendekat karena di panggil tuan Abas.


"Andini kalau om meminta satu hal dari kamu apa kamu mau memberikan nya." tanya tuan Abas dengan tatapan memohon.


"Apa itu om?" jawab Andini.

__ADS_1


"Kalau suatu saat om pergi, om minta kamu dampingi Aditya, dia anak om satu satunya dan om percaya kamu adalah pendamping yang tepat untuk Aditya." Andini terkejut dengan ucapan tuan Abas, dia tidak mampu menjawab dan hanya menatap nanar tuan Abas.


"Ayah, ayah jangan bilang begitu, ayah harus sehat untuk melihat cucu cucu ayah." kata Aditya sembari menggenggam tangan tuan Abas.


Andini masih diam


"Andini berjanjilah kamu akan mendampingi Aditya?" pinta tuan Abas.


Andini masih diam, dia menatap Aditya dan tuan Abas bergantian, ada tatapan memohon di sorot mata tuan Abas, sedangkan Aditya menatap dengan tatapan khawatir pada ayahnya.


"I.. iya om, tapi om juga harus berjanji akan sehat." ucap Andini terbata bata.


- - -


Andini baru saja turun dari mobil yang mengantarkannya dari rumah sakit, Aditya meminta Andini untuk kembali ke kantor karena ada beberapa berkas yang di minta oleh client, sepanjang perjalanan tadi Andini hanya terdiam memikirkan ucapan tuan Abas, tanpa dia sadari dia sudah berjanji yang secara tidak langsung juga berjanji meninggalkan Davian.


"Andini." suara yang sangat familiar bagi Andini baru saja menyadarkan nya dari lamunan.


"Dav, kenapa kamu di sini?" ucap Andini dengan nada panik.

__ADS_1


"Aku hanya mau bicara denganmu Andini." ucap Davian.


"Baiklah, tapi tidak di sini." ucap Andini masih dengan nada panik dan langsung menarik Davian menyebrang jalan menuju cafe yang tepat berada di sebrang gedung jaya group.


"Kenapa kamu menghindari ku Andini?" tanya Davian setelah mereka duduk di sudut cafe itu.


"Maaf Dav." Andini menjawab dengan nada yang menunjukkan penyesalan.


"Aku hanya mau kamu memberikan alasan kenapa kamu menghindari ku." ucap Davian dengan nada sedikit menekan.


"Maaf." ucap Andini berusaha menahan tangis.


"Aku kesini meminta penjelasan bukan mendengar kata maaf dan melihatmu menangis." Davian mulai emosi dengan jawaban dari Andini.


"Hubungan kita tidak bisa berlanjut, aku akan menerima perjodohan itu." ucap Andini sambil berdiri dan bersiap meninggalkan Davian.


Davian langsung menarik tangan Andini tapi di tepis oleh Andini, Andini berlari keluar dari cafe sambil terisak.


"Maafkan aku Dav, ini semua demi kebaikan kita." ucap Andini menoleh sesaat ke arah Davian sebelum keluar dari cafe.

__ADS_1


__ADS_2