Wedding Agreement

Wedding Agreement
99.Persiapan


__ADS_3

Ega di ruang kerjanya sedang memeriksa laporan foto kiriman asisten Rian tentang persiapan acara besok malam yang akan di gelar di hotel cabang Albram yang bersebelahan dengan rumah sakit yang hanya berjarak 500 meter saja.


Ega menggeser satu persatu foto yang ada di ponselnya ia tersenyum simpul merasa puas akan konsep yang ia susun untuk acara ulang tahun istri tercintanya sekaligus ulang tahun rumah sakit yang ia dirikan enam tahun lalu.


"Semoga besok berjalan lancar, dan semua dunia akan tahu jika kamu milikku. Nyonya Albram, dengan begitu aku akan secepatnya membuat Asha kecil sebagai penerus kita," lirih Ega meletakan ponselnya.


Tok .. tok ..


"Masuk!"


Rizki pun segera masuk setelah mendapatkan izin dari sang bos sekaligus sahabatnya itu. Ia segera duduk di sofa dengan mengangkat salah satu kakinya ke atas dengan menyadarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia segera menyalakan satu batang rokok yang ada ditangan kanannya, ia mulai menyesapi lalu membuangnya begitu saja hingga asap keluar dari hidung serta mulutnya.


"Gimana pekerjaan kamu? Apa kamu sudah membereskan semuanya?" tanya Ega menghampiri sahabatnya itu dengan membawakan dua botol teh dingin dari kulkas yang ada di ruangannya.


"Beres, apa kamu benar-benar ingin berhenti dari dunia hitam?!"


"Maksud kamu? Dunia hitam?! Itu bukan dunia hitam, aku menjadi ketua mafia hanya ingin menegakkan kebenaran. Aku juga tidak pernah membantai manusia, aku selalu menyerahkan semua pada pihak berwajib. Sekarang semua sudah setuju kan jika ketua mafia aku alihkan pada Haikal?"


"Awalnya Haikal menolak karena belum siap, tapi semua menyakinkannya maka dia setuju."


"Besok adalah hari pentingku, ku harap kalian menyusun keamanan di hotel Albram. Kamu tahu banyak musuh kita yang tidak terlihat, aku tidak ingin acara yang menjadi momen spesial seumur hidupku berantakan. Kalian harus menyusun siasat jika terjadi kerusuhan segera amankan mereka. Kalian jangan mengunakan kekerasan besok! Aku juga telah menyewa puluhan keamanan polisi," jelas Ega.


"Segitunya kamu! Oya, besok aku ajak pacar aku ya," ucap Rizki.


"Apa pacar?! Sejak kapan kamu punya pacar? Aku kira kamu akan menjadi jomblo ngenes sampai tua," tawa Ega.


"Dasar kamu, aku ini juga tampan semua wanita pada antri untuk mendapatkan aku. Sudah aku kesini menyampaikan ini saja. Sampai ketemu besok, aku pamit," ucap Rizki pergi meninggalkan ruangan Ega.

__ADS_1


****


Asha yang selesai mengikuti magang ia segera berjalan menuju parkiran untuk menuju mobil lamboghiri milik suaminya yang ia bawa.


"Sha, kita kok jalan menuju parkiran mobil? Kamu ngak pulang sama suami kamu?"


"Aku bawa mobilnya Mas Ega, dia sibuk jadi aku suruh bawa mobil sendiri," jawab Asha santai dengan berjalan menuju mobil mewahnya.


Bela yang mendengar percakapan Diana dengan Asha segera ikut bicara untuk menyinyirnya


"Suami?! Mana mungkin suami kamu punya mobil mewah. Dia itu hanya ob, pasti itu mobil milik papa kamu. Mana ada ob bisa beli mobil yang harganya sampai milyaran," cibir Bela dengan tertawa.


"Sudah, Sha. Bela ngak usah kamu diladeni orang kayak dia itu adanya hanya syirik. Mending kita pulang saja," saran Diana dengan menarik tangan sahabatnya.


"Malu ya punya suami ob. Orang kaya, putri dari Raka Wijaya tapi seleranya rendahan ngak ada derajatnya sama sekali," ledek Bela sedikit meninggikan suaranya hingga kini mereka jadi pusat perhatian semua orang yang ada di parkiran mobil.


