Wedding Agreement

Wedding Agreement
137. Cela keburukan


__ADS_3

Ega dan Asha kini telah sampai di rumah orangtuanya. Mereka sengaja datang tidak memberinya kabar karena Asha ingin membuat kejutan untuk kedua orangtuanya.


"Assalamualaikum, Bunda, bik Inah, Asha datang," teriak Asha dari ambang pintu yang terbuka lebar.


"Sayang tidak sopan berteriak-teriak seperti itu!" tegur Ega.


"Mas, tidak apa biar mereka dengar. Sudah mas duduk saja dulu biar aku cari mereka, pasti kamu capek mengemudi tadi."


"Sayang ingat jangan kelelahan! Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, didalam situ ada nyawa yang harus kalian jaga."


"Siap suamiku, aku ke dapur dulu ya."

__ADS_1


"Kopernya diletakkan kemana?" tanya Ega.


Asha dan Ega memang baru pertama kali datang ke rumah orangtuanya karena mereka sering bertemu di Kediri rumah kakeknya setiap satu atau dua bulan sekali sejak menikah. Raka dan Aira memaklumi putri dan menantunya, ia paham bagaimana tugas menantunya yang memikul beban yang banyak dari mengurus perusahaan, hotel dan rumah sakit karena ia juga pernah begitu sebelum pensiun.


Asha menepuk jidatnya pelan.


"Biar, Pak Men nanti yang membawa ke atas mas. Aku buatkan jus dulu ya, cuaca disini sama Malang tidak sama, gerah rasanya," jelas Asha berjalan menuju dapur.


Ega memilih duduk menyandarkan punggungnya yang pegal-pegal habis perjalanan jauh sejak menikah Ega tidak pernah perjalan bisnis keluar kota ataupun ke luar negeri ia hanya mengerjakan pekerjaan yang yang di kantor pusat semua urusannya ia serahkan pada Rian juga Kemal orang kepercayaannya.


"Semua pada kemana sich?" lirih Ega.

__ADS_1


Raka yang baru pulang bermain golf melihat pemuda duduk di sofa ruang tamunya, segera membenarkan kacamatanya agar melihat jelas tamunya.


"Mertua papa datang, mana istrumu, Nak?" sapa Raka. "Astagfirulah, papa lupa tak mengucapkan salam, assalamualaikum, Nak," kata Raka dengan berjalan ke arah menantunya.


"Waalaikumsalam warohmatulahi wabarokatu, Asha ke dapur mencari bunda, Pah." Ega meraih punggung tangan mertuanya menyalaminya. "Kami datang pintu terbuka tapi rumah sepi tidak siapa-siapa? Papa suka main golf?" tanya Ega untuk mencari topik pembicaraan.


"Iya, sejak papa pensiun dari perusahaan ya beginilah pekerjaan papa main golf kalau ngak ya mancing dibelakang rumah. Kalau ada temannya main catur. Mau main sama cucu semua pada ikut orang tuanya sendiri-sendiri padahal papa dan bunda di rumah kesepian," jelas Raka.


"Maafkan Ega, pah. Ega membawa putri papa dan harus ikut denganku harusnya Asha merawat papa dan bunda di saat usia kalian tidak muda lagi, menemani kalian. Aku terlalu egois."


Raka menepuk bahu Ega.

__ADS_1


Aku tidak salah pilih terhadap kamu, Nak. Selain kamu sholeh kamu juga sangat pengertian, semoga kalian selalu diberkahi kebahagian.


Raka bersyukur memiliki menantu yang sesuai dengan kriterianya walaupun tidak kaya seperti dirinya, Asiyah menantu pertamanya adalah orang yang sangat ahli ibadah, dia adalah keturunan dari arab dari golongan orang biasa saja. Sedangkan Kenzo adalah pengusaha walaupun awalnya ia tidak suka dengan kepribadian Kenzo tapi setelah mengenal ia ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Yang terakhir adalah Ega ia awalnya hanya pasrah terhadap keadaan karena melihat putrinya yang sulit didik, ia memutuskan menikahkan kepada siapa saja yang mau menikahi putrinya dalam keadaan yang sulit dijelaskan kata-kata. Tak diduga ia seperti ketiban emas, mendapatkan menantu yang super kaya dengan kepribadian yang sangat baik baginya menantunya terakhir ini tak ada cela keburukan.


__ADS_2