
Arsen membalikkan badan menatap sang mama, "Beri waktu aku untuk berpikir."
"Sampai berapa hari kamu berpikir kita cuma punya waktu dua hari tidak ada banyak waktu. Pikirkan dengan benar, mama ingin yang terbaik buat kamu. Mama ingin kamu bahagia, nak. Sudah sekian lama mama tidak melihat senyum tulus kamu," ucap Asha memeluk putranya.
Arsen membalas pelukan sang mama, "Aku selalu tersenyum dengan tulus mah."
.
.
.
Dua hari kemudian, Arsen yang belum kembali ke New York duduk di ruang tamu bersama sang adik Shihab untuk sekedar mengisi waktu longgar dengan pembicaraan ringan.
"Kak, gimana?" tanya Shihab.
"Apanya?"
__ADS_1
"Itu masalah dosen pengganti apa kakak sudah memikirkan? Mama sangat berharap kakak bisa menjadi dosen pengganti di yayasan kita. Ini ada kesempatan untuk meraih cita-cita kak Arsen lo, dulu kakak selalu ingin jadi guru sekarang saatnya ada kesempatan kenapa tidak di manfaatkan saja," jelas Shihab.
Arsen hanya menanggapi dengan senyum.
Shihab melihat sang kakak tersenyum, ia memiliki kesimpulan jika Arsen telah bersedia menjadi dosen pengganti.
"Mama, sini! Kakak Arsen sudah setuju," teriak Shihab. Ia memanggil sang mama dengan kegirangan akhirnya tahap rencana awal akan di mulai.
Arsen membekap mulut sang adik sebelum mamanya mendengar perkataan Shihab.
"Kak, kalau aku sudah lulus juga pasti akan jadi dosen. Kakak tahu aku masih umur 20 tahun, terus aku juga masih S1. Kalau kakak emang ngak mau cepat bilang sama mama, biar beliau cari orang lain," ucap Shihab berlalu pergi.
Arsen berjalan menuju dapur untuk mencari mamanya, ia harus segera memberi tahu keputusannya agar sang mama segera mencarikan dosen yang lain.
Aku heran sama mama, kenapa juga repot-repot ngurusi universitas ngak masuk akan banget. Biasanya beliau cuek, disana juga sudah ada dekan yang menanganinya. Kita kan keluarga Atmaja hanya menanam saham berapa persen saja heran aku sama mama batin Arsen.
Arsen yang berjalan tanpa sengaja menubruk seseorang yang sedang membawa belanjaan kebutuhan dapur.
__ADS_1
"Bibi hati-hati kalau jalan," tegur Arsen dengan memunguti sayuran memasukkan ke dalam keranjang belanjaan.
"Yang harusnya hati-hati kamu, Nak. Mama perhatikan dari sini kamu yang jalan sambil melamun, ada masalah kamu?" sahut Asha.
Arsen mendekati sang mama yang sibuk mengupas bawang merah dan bawang putih untuk memasak menu makan siang.
William berdiri di dekat sang mama, dengan memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana kainnya. Ia mengatur nafasnya sebelum berbicara dengan keputusan yang akan ia ambil sekalian ia mengutarakan pendapatnya untuk berpamitan.
"Mah, ada yang ingin Arsen katakan pada mama," lirih Arsen. Ia mengambil satu potong bawang putih untuk membantu mengupasnya.
"Katakan, nak! Apa ini berhubungan dengan saran mama kemarin?"
"Benar, maafkan Arsen. Arsen tidak bisa menjadi dosen, dulu memang cita-citaku dari kecil menjadi guru tapi saat ini semua sudah berubah. Arsen ingin menjadi pengusaha sukses seperti papa, sekali lagi maaf, mam. Arsen lagi-lagi membuat mama kecewa," lirih Arsen memeluk Asha.
Bersambung..
Kalau bonus part Arsen dibuat season 2 ada yang baca ngak ya? 🤔🤔🤔 yuk kasih pendapat atau komen kalian..
__ADS_1