Sabar! Sabar! Kamu harus sabar, Asha. Jangan sampai kamu terpancing omongan dia. Buatlah dia besok terkejut akan kesempurnaan suami kamu batin Asha berjalan lurus tanpa menoleh ke arah Bela.


"Auw sakit," pekik Asha dengan mengibaskan tangannya yang sakit. "Kenapa aku harus memukul tanganku sendiri, kalau begini yang menderita juga aku," lirihnya.


"Menderita apa?" tanya Diana yang baru saja duduk di samping Asha. "Minum dulu, ini es cappucino agar pikiran kamu adem tidak kebakaran," goda Diana.


Asha segera mengambil alih satu cup cappucino dengan menyeruputnya beberapa kali.


"Sha, ini benaran mobil suami kamu ya? Sha apa aku boleh tanya sesuatu padamu?"


Semoga saja aku bertanya tentang suaminya Asha tidak akan marah padaku batin Diana memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Tanya saja. Iya, ini memang salah satu dari koleksi mobil Mas Ega. Kamu tahu ngak ternyata Mas Ega itu Mas Rama ku. Dia itu suami idaman banget dech sempurna. Sudah jadi imam yang baik, tampan kaya raya pula. Kamu jangan terkejut besok jika pujaan hatimu jadi milikku," kata Asha panjang lebar.


"Pujaan hati maksud kamu?"


"Dokter Al, kamu kan fans banget dengan dokter dingin misterius itu tapi nyatanya dia itu berhati lembut, romantis abis. Pokoknya perfect banget dia."


Benar dugaanku selama ini kalau dokter Al itu suaminya Asha. Pantas saja waktu beberapa hari lalu saat aku menghubungi Asha tidak asing dengan wajah Ega yang seperti familiar batin Diana.


"Patah hati tidaklah, aku kan sudah punya gebetan baru. Dia itu dingin-dingin lembut gitu pastinya dialah yang akan mengejar-ngejar aku," elak Diana sambil membayangkan sosok laki-laki yang tidak sengaja bertemu dengannya beberapa kali dengan kejadian tidak enak.


"Siapa dia? Seperti apa orangnya? Tampan tidak? Satu kampus dengan kita atau dokter juga?"


"Bukan semua, sepertinya dia orang kerja kantoran pakainya resmi dia itu sangat menawan," puji Diana membayangkan saat pertama ia ketemu dengan laki-laki misterius yang membuat detak jantungnya tiba-tiba berdebar dengan begitu cepat.


"Aku jadi penasaran siapa sich yang membuat Diana wanita cuek, kutu buku ini jatuh cinta. Aku kira kamu akan jadi perawan tua," ledek Asha dengan menyalakan mesin mobilnya.


Saat itu juga ponselnya bergetar ia pun segera mematikan mesin mobilnya lalu meraih ponselnya. Melihat nama hubby yang tertera di layar benda pipih miliknya, ia segera menggeser tombol hijau itu.


"Assalamualaikum, Sayang sudah pulang?" sapa Ega di depan layar ponselnya dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Waalaikumsalam, ini mau pulang, Mas Kamu lagi dimana? Ini aku sama Diana, mau cari makan siang dulu baru pulang, bolehkan, Mas." Asha meminta izin pada suaminya.


"Boleh, ingat jangan main lama-lama. Setelah itu pulang ya. Mas sudah mengirim beberapa orang ke apartemen untuk perawatan kecantikanmu, jika sudah sampai rumah kabari Mas ya, biar mereka segera datang," jelas Ega.


"Kenapa mereka harus datang? Tidak aku saja yang ke tempat spa saja, biar aku ditemani dengan Diana?" tawar Asha.


"Tidak, sudah dengar perintah Mas. Itu lebih baik di rumah. Belum tentu nanti di tempat spa semua karyawannya perempuan, kamu mau dosa?" tegur Ega yang tidak setuju dengan ucapan suaminya.

__ADS_1


"Iya, dech. Benar juga kata kamu, Mas. Sudah kalau begitu aku ajak Diana sekalian ya, boleh ngak kita ngak jadi makan di luar?" izin Asha.


Ega hanya diam menatap istrinya dibalik layar ponselnya, ia masih memikirkan sesuatu.


__ADS_2