
Benarkah bahwa Alberto akan sungguh-sungguh mengakhiri hubungannya dengan Hanna? Cytra merasa tidak yakin.
Sandiwara yang disusun oleh Alberto terkesan sangat mendadak dan mengada-ada. Hanna wanita petualang cinta itu pasti menganggap mereka cuma terlibat affair. Tidak serius akan menikah. Dan Tidak mungkin akan membuat Hanna pergi dari kehidupan Alberto sampai kapan pun.
Pagi itu sesuai skenario Cytra harus berada bersama Alberto di sebuah hotel. Pagi sekali Cytra bersiap-siap berangkat ke hotel dari rumahnya. Dia merasa dirinya seperti wanita bodoh mau melakukan hal yang seperti permainan anak-anak itu.
"Tidak apa-apa. Ini kan sebagai jalan kau dan Alberto menjadi pacaran beneran dan menikah," bisik batinnya saat Cytra menuju ke hotel tempat Alberto menginap.
Sebenarnya oleh perusahaan, Alberto sudah disediakan wisma untuk tempat tinggal. Hanna juga tahu hal itu. Tapi karena untuk mengecoh Hanna, pagi itu Alberto mengatakan tidur di hotel. Dan berhasil membuat Hanna curiga.
"Sayang, kenapa kamu tidur di hotel tidak bilang aku," tanya Hanna ketika menelpon Alberto dari tempat persembunyiannya. (Alberto menyebutnya tempat persembunyian karena Hanna tak pernah mau menyebutkan dimana dia bertempat tinggal dan menginap)
"Wisma yang disediakan perusahaan tidak nyaman untuk istirahat. Lebih asyik tidur di hotel," jawab Alberto dengan menekankan kata "asyik" agar Hanna curiga.
"Ah, itu cuma alasanmu saja di wisma tidak nyaman. Kayak aku tidak tahu saja kebiasaanmu tidak suka tidur di hotel," keluh Hanna.
"Ya memang karena tadi malam susah sekali aku tidur di wisma. Rasanya sumpek dan gerah," kata Alberto membuat Hanna curiga.
"Pasti ada apa-apa ini kamu tidur di hotel." Hanna benar-banar terpancing.
"Ya cuma tidak enak saja tidur di wisma. Lantas saya pindah ke hotel," kata Alberto tenang.
"Dengan siapa kamu tidur di hotel?" Hanna makin curiga.
"Sendiri."
"Saya tidak percaya. Awas kalau nanti kamu tidur dengan pelacur," kata Hanna lalu telpon ditutup.
Cytra baru datang ke hotel ketika Alberto selesai menerima telpon dari Hanna. Dia lalu mengajak duduk di teras kamar hotel. Batin Cytra tiba-tiba merasa sedih. Mengapa mau diperlakukan Alberto seperti wanita yang tidak ada harganya.
"Kamu kok lesu begitu, Ci. Ada apa kamu, sakit ya?" tanya Alberto.
"Tidak, Saya sehat segar bugar kok," kata Cytra.
__ADS_1
Fisik Cytra memang tidak sakit. Tapi batinnya bermasalah bertolak belakang dengan pikirannya. Ingin ia menolak dijadikan pacar bayangan Alberto. Tapi hatinya merasa terpanggil melihat pria itu selalu diperas oleh Hanna.
"Tapi kamu kelihatan tidak seperti biasanya yang ceria dan energik," kata Alberto.
"Perasaanku kok belum bisa menerima langkahmu ini aka menjauhkan Hanna darimu. Ini aku lakukan terpaksa karena kasihan melihat dirimu yang terus diperas olehnya," ungkap Cytra berterus terang.
"Jadi kamu menolongku karena terpaksa? Padahal aku mengharapkan kamu membantuku sepenuh hati lho. Jangan ragu-ragu begitu," kata Alberto tidak bisa menangkap perasaan Cytra yang sesungguhnya.
"Maaf menurutku kamu bisa mengusir Hanna dengan kekuatanmu sendiri. Tidak perlu bantuanku dengan pura-pura menjadi kekasihmu seperti ini. Aku tidak biasa melakukan suatu kebohongan."
"Kalau kamu tidak mau membantuku mestinya dari kemarin. Kalau sekarang rasanya sudah terlambat. Karena sebentar lagi Hanna datang."
Cytra kaget dan bingung mendengar Hanna sebentar lagi datang. Wanita keras kepala itu pasti akan langsung menuduhnya sebagai pelakor dan tuduhan lainnya yang mengerikan.
"Saya ini belum menikah dengan Hana. Belum punya status suami istri disini. Tidak bisa kamu disebut sebagai pelakor berada di kamar ini bersamaku."
