
Mendengar adzan subuh dari suara ponselnya, Asha segera mencari kesadaran lalu mengusir ngantuk serta letih, lelah pada sekujur tubuhnya, ia masih ingin bermalas-malas di atas kasur empuk miliknya dengan memeluk erat tubuh suaminya yang masih tertidur dengan pulas.
"Rasanya tubuhku remuk semua, ingin aku seharian rebahan saja. Ini ulah Mas Ega yang tidak mau berhenti bercinta," umpat Asha dengan menarik selimutnya kembali.
"Jangan mengumpat seperti itu, Sayang! Kamu tadi malam juga menikmatinya kan? Kamu saja mendesah ingin dan ingin lagi makanya aku juga mengikuti kemauan kamu jadi jangan menyalahkan, okey. Itu juga dapat pahala, sudah masih jam setengah lima rebahan dulu, aku siapkan air hangat untuk kamu mandi," tutur Ega menggecup kening istrinya.
Kapan dia bangun? Ah, aku salah bicara lagi. Memang benar kata dia aku tadi malam memang menikmati permainannya batin Asha mengingat jelas kejadian tadi malam yang membuatnya ifil malu sendiri akan sikapnya.
"Biar aku siapkan sendiri saja, Mas! Kamu juga lelahkan? Oya, Mas kamu nanti ke rumah sakit tidak?"
Ega menatap istrinya yang masih bermanja-manja di bawa ketiaknya.
"Mau kamu gimana?" tanya Ega dengan mengusap lembut rambut Asha yang masih berantakan.
"Aku maunya kamu ke rumah sakit Mas. Aku binggung nanti pasti semua orang pada sok baik atau jangan-jangan mereka mebully aku karena aku jadi pemilik rumah sakit. Apa mungkin musuh-musuh kita akan melempar telur ke arahku?" Asha membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Ega menyentil kening istrinya itu agar berpikir positif.
"Awu," pekik Asha dengan mengusap jidatnya. "Mas Ega ini sakit tahu, kamu mau istrimu ini jidatnya gosong merah. Ini namanya KDRT?!" cabil Asha.
"Habis kamu berpikir pendek sekali, mana ada orang yang berani melukai kamu. Disana semua ada cctv, kamu aman, aku juga sudah membereskan semua orang yang pernah menghina juga merendahkan kita."
"Maksudnya membereskan? Apa Mas Ega memecat Pak Doni?"
"Tidak, aku hanya memperingatkan saja, sebenarnya kerja dia bagus namun hanya karena bujukan anaknya dia jadi egois. Aku tidak ingin memutus rejeki seseorang apa lagi dia yang cari nafkah, dia adalah tulang punggung keluarga jadi aku memberikan toleransi padanya dengan syarat dia memang benar-benar mau berubah," jelas Ega.
Ya Allah, Mas Ega memang benar-benar berhati malaikat padahal dulu dia sudah dihina, di tindas tapi dia masih mau memaafkannya memikirkan masa depan keluarga orang itu batin Asha.
"Apa dia sudah minta maaf kepada kamu, Mas?"
"Iya, bahkan ia ingin bersujud di kakiku tapi aku tidak membiarkan hal itu. Aku bukan Allah yang bisa menghakiminya, sudah cepat mandi sana habis itu kita salat berjama'ah."
****
Asha segera membuatkan nasi goreng untuk sarapan mereka berdua. Setelah siap ia segera menyajikan di atas meja makan dengan di temani secangkir kopi.
"Sayang, menunya apa hari ini?" tanya Ega yang baru saja tiba di meja makan.
__ADS_1
Asha yang melihat suaminya dengan penampilan yang masih acak-acakan berjalan menghampirinya. Asha segera sedikit berjijit untuk mengimbangi suaminya yang lebih tinggi darinya lalu ia segera membenarkan dasi suaminya agar terpasang dengan rapi.
"Sudah, ini baru keren," lirih Asha dengan menepuk beberapa bagian pada jas yang dikenakan suaminya.
"Memang tadi ngak keren?!"
"Kamu itu tidak pakai apa-apa aja juga keren, Mas. Cuma tadi sedikit kurang rajin aja, makanya aku rapikan. Sudah ayo sarapan aku buatkan nasi goreng jawa kesukaan kakek, kamu biar tahu rasanya."
