
Radita tidak menyangka malam itu akan bertemu dengan Hanna. Wanita perayu yang selalu mencari sasaran bos muda yang tampan.
Semula Radita datang ke klub itu bukan untuk mencari wanita seperti Hanna. Ia cuma mau minum-minum saja bersama teman-temannya. Hanya untuk menghilangkan hati yang kesal pada Vionita istrinya.
Tinggalah kini di sudut sofa ia merasakan kepala pusing karena kebanyakan minum. Sedang wanita cantik berambut coklat keemasan itu masih tetap menunggu. Seperti ular yang menunggu mangsanya benar-benar teler.
"Cytra itu wanita yang tidak mungkin merebut kekasihmu Arbeto. Karena dia itu cantik dan baik. Malah bisa jadi kekasihmu itu yang jatuh cinta sama Cytra," Radita masih bisa bicara namun dengan nada suara yang mendayu-dayu karena pengaruh minuman.
Hanna cuma tersenyum sedikit. Persoalan Arbeto dan Cytra itu merupakan persoalan kecil baginya. Karena dia bisa mendapatkan sepuluh Alberto sebagai penggantinya. Tapi bertemu dengan Cytra, seperti ajakan Radita, rasanya ia belum siap saat ini. Itu sama saja seperti masuk ke dalam perangkap yang berbahaya.
Peristiwa kecelakaan yang dialami Cytra jelas saat ini sedang dalam penyidikan pihak berwajib. Kecelakaan yang ia rekayasa sedemikian rupa dengan membayar seseorang. Hanna tidak mau masuk penjara karena ulahnya itu.
"Bagaimana, Na. Kamu berani bertemu dengan Cytra," suara Radita terdengar makin lirih karena pengaruh minuman.
"Ya, Tuan. Saya berani ketemu Cytra. Tapi yang penting sekarang keadaan Tuan agar pulih dulu," saran Hanna.
Keadaan Radita memang sudah parah gara-gara banyak minum. Sebaiknya memang harus istirahat dulu.
"Tuan mau pulang dulu nanti aku antar," Hanna menawarkan jasa.
Padahal ia ingin malam ini tidur dengan Radita. Walaupun dia tahu Radita adalah suami Vionita. Teman akrab mendiang ibunya dulu, yang ia panggil dengan bude sekarang.
Tapi demi melancarkan misinya ia pura-pura menawarkan jasa pada Radita untuk mengantarnya pulang.
"Aku tidak ingin pulang," suara Radita nyaris tak terdengar.
Hanna terkejut kenapa Radita tidak ingin pulang. Bukankah yang ia tahu hubungan Radita dan Vionita baik-baik saja. "Berarti sedang punya masalah dia dengan Vionita," gumamnya.
"Baiklah, kalau Tuan tidak ingin pulang, Tuan mau istirahat dimana saya antar," kata Hanna manis.
"Saya sudah boking kamar di lantai sebelas. Tolong antar saya kesana," ucap Radita.
__ADS_1
Hanna bersorak sorai dalam hati. Misinya sebentar lagi akan berhasil sukses dengan hasil yang banyak. Seperti yang pernah ia lakukan dengan Alberto.
Beberapa saat kemudian Radita sudah tak kuat lagi berjalan. Ia menurut saja dirangkul oleh Hanna berjalan meninggalkan klub yang berada di lantai dua di hotel tempat Hanna menginap itu.
Di dalam lift Hanna bukan memencet tombol nomor lantai 11 tapi 13. Karena kamarnya sendiri ada di lantai itu.
Radita sudah tidak memperhatikan lagi sekelilingnya. Kedua matanya terpejam karena berat untuk dibuka. Ia nurut saja keluar dari lift masih dirangkul oleh Hanna. Lalu masuk ke kamar 3003, kamar yang biasa dipakai untuk membantai mangsanya.
Di dalam kamar Hanna rebahkan Radita ke Ranjang dengan pelan-pelan. Pria yang sudah mabuk berat itu tengkurap mencium bantal. Cuma terdengar suara Radita menghela nafas.
Hanna lalu melepas bajunya sendiri sehingga hanya mengenakan bra kuning emas. Seperti Cleopatra wanita berambut coklat keemasan itu mendekati Radita setelah ia menghidupkan sesuatu di sudut kamar.
Radita yang masih tengkurap merasa ada bau wewangian yang merangsang hidungnya. Lalu ia membalikan tubuhnya dan membuka matanya. Nampak yang ada di depannya bukan lagi Hanna tapi sosok Cytra yang sudah penuh hasrat bercumbu.