"Maaf, lebih baik saya pulang saja, ya. Sebelum dia datang. Perasaanku ko tidak enak. Nanti dikira aku benar-benar sudah berhubungan intim denganmu?" Cytra panik.
"Jangan pulang dulu. Tunggu sebentar lagi dia datang. Tolong bantu aku," Alberto memohon.
HAH!!!
Kedua mata Hanna terbelalak melihat adegan mesra antara Alberto dan Cytra. Wanita yang sudah sangat berpengalaman sebagai petualang cinta itu menatap Cytra dengan bengis.
"Perampok! Dasar janda preman!" teriaknya melengking.
Cytra merasa malu bukan main dipeluk Alberto di depan kekasihnya. Dia berusaha melepaskan dekapan tapi Alberto malah semakin erat memeluknya.
"Jangan begini caramu melawannya. Hadapi dia dengan jantan," pinta Cytra.
Alberto kemudian melepaskan pelukannya lalu berdiri tegap menghadapi wanita berambut pirang dan bermata biru itu.
"Mau apa kau kesini, aku sudah tidak punya urusan lagi denganmu!" bentak Alberto.
__ADS_1
"Kita masih ada urusan, Sayang. Rencana pernikahan kita kemarin belum selesai. Ini proposalnya sudah saya buat untuk kamu tandatangani," kata Hanna melunak.
"Saya sudah tidak butuh lagi apa itu proposal. Pokoknya sekarang hubungan kita sudah berakhir. Kamu tidak perlu lagi menemuimu." ucap Alberto berani.
"Tidak bisa kamu seenaknya sendiri memutuskan hubungan. Kamu sendiri yang mengajak kita menikah, kan?" Hanna lebih pintar berdiplomasi.
"Ya, itu dulu sebelum aku tahu kamu wanita penghibur!"
"Saya kira aku sudah sering menjelaskan bahwa tuduhan itu tidak benar. Aku tidak terima kau katakan seperti itu lagi. Akan kubunuh siapa yang memfitnahku seperti itu. Perampok inikah yang mengatakannya?" Hanna menuding ke Cytra yang dari tadi cuma menunduk malu dan merasa bersalah.
"Hai! Jangan sembarangan kau menuduh. Dia tidak tahu apa-apa tentang kita."
"Selalu saja kau membelanya. Sekarang buktikan siapa wanita penghibur itu, aku atau dia?" kata Hanna sangat membuat Cytra terpojok dan semakin tidak bisa bicara.
"Dia kesini dalam masalah pekerjaan, bukan seperti yang kau tuduhkan," kata Alberto membela Cytra.
"Pekerjaan macam apa berpelukan di kamar. Saya kok sangsi kalau dia itu wanita pintar dan pekerja keras. Jangan-jangan bekerja sambil jual diri hahaha," ejek Hanna sengit.
Ucapan Hanna itu membuat mata Cytra terbuka lebar-lebar. Sadar kalau dia membantu Alberto dengan cara pura-pura menjadi kekasihnya sangat tidak bisa dibenarkan. Dari awal dia juga sudah berpikir kesitu. Tapi apa mau dikata sudah terlanjur basah. Maka lebih baik nyemplung sekalian!
"Hai! Wanita ******! Lihat dirimu sendiri kalau mau menuduh orang. Buka telingamu lebar-lebar kalau kami, saya dan Alberto, sudah sepakat untuk menikah. Tahu kamu?" Cytra bicara dengan menahan emosinya ysng meluap-luap.
"Haha...kapan pacarannya tiba-tiba kalian mau menikah," ejek Hanna lagi.
"Saya sudah tidak butuh pacaran seperti anak muda. Karena sudah dua kali menikah. Saya lihat Alberto juga sudah sangat dewasa. Sudah saatnya mempunyai istri yang syah. Maka kami sepakat hubungan cinta kasih kami ini kami legalkan dengan menikah dari pada pacaran."
Mendengar penjelasan Cytra itu Hanna seperti tersadar kalah gesit dengan Cytra. Namun dia tidak mau mengalah begitu saja.
"Ok. Aku percaya kalau kalian sudah sepakat mau menikah. Tapi jangan harap pernikahan itu bisa berlangsung lancar. Kau sudah menghalangiku menikah dengannya. Maka jangan menyesal bila nanti ada yang menghadang jalan kalian menuju pernikahan."
"'Sudah tidak perlu kamu panjang lebar bicara. Sekarang urusan kamu dan saya sudah selesai. Silahkan kalau mau meninggalkan tempat ini."
"Sialan kau, Al. Jangan merasa senang dulu kau. Sekarang saya pergi. Tapi lain kali pasti akan datang lagi menagih janjimu yang belum kau penuhi itu."
__ADS_1
Setelah berkata begitu Hanna keluar dari kamar dengan membanting pintu.
Bersambung