Asha segera menarik kursi untuk duduk suaminya, lalu menuangkan air putih ke dalam gelasnya.
"Sayang ini nasi goreng kesukaan kakek? Ini juga kesukaanku, nasi goreng ada ikan terinya di tambah petai goreng sangat mantul," jelas Ega.
"Kamu benaran suka dengan nasi goreng ini, Mas?" tanya Asha. Ia takut jika suaminya itu berbohong demi menyenangkan hatinya saja.
"Benaran suka, aku ngak bohong. Jika kamu malas masak cukup buatkan Mas sambal trasi dengan lalapan petai itu saja sudah cukup buat menu makanku, sayang."
Mereka menikmati sarapan pagi tanpa ada percakapan lagi di antara mereka hanya ada detingan suara sendok dan garbu.
Berakhirlah sudah cerita kita
Setelah sekian lama bersama
Yang hanya menyisakan luka
Ku coba menahan perih yang ku rasa
Walau ini menyakitkan
JIika menyakiti aku bisa membuatmu bahagia
Maka lakukanlah itu, tanpamu ku yakin bisa
Ikhlas ku mencintaimu, ikhlas ku kehilanganmu
Semoga kau bahagia dengan pilihanmu itu
Kau bersama dia, aku bersama doa
__ADS_1
Suara lagu cinta dalam doa dari souqy tanda ada sebuah panggilan masuk yang berbunyi berkali-kali dari suara ponsel Asha menghentikan aktifitas makan mereka.
"Siapa? Pagi-pagi sudah menghubungi kamu?" tanya Ega menyelidik.
Asha segera meraih ponselnya yang ada di dalam tas jinjingnya.
"Bang Nathan!" lirih Asha melihat nama yang terpampang jelas di layar ponselnya. "Tumben sepagi ini Bang Nathan menghubungku apa ada sesuatu," ucapnya lalu menggeser tombol hijau.
"Hallo, assalamualaikum," sapa Asha.
"Waalaikumsalam, kamu lama banget angkat teleponnya? Dimana sich kamu?" kesal Nathan yang sudah hampir satu jam menunggu adik kesayangannya itu di tempat parkir apartemen dimana adiknya tinggal.
"Aku ya di apartemen ini lagi sarapan, Bang. Habis ini mau ke rumah sakit. Kenapa Abangku yang tampan ini sepagi ini sudah menghubungiku apa kangen sama adik kesayanganmu ini," ledek Asha.
"Kangen! Tidak buat apa aku kangen sama kamu. Yang ada aku kesal sama kamu, aku nunggu kamu sampai jamuran, sudah cepat turun aku tunggu dibawah!" hardik Nathan.
"Bang, kamu ada di apartemenku sekarang?" tanya Asha memastikan keberadaan abangnya.
"Iya adekku yang bawel, sudah cepat turun!" perintah Nathan.
Kenapa Bang Nathan kesini dan tidak mau naik? Apa jangan-jangan dia kesini mau memarahiku karena aku tadi malam sudah membuat Asha menangis. Tapi sepertinya Asha tidak menghubungi siapa-siapa atau jangan-jangan Asha mengirim pesan kepada Bang Nathan aku harus gimana ini? Gimana jika Asha akan dibawa Bang Nathan pulang ke rumah Papa batin Ega mulai khawatir.
"Bentar aku siap-siap turun dulu, Bang Nathan tunggu lima belas menit lagi ya," jelas Asha.
"Apa?! Lima belas menit? Lima menit ada tawar menawar," hardik Nathan lalu mematikan ponselnya.
Asha melihat panggilan teleponnya di matikan segera mengeluarkan umpatan serapahnya, "Marah-marah ngak jelas."
"Sayang, Bang Nathan kenapa? Dia ngapain kesini? Apa mau memarahiku?" cecar Ega dengan berbagai pertanyaan.
Asha hanya mengangkat kedua bahunya.
"Memang memarahin kamu kenapa?" tanya Asha.
"Gara-gara membuat kamu menangis tadi malam mungkin."
"Bisa jadi itu Mas, habis kamu bercanda juga keterlaluan. Sudah ayo turun!" ajak Asha.
__ADS_1
"Kamu turun saja duluan ya, nanti aku nyusul."
Asha segera menarik tangan suaminya agar mau turun bersamanya.