
Kesabaran Ridwan diuji hari itu untuk menarik hati Cytra.
Walaupun berjam-jam yang ditunggu tidak kunjung datang, ia tetap setia duduk di bawah gazebo di samping rumah. Karena kasihan Pak Jono membawakan kopi panas dan pisang goreng.
"Katanya Tuan Ridwan calon suami Nyonya Cytra. Tidak enak dong kalau saya biarkan saja menunggu tanpa saya temani," kata Pak Jono ketika Ridwan menolak ditawari kopi panas dan kue pisang goreng.
"Dicicipi pisang gorengnya,Tuan," kata Pak Jono di bawah gazebo samping rumah. Tempat itu bisa dikatakan sebagai posnya Pak Jono yang bertugas menjaga rumah. Hawanya di tempat itu sangat silir oleh angin. Serta rindang karena ternaungi oleh dedaunan pohon trembesi.
"Kira-kira sampai sore nanti sudah pulang atau belum ya pak?" tanya Ridwan sambil mengunyah pisang goreng.
"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin sudah. Ayo dimakan lagi pisang gorengnya," kata Pak Jono yang juga mengambil kue itu sepotong.
"Enak Pak pisang gorengnya, siapa yang buat?"
"Itu ibu-ibu yang ada di dapur."
"Pak, nanti kalau sampai jam lima belum datang, saya tinggal pulang saja ya, Pak."
"Jangan Tuan. Tanggung. Nyonya nanti kecewa lho tidak bertemu Tuan." Entah sudah berapa kali pak tua yang baik hati itu mencegahnya sambil terus memberi semangat.
Akhirnya menjelang maghrib mobil Cytra yang mewah itu baru muncul di depan pintu gerbang. Klakson mobil terdengar keras sekali. Pak Jono bergegas lari membukakan pintu gerbang yang selalu tertutup rapat.
Dari bawah gazebo Ridwan memperhatikan mobil itu berjalan pelan ke garasi di samping ia duduk. Sehingga ia bisa melihat yang memegang kemudi adalah Maulana. Sedangkan Cytra dan kedua anaknya duduk di jok tengah.
Setelah mobil berhenti Cytra turun bersama kedua anaknya itu. Disusul Maulana setelah memasukan mobil ke garasi.
"Ya, ampuun..., lama ya kau menunggu disini," ucap Cytra melihat Ridwan kelelahan duduk bersandar di bawah gazebo.
"Tidak apa-apa. Saya sengaja datang kesini lagi karena ingin minta maaf atas sikap Mami tadi pagi kepadamu," kata Ridwan yang berdiri menyambut Cytra dengan menyalaminya. Sedangkan Maulana diabaikan.
"Ayo kita ngobrol di dalam saja?" ajak Cytra.
Ridwan tak segera mengikuti Cytra berjalan menuju ke dalam rumah melalui pintu samping.
Matanya tajam memandang Maulana yang bersikap seolah-olah sebagai pemenang merebut hati cytra.
"Tunggu disini. Sekarang giliranku yang menemani dia!" kata Ridwan dengan mimik tidak suka pada adiknya itu.
"Tidak usah ngatur-atur. Aku juga punya hak menemaninya," Maulana membangkang.
__ADS_1
"Kamu kan sudah seharian menemaninya. Kini giliran kakakmu dong," Ridwan ngotot.
"Emangnya ada apel pacar pakai sistem giliran." Pemuda urakan itu tetap membangkang.
Cytra yang berjalan sampai di depan pintu mendengar mereka berdebat, menghentikan langkahnya.
"Ayo masuk! Kok malah berunding disitu sih!" panggil Cytra.
Seketika itu mereka berhenti berdebat. Maulana hendak langsung menyusul Cytra, tapi Ridwan menahannya dengan memegangi tangannya.
"Dik, mohon kamu di luar dulu, nanti kalau saya sudah menyampaikan pesan dari Mami-Papi, kamu masuk tidak apa-apa," Ridwan berkata dengan sangat memohon.
"Memangnya aku bukan anak dari Mami-Papi yang tidak boleh mendengar juga apa pesannya kepada Cytra," Maulana tetap tak mau mengalah.
Huh!!
Dengan muka merengut akhirnya Ridwan berjalan bersama Maulana masuk ke dalam rumah Cytra dan duduk di kursi ruang keluarga.
"Saya baru dari rumah Tante Mira, mamanya Maulana. Maaf ya kamu nunggu lama," kata Cytra memandang ke arah Ridwan penuh perasaan.
