
....Masih soal ranjang kamar Vionita yang sedang panas membara.
Tak terbesit sedikit pun di hati Vionita dan Radita bila bahaya sedang mengancam diri mereka. Andaikan ada gunung meletuspun mereka tidak akan meninggalkan ranjang yang telah menjadi milik mereka berdua.
Permainan di ranjang itu semakin seru. Keringat menguap di tubuh mereka masing-masing. Tapi mereka tak mungkin menghentikan perjalanan sebelum lembah dan bukit tinggi ia lalui. Mereka lupakan semuanya karena sedang konsentrasi.
Maka ketika sebuah mobil mewah dengan pelan masuk ke halaman rumah, mereka pun tidak mendengarnya. Karena permainan sedang seru-serunya terjadi.
Dari dalam mobil yang baru datang itu keluar seorang wanita dengan badan tinggi semampai mengenakan kaca mata hitam. Radita dan Vionita pasti tidak percaya bila melihat yang baru datang itu adalah Citra Amalia.
"Sedang ada tamu rupanya," gumamnya.
Cytra tidak tahu bila tamu yang berada di dalam rumah Tante Mira itu adalah calon suaminya.
Cytra hati-hati melangkah menaiki teras dan mengucapkan Assalamualaikum. Tetapi tidak ada yang menyahut. Maka ia buka pintu di hadapannya yang tidak dikunci.
Setelah pintu terbuka tidak terlihat satupun manusia di ruang tamu.
Cytra melangkah semakin ke dalam. Ia mulai merasa aneh. Di depan kelihatan ada mobil tamu parkir, namun kenapa di dalam tidak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya.
Beberapa detik Cytra kebingungan. Kemudian terdengar suara berisik di salah satu dari tiga kamar yang ada di ruang itu.
Cytra kemudian mendekati kamar yang berisik itu. Makin dekat ia mendengar desah dan rintihan seorang wanita. Membuat Cytra penasaran ingin tahu ada apa di dalam kamar itu.
Ia lalu mengintip melalui sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat. Seluruh badannya merinding seketika melihat seorang wanita dan pria sedang bersenggama.
Makin penasaran Cytra ingin tau siapa mereka. Lalu ia lebarkan pelan-pelan pintu kamar itu. Bagaikan geledek yang menggelegar di siang bolong. Tiba-tiba dada Cytra seperti mau meledak. Di depan mata dengan jelas terlihat calon suaminya sedang menindih seorang wanita dengan sangat bergairah.
Cytra langsung palingkan muka tak mau melihat adegan itu berlama-lama. Ia lalu bersandar ke dinding di samping pintu. Seluruh persendian tubuhnya gemetar. Air mata mengalir ke pipinya.
Jelas sekali wanita yang sedang digauli oleh calon suaminya itu adalah Mamanya, Vionita. Apalagi kemudian terdengar rintihannya makin keras. Bersahutan dengan nafas Radita yang memburu. Dan berakhir keduanya mengerang.
Cytra baru saja dari bandara dengan membawa perasaan kesal. Karena pesawat tidak jadi terbang akibat mengalami kerusakan mesin. Dan penerbangan ditunda nanti malam atau besok.
Kini tambah kesal dan benci hatinya melihat Radita dan Mamanya bermain api di depan matanya. Percuma saja ia datangi rumah itu untuk curhat kepada Tante Mira soal hubungan mereka. Karena kini sudah jelas semuanya.
Dengan air mata yang masih menetes Cytra berlari keluar dan menutup pintu dengan keras-keras. Membuat Vionita dan Radita tersentak kaget. Mereka buru-buru mengenakan semua pakaiannya kembali tanpa bersih-bersih lebih dulu.
Radita yang lebih dulu ke depan setelah terdengar daun pintu dibanting, melihat Cytra berlari dan masuk ke dalam mobilnya. Lalu tancap gas meninggalkan rumah Tante Mira.
__ADS_1
"Siapa, Mas?" tanya Vionita yang menyusul ke depan.
"Cytra!"
"Hah!!" Mulut Vionita menganga.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Kamu kan sudah berniat membalas perlakuannya kepadamu dulu. Biarkan Cytra berintrospeksi atas kejadian ini. Mungkin besok atau sebentar lagi dia akan menelponku dan menyatakan batal atas rencana pernikahan."
"Kelihatannya kamu tidak takut atau menyesal atas kejadian ini?"
"Sudah kubilang tak perlu dipikirkan lagi," kata Radita lalu berjalan ke kamar Vionita lagi.
"Mau apa lagi, Dit?"
