Wedding Agreement

Wedding Agreement
Cemburu


__ADS_3

“ El ! Aku sudah selesai. Berangkat sekarang ?” suara Aryan yang tiba-tiba masuk lagi-lagi mengagetkan Nara.


“ Owh, i-iya.” 


Aryan kini menggandeng lengan istrinya menuju lift yang langsung turun ke area parkir eksekutif. Di dekat kendaraannya berada, Aryan terusik oleh keberadaan petugas keamanan yang bergerumul.


“ Ada apa ini ?”


“ Maaf pak Aryan. Nona ini memaksa masuk.”


“ Aryan !” hentak Clara yang terpaksa dihadang oleh security saat merangsek masuk ke gedung yang sudah memblacklist sidik jarinya di tempat ini. “ Oh, jadi ini istrimu yang bisa menaklukan seorang Aryan Maheswara itu?”


Clara jelas mencibir penampilan Nara yang tidak ada apa-apanya dibanding dengannya yang seorang model profesional itu.


“ Mau apa lagi? Belum cukup gertakanku ?”


“ Kenapa kamu menjegal Papaku ? Urusanmu jelas denganku bukan dengan Papa !”


“ Lalu?” tanya balik Aryan dengan entengnya seraya mengejek Clara dengan mengangkat tautan jemarinya pada Nara dan kemudian menciumnya. 


Nara sendiri langsung minder. Ia tahu Aryan banyak memiliki wanita sebelum menikah dengannya. Bahkan ia harus siap mental dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba.


“ Kembalikan nama baik Papa ! Aku tidak terima kalau kamu bermain licik seperti ini ! Papaku tidak ada masalah denganmu !” Clara yang mengenakan crop top merah menyala itu bahkan berani menunjuk wajah Aryan yang begitu didamba sebelumnya.


“ Heh, licik katamu ? Lalu saat kamu meracuni minumanku malam itu dan memukulku hingga tidak sadar apa itu tidak licik, hehhh !” 


Deg !


Nara langsung menghubungkan sesuatu.


‘ Jadi dia yang membuat kepala Aryan memar?’ batin Nara. Dia hanya bisa terdiam saat adu mulut sudah terjadi. 


“ Kembalikan apa yang menjadi hak Papa dan kamu jangan jadi pengecut, Aryan !”


Tak ingin meladeni wanita itu, Aryan lantas mengibaskan tangannya meminta security itu mengurus Clara sedang ia meminta Nara memasuki mobilnya.


Clara meronta tidak terima saat ia diseret keluar. Dan Aryan kini tak ambil pusing dengan melajukan kendaraannya keluar.


Sampai di pintu portal , Clara ternyata masih menghadang. Sampai seorang pria paruh baya kemudian turun dari mobil dan terlihat membentak gadis itu. Nara yang melihat pemandangan ini sontak membuka jendela mobil dan tertegun saat tak sengaja pandangan Irfan Hardianto Wiguna berpapasan dengannya. 


“ Elnara ?” ucap Irfan refleks saat mereka kemudian saling memandang dalam diam.


...----------------...


“ El lama sekali, mana telepon tidak diangkat,” keluh Aryan saat menjemput istrinya di Esmod sore ini.


Lantaran tidak diperbolehkan Nara mendekatinya di tempat ini, Aryan terpaksa setiap hari hanya menunggu di dalam mobil di tempat parkir. Aryan sampai menguap lebar karena bosan lalu menempelkan tubuhnya ke setir bulat di depannya.


Sudah hampir jam tujuh malam Nara baru terlihat keluar bersama beberapa temannya. Namun bukannya keluar area dropzone , Nara malah asik mengobrol bersama mereka. 


Aryan bahkan sampai memanjangkan lehernya menyaksikan istrinya melebarkan senyum pada banyak siswa pria di sana. 


“ Bukannya cepat keluar malah asik ngobrol !” gerutu Aryan lantas menyalakan mesin mobilnya menuju area penjemputan.


Dan Nara yang baru keluar dengan banyak bawaan di tangannya itu langsung menoleh begitu mobil Aryan berhenti tepat di depannya. Dengan kedua tangan yang kesulitan membuka pintu mobil, Aryan bahkan tidak turun membantu Nara yang keberatan alat lain di tangannya.