"Cytra...," suara Radita terdengar serak bersamaan Hanna mengusap rambut dan pipinya.
Hanna berhenti mengusap sejenak. Mengapa Radita memanggil Cytra bukan Vionita istrinya? Apakah masih ada masalah mereka bertiga?
"Ya, sayang...." Hanna mengusap lagi pipi Radita.
Agak risih juga Hanna disangka Cytra. Tapi hal itu justru meningkatkan hasratnya untuk mengerjai Radita malam itu. Apalagi Radita sudah memainkan bra yang berwarna kuning emas. Hanna tak ragu lagi mencium bibir suami sahabatnya itu. Ia kulum bibir yang tebal itu dengan manis. Radita pun melorotkan bra kuning emas dan menggenggam isinya seperti ia menggegam balon.
Semenit kemudian pakaian Radita sudah terlepas semuanya. Begitupun ratu cleopatra itu. Bergulatan panjang di atas ranjang itu terekam dengan jelas oleh kamera di sudut kamar. Radita tidak menyadari yang ia gumuli adalah Hanna wanita penghibur yang sangat berbahaya itu. Karena yang nampak di matanya adalah Cytra, wanita yang hampir ia nikahi.
Radita tertidur pulas usai permainan itu. Dan pagi harinya ketika ia terbangun kaget melihat yang ada di sampingnya adalah Hanna.
Wanita itu tersenyum penuh kemenangan memandangnya.
Menyadari dirinya telanjang bulat Radita buru-buru bangkit dari kasur dan mencari pakaiannya. Ternyata pakaiannya berserakan di lantai bercampur dengan pakaian Hanna. Radita dengan cepat memunguti pakaian itu lalu dikenakannya. Setelah itu hendak pergi meninggalkan Hanna.
"Tuan jangan pergi dulu!" cegah Hanna yang masih tetap berbaring di ranjang. "Tuan harus bertanggung jawab atas perbuatan Tuan semalam!"
__ADS_1
"Saya berbuat apa saya tidak tahu," jawab Radita gugup.
"Tuan tadi malam telah memperkosa saya. Saya sudah mencegah, tetapi tuan memaksa saya untuk melayani nafsu Tuan," kata Hanna tenang dengan sambil duduk di ranjang.
"Saya tidak merasa menggaulimu," tangkis Radita dengan perasaan kacau.
"Tuan memelukku melucuti pakaianku dan menyetubuhiku apa Tuan tidak ingat semuanya itu," Hanna merefres pikiran Radita agar ingat apa yang sudah ia lakukan.
"Aku tidak mau tahu. Aku mau pulang. Kasihan Vionita semalam aku tinggalkan," kata Radita lantas bergegas menuju ke pintu keluar.
Melihat Radita mau pergi Hanna meloncat dari ranjang. Lalu menghadang Radita di depan pintu hanya mengenakan bra dan CD.
"Tuan jangan pergi selesaikan dulu masalah kita!" Hanna menggertak.
"Tidak ada yang perlu diselesaikan. Karena kita berhubungan atas dasar suka sama suka," Radita tidak mau disalahkan.
"Kalau itu hubungan suka sama suka. Kenapa Tuan ketakutan mau buru-buru pulang," kata Hanna merayu dengan mengelus pipi Radita.
"Jangan merayuku lagi. Apakah kamu tidak kasihan kepada Vionita. Bukankah dia sahabatmu sendiri," kata Radita melembek.
"Ya, kasihan Tuan. Tapi mau bagaimana lagi kita sudah berhubungan sejauh ini tanpa kita sadari," Hanna semakin menekan perasaan Radita dengan kata-katanya yang manis.
"Pokoknya Ini rahasia kita berdua. Jangan sampai Vionita tahu hal ini," pinta Radita tanda dia sudah terkena bisa dari kata-kata wanita bermata biru itu.
"Tidak Tuan. Percayalah padaku. Aku nanti akan ikut menjaga rahasia ini," kata Hanna berusaha meyakinkan.
Radita diam sejenak. Menyadari di depannya ada wanita cantik yang sudah setengah telanjang hasratnya sebagai pria normal muncul lagi.
"Aku mau mandi kayaknya kotor sekali badanku," ucap Radita kemudian.
"Aku juga, Tuan. Kita mandi bareng ya, Tuan," bujuk Hanna.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Radita, Hanna mengikuti Radita masuk ke kamar mandi. Radita tidak menyadari kalau dirinya sudah terjebak ke dalam perangkap Hanna yang sangat manis itu.
Bersambung