"Mau mandilah...Badan kotor dan lengket begini," ujar Radita tenang.
Vionita tertawa dan mendorong tubuh Radita untuk segera mandi dan bersih-bersih.
"Aku ikut mandi sekalian, ya," ucap Vionita manja.
"Nanti bangkit kembali adikku gimana?"
"Ya, ndak apa-apa kalau masih mau lagi."
Sementara itu di tengah perjalanan mobil Cytra menepi dan berhenti di halaman sebuah supermarket. Perasaannya merintih-rintih pilu tidak kuat menyetir lagi.
Kemudian ia pijit-pijit dadanya karena terasa sesak dan nyeri. "Kejam sekali kau, Mas. Kejam!"
Cytra teringat kembali ketika hampir tertabrak truk trailer sehabis pulang dari nyanyi di cafe dan berhenti di halaman supermarket. Sama rasanya saat itu dadanya sesak dan nyeri. Tapi sekarang terasa lebih sakit. Seperti benar-benar telah dihantam truk trailer.
Dulu di depan supermarket seperti itu dia berkenalan dengan salah seorang penggemarnya, Ibra, yang kemudian menolongnya pulang ke rumah.
Sedangkan kini siapa yang akan menolongnya. Rasanya kini ia sendirian menanggung derita.
Dengan dada masih terasa nyeri Cytra memacu mobilnya pulang ke rumah. Kedua anaknya sore itu sudah pada mandi. Melihat mamanya datang dua bocah itu berlari menyambutnya riang gembira.
"Katanya Mama ke Bali?" tanya Putra.
"Pesawatnya rusak ditunda nanti malam."
__ADS_1
"Hore berarti Putra bisa ikut dong, Ma," teriak anak sulungnya gembira.
"Jangan, nanti Papamu marah."
"Biarin! Aku tidak mau panggil papa lagi kepadanya," putra nampak kesal.
"Kenapa? Ada apa kamu dengan Papamu?" tanya Cytra heran.
"Kakak Adit sering marahin Mama. Putra tidak suka Mama dimarahin terus oleh Kakak."
Cytra sontak teringat kembali kejadian di rumah Tante Mira. Ia menjadi sedih kembali dan tak terasa air matanya menetes.
"Kenapa Mama menangis? Mama baru berantem dengan Kakak, ya?" tanya Putra curiga.
"Tidak kok. Mama cuma kecewa tidak jadi berangkat ke Bali tadi pagi," jawab Cytra tidak mau menceritakan kejadian sebenarnya.
"Nanti malam pokoknya Putra ikut ke Bali."
"Sanjaya juga diajak ya, Ma." Anaknya yang nomor dua ikut bicara.
Cytra mendekap kedua anaknya erat-erat. Air matanya menetes lagi. Duka itu semakin menyayat-nyayat hatinya. Tidak kuat lagi dia bertahan tinggal di rumah Radita untuk menunggu pernikahan!
Tanpa dikatakan oleh Radita, ia tahu calon suaminya itu sudah menjatuhkan pilihannya sekarang. Muskil hubungannya dengan Radita dilanjutkan ke pernikahan. Dia sudah memilih Vionita sebagai istrinya.
Inilah yang Cytra takutkan sejak lama. Bahwa karma itu akan terjadi pada dirinya. Sekarang ia sudah tidak lagi menanggung perasaan bersalah kepada Vionita. Sudah tidak lagi menunggu karma akan datang. Karena karma itu sudah terjadi. Sudah dibayar lunas dosa-dosanya dengan kejadian di rumah Tante Mira tadi.
"Mama!" panggil Putra membuyarkan lamunan Cytra.
Kedua anaknya itu memandangnya penuh iba. Dua bocah yang biasanya terlihat lucu itu, kini dihadapannya terlihat sedih memandang dirinya. Sangat mengoyak kembali perasaan Cytra.
"Kalian benar mau ikut ke Bali?" tanya Cytra dengan wajah sembab karena baru menangis.
"Iya, Ma. Putra dan Sanjaya mau ikut Mama saja daripada ikut kakak," Putra nampak tidak ragu-ragu mengucapkan kalimat itu.
"Kalian mau hidup payah bersama Mama?"
"Mau, Ma. Putra tidak akan minta apa-apa lagi."
Cytra merasa sedih kembali mendengar kesanggupan kedua anaknya mau hidup bersamanya.
__ADS_1
Memang Cytra sekarang reputasinya sudah menjadi lady boss. Tetapi dia tidak mau menunjukkan kemewahan itu kepada kedua anaknya. Biar mereka bisa belajar hidup lebih sederhana.
Bersambung