"Ya, aku juga mengira begitu. Karena waktu aku datang sepeda motor Maulana sudah ada di samping rumah," Ridwan menutupi perasaannya yang cemburu kepada Maulana.
"Ya saya semula memang mengira begitu. Tapi apa mungkin kamu mau pacaran dengan cowok urakan seperti dia," kata Ridwan tidak khawatir kalau Maulana nanti tersinggung.
Mendengar kalimat itu Maulana malah tertawa ngakak.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Cytra heran melihat sikap Maulana yang senang disebut cowok urakan.
"Dia itu sebenarnya khawatir kalau Cytra dan saya benar-benar pacaran," jawab Maulana ganti menyerang Ridwan.
"Tapi nyatanya kita tidak pacaran, kan?" bantah Cytra cepat takut Ridwan cemburu.
"Kalau saya merasa kita ini tadi pacaran. Jelas kan kita pergi dan pulang bareng terus sepanjang hari," kata Maulana makin membuat Cytra tidak enak dengan Ridwan.
"Jangan bilang begitu! Nanti Kakakmu cemburu, dikira kita bener pacaran."
"Memangnya Kakak sudah mengikat janji dengan Cytra. Bukankah belum ada ikatan.apa-apa. Berarti boleh dong aku jadi pacarnya."
"Memang sih, belum ada ikatan. Tapi kami kan sudah sepakat untuk pacaran," kata Cytra berani.
__ADS_1
"Saya tidak percaya. Kapan Kakak menyatakan cinta. Orang bertemu saja duluan aku?"
"Memang kamu yang bertemu dulu denganku tapi yang menyatakan cinta lebih dulu adalah Ridwan dan aku menerimanya dengan hati terbuka," kata Cytra serius.
Mendengar pengakuan Cytra yang menajubkan itu, Ridwan ingin sekali berteriak sebagai juara di depan Maulana.
Tetapi Ridwan masih ragu. Jangan-jangan itu cuma untuk mempermainkan hatinya saja. Jelas sekali Cytra tersinggung waktu sikap Mami Ridwan terang-terangan tidak suka dengan penyanyi cafe.
"Kenapa kalian pada melongo begitu. Tidak percaya ya kalau saya menerima cinta Ridwan?" tanya Cytra.
"Saya percaya dan terimakasih cintaku telah kau terima," jawab Ridwan senang.
Sebaliknya Maulana kelihatan kecewa. Cowok urakan itu lalu pamitan pulang dengan tidak berkomentar apa-apa.
Setelah Maulana pergi Ridwan kemudian mengatakan akan menyampaikan kepada Maminya.
"Ya, sampaikan saja kepada orangtuamu. Namun hal itu belum final. Artinya kalau memang Mamimu tidak setuju saya tidak akan melanjutkan hubungan kita ke pernikahan. Karena kurang tepat sebuah pernikahan dilangsungkan tanpa doa restu ibu," ungkap Cytra
"Saya akan berusaha agar Mami merestui pernikahan kita nanti. Saya sendiri belum tahu apa yang akan kulakukan kalau Mami tetap tidak merestuai. Apakah tetap menikah denganmu dengan mengabaikan pendapat Mami. Atau menuruti apa-kata Mami."
"Kalau kejadiannya seperti itu lebih baik kau turuti kata-kata Mamimu."
"Ya, sudah. Kita berdoa saja semoga langkah kita ke depan lancar," ucap Ridwan.
Setelah diamini oleh Cytra, Ridwan lalu pamitan pulang.
Cytra merasakan hari itu begitu sangat melelahkan. Tidak hanya fisiknya saja yang lelah, tetapi pikirannya juga lelah. Situasi Rumah yang sejak semula ia tempati diharapkan akan nyaman ditempati, tidak terganggu oleh siapa pun, hari itu tamu datang beruntun mengganggu kenyamanannya menghindar dari keramaian.
"Apakah mungkin aku harus pindah ke tempat tinggal yang lebih sepi lagi sebelum Radita dan Vionita mengetahui persembunyianku," gumam.Cytra.
Saat ini Cytra belum ingin bertemu dengan Radita atau Vionita. Kejadian itu masih terbayang-bayang terus di benaknya.
Menyesal waktu itu ia datang ke rumah Tante Mira dan tak sengaja melihat Radita sedang menghajar Vionita penuh nafsu.
l
Dari keterangan Tante Mira tadi jelas bahwa persetubuhan itu disengaja oleh Vionita. Tidak mungkin Radita begitu nafsu tanpa pemicu obat perangsang yang diberikan oleh Vionita.
Bersambung
__ADS_1