__ADS_1


“ Susah ya, Ra? Sini aku bantu buka mobilnya, ya?” 


Nara mengangguk saja saat seorang teman prianya kemudian membantu membuka mobil dan meletakkan barang bawaannya ke seat belakang. Sementara Aryan sama sekali tidak menoleh meski tahu Nara kesulitan saat ini.


“ Terima kasih, ya.”


“ Pacar kamu ya, Ra ? “ goda teman prianya itu  saat tahu ada sosok pria seperti patung yang berada di bangku kemudi.


Nara sendiri hanya bisa tersenyum dan tak berani menjawab apapun. Sampai kemudian ia memasuki mobil dengan hawa dingin menusuk yang langsung menyerbu permukaan kulitnya. 


“ Seat belt!” bentak Aryan begitu membuat Nara terperanjat. Nara pun menarik sabuk pengamannya dan Aryan langsung menyahut ujung pengait lalu menguncinya. Terasa sekali napas Aryan yang mendengus kasar di depan wajah Nara yang tertegun bingung karena Aryan tiba-tiba saja emosi malam ini. 


‘ Kenapa sih nih orang ? Sebentar baik, sebentar mengerikan. Lalu sekarang marah-marah tidak jelas !’ batin Nara melirik wajah Aryan yang begitu masam dengan tatapan tajamnya ke arah jalan raya.


Nara pun tidak ambil pusing dan mengira Aryan tengah ada masalah di pekerjaannya. Wanita itu malah menyandarkan punggungnya yang lelah dan suasana di dalam kendaraan langsung hening. Nara pun canggung dan bingung mau memulai pembicaraan apa. 


Hingga keheningan kemudian terpecah oleh suara getaran ponsel Nara yang juga menarik perhatian Aryan untuk melirik sekilas. 


“ Halo, iya Mas Bima ? Oh iya sepertinya tadi terbawa saya.” 


Tiiinnn… Tiiinnnnn !


Aryan tiba-tiba menyalakan klakson mobil berulang sampai Nara harus menutup telinganya karena percakapannya jadi tak terdengar. 


“ Halo, Mas Bima. Maaf gimana ?”


Aryan kemudian menyalakan audio mobil dan memutar tombol volume dengan suara maksimal.


Tiin Tiiinnn Tiinnn ! 


“ Gitu ya, Oke besok aja ya?” Nara terpaksa mematikan panggilannya lalu membalikkan tubuhnya melihat barang-barang yang tadi ia bawa di seat belakang. Nara lantas mengirimkan pesan pada temannya karena tidak mendengar dengan jelas suara panggilan tadi. 


“ Siapa Bima ?” tanya Aryan dengan suaranya yang berat setelah mematikan audio mobilnya. 


“ Yang tadi di pintu keluar. Dia seniorku,” jawab Nara sedikit kesal karena baru menyadari bahwa Aryan sengaja mengganggu panggilan teleponnya barusan. 


“ Sepertinya dekat.”


Nara kembali menangkap aroma tidak enak dari omongan Aryan yang tidak enak pula didengar olehnya. 


“ Selama tinggal di Jakarta aku hampir tidak punya teman dekat.”


“ Tapi dengan Bima itu kalian akrab sekali. Kamu tidak bilang kalau sudah menikah ? Atau kamu sengaja menyembunyikan identitasmu supaya bisa dekat dengan banyak pria di tempat itu?” 


Nara memejam dengan ucapan Aryan yang begitu tajam. “Kamu ini sebenarnya mau apa sih, Ar?” ingin sekali Nara mencabik-cabik wajah Aryan yang menyeringai itu.


“ Kamu tidak ada batasan sama sekali dengan pria itu. Aku pastikan besok kalian tidak akan bertemu lagi .”


Deg ! 


“ Aryan, cukup ! Kamu ini naif sekali. Melihat para wanita yang dekat denganmu saja aku sudah cukup menahan diri ! Lalu hanya karena aku punya teman pria saja kamu sudah marah. Kalau begitu kamu tidak usah repot mengeluarkan banyak uang untuk menyekolahkanku di sana !” sentak Nara tidak mau kalah. 


Wanita itu langsung menarik tuas seatnya ke belakang lalu memilih memejam dan membiarkan Aryan menikmati emosinya  sendiri yang tidak jelas. 


Ingin sekali Aryan meneruