
Arsen menghampiri Adiba yang sibuk menyiapkan hidangan diatas meja, ia memeluknya dari belakang membuat Adiba melonjat terkejut dengan tangan yang melingkar diperutnya.
Ia merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri jika terus-terusan begini, ia menjadi mahluk Allah yang selalu berbuat zina. Ia harus mencari solusi agar tidak semakin banyak dosa yang ia perbuat.
"Sen, tolong dong lepaskan!" lirih Adiba. Ia tahu Arsen dengan dirinya bukanlah anak kecil atau masa remaja. Ia adalah orang dewasa yang mungkin memang sudah waktunya untuk memenuhi kebutuhan biologis yang selama ini belum pernah ia lakukan. Sangat wajar mereka mendapatkan bisikkan setan untuk melakukan ayut di usianya yang hampir kepala tiga.
Melihat Arsen tidak kunjung melepaskannya, ia mulai buka suara mengutarakan isi hatinya agar tidak semakin bersalah.
"Sen, kamu pernah dengar sebuah hadist ini ngak," ucap Adiba melafalkan sebuah ayat dengan begitu merdu.
َلاَنْيَقْرَعَ الرَّجُلُ قَرْعًا يُخْلِصُ اِلٰى عَظْمِرَ أْسِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ تَضَعَ امْرَاَةٌ يَدَهَا عَلٰى رَأْسِهِ لاَتَحِلُّ لَهُ، وَِلاَنْ يَبْرُصَ الرَّجُلُ بَرَصًا حَتّٰى يُخْلِصَ الْبَرَصُ اِلٰى عَظْمِ سَاعِدِهِ لاَتَحِلُّ لَهُ
__ADS_1
"Yang artinya : Sungguh, jika seseorang dipukul sampai menembus tulang kepalanya adalah lebih baik daripada kepalanya disentuh oleh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya. Dan sungguh, seandainya seseorang menderita lepra yang parah hingga menembus tulang lengannya adalah juga lebih baik baginya, daripada ia membiarkan seorang wanita meletakkan langannya ke alas lengannya, padahal wanita itu tidak halal baginya," jelas Adiba lagi.
"Apa maksud itu?" tanya Arsen yang pura-pura tidak paham ucapan Adiba, sebenarnya ia mengerti jika wanitanya tidak ingin berbuat dosa tapi ia sudah terlanjur.
Adiba melepas tangan Arsen, ia menarik kursi disampingnya. "Duduklah! Ayo kita sarapan aku sudah sangat lapar."
"Sen, mau dibawa mie milikku," ucap Adiba dengan tatapan datar.
"Mau aku buang, itu makanan tidak sehat. Ini masih pagi sebaiknya kita makanan pembuka yang bergizi, jangan sekali-kali makan mie instan lagi. Aku ngak mau kamu sakit seperti dulu gara-gara makanan instan."
__ADS_1
"Sen, aku sudah ada dua tahun ngak makan mie instan. Izinkan kali ini aja ya, aku ingin makan itu mubazir jika terbuang. Kamu tahu diluaran sana banyak orang ngak bisa makan," ucap Adiba mengambil mangkuk yang dipegang oleh Arsen.
Arsen yang tidak tega itupun akhirnya mengalah, "Janji cuma sekali ini."
Adiba menjulurkan jari kelingkingnya untuk tidak ingkar janji. "Janji dech, lain kali ngak lagi."
"Habis ini aku kerja, mungkin pulang larut malam. Kamu dirumah baik-baik ya, jangan lupa makan yang teratur. Jangan kemana-mana! Ini buat kamu, kalau ada sesuatu segera hubungi aku," tutur Arsen dengan menyodorkan sebuah ponsel baru merek iphone pengeluaran terbaru.
Adiba mendorong ponsel yang tergeletak diatas meja kearah Arsen. Ia merasa tidak butuh ponsel, ia masih memiliki ponsel yang masih dapat ia gunakan.
"Aku sudah punya ponsel," tolak Adiba.
__ADS_1
"Ponsel?! Ponsel yang mana? Sudah aku buang, ponsel kamu sudah rusak. Oya aku berangkat, jangan lupa pesanku! Nanti jika senggang aku akan menghubungi kamu untuk membahas masalah pernikahan kita, aku ingin segera dilaksanakan agar kamu tidak takut lagi aku sentuh," ujar Arsen dengan mengecup sekilas kening Adiba.