Wedding Agreement

Wedding Agreement
166.Eps 166


__ADS_3

Ega melihat empat dokter terbaik yang mengelilinginya dengan nafas tersengal-sengal bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kalian kenapa berlarian kesini?" tanya Ega.


Semua dokter saling menatap, baru kali ini mereka menemui pasien yang tersadar dari koma seperti orang bangun tidur. Ega dengan wajah jauh dari lebih segar dari pada sebelumnya seperti tidak menunjukkan gejala yang berbahaya.


"Mas mereka sengaja aku panggil untuk melihat kondisi kamu. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan kamu. Kamu itu sudah koma selama satu bulan, rasanya aku ingin ikut kamu pergi menghadap ke sang pencipta jika kamu kembali kepadanya. Aku ngak bisa hidup tanpa kamu, aku juga ngak sanggup membesarkan anak kita sendiri," jelas Asha.


"Sayang, jangan asal bicara! Kamu harus bersyukur jika masih diberi panjang umur. Berarti kamu harus lebih mendekatkan diri pada Allah dan sebarlah kebaikan. Sudah jangan asal bicara, mana ponselku?" tanya Ega.


Ini baru sadar sudah tanya ponsel, harusnya yang ditanyakan itu kabarku gimana atau gimana perkembangan janin yang ada di dalam rahimku umpat Asha.


"Kalian boleh pergi! Aku baik-baik saja, nanti jika terjadi sesuatu aku pasti akan memanggil kalian," perintah Ega.

__ADS_1


Setelah kepergian para dokter berbagai spesialis profesional, ia menepuk ranjang sampingnya yang sedikit longgar untuk istrinya naik ke atas ranjang tidur bersamanya.


Asha menaikan alisnya menatap suaminya.


"Tidurlah disampingku, aku merindukan kamu."


Asha yang juga sangat merindukan suaminya itu segera merebahkan tubuhnya disamping Ega dengan posisi terlentang. Ia sangat merindukan belaian usapan lembut diperutnya.


Ega membenarkan posisi tidurnya sedikit miring dengan menopang kepalanya dengan tangan kanannya dan tangan kirinya mengusap perut istrinya untuk merasakan tendangan-tendangan kecil dari buah hatinya.


"Alhamdulilah mereka sangat aktif mas, kata dokter tinggal beberapa hari lagi masa persalinan. Mas cepat sehat ya, nanti temani aku melahirkan aku takut jika sendirian."


"Pasti itu sayang, aku akan selalu mendampingi kamu. Suamimu ini tidak sakit, aku ini sehat. Oya mana ponselku?" tanya Ega kembali.

__ADS_1


Sebenarnya buat apa sich dia cari ponsel saja, aku kan masih ingin bermanja-manja dengannya batin Asha. Siapa yang ingin dia hubungi?


"Mas kamu lapar tidak? Aku suapin ya?" bujuk Asha mencoba mengalihkan pembicaraan. "Tadi bunda bawakan aku bubur ayam, makan ya pasti kamu sangat lapar. Ini cacing diperut kamu juga berteriak meminta jatah makannya," ucap Asha dengan menempelkan kepalanya di dada Ega.


Ega mengusap rambut istrinya, "Ini bukan perut sayang."


Asha tertawa lalu mendelikkan wajahnya dibawa ketiak suaminya. Mengembus-embus bau ketiak suaminya yang sudah satu bulan ia tidak bermain-main dengan anak rambut yang ada diketiak Ega.


"Sayang hentikan aku geli," pekik Ega menahannya.


"Aku akan berhenti jika kamu mau makan, kalau kamu tidak mau makan aku akan tetap begini sampai nanti," ketus Asha masih dengan posisi yang sama.


"Kalau kamu tetap begini bagaimana aku bisa makan, sudah ayo duduk kita makan bersama. Lihat tubuhmu kurus perutmu besar seperti orang cacingan saja," ledek Ega.

__ADS_1


Asha melototkan matanya tidak terima jika ia dikatakan sakit cacingan jelas-jelas perutnya besar karena ulah suaminya. Ia duduk lalu membelakangi suaminya karena kesal.


Bersambung.


__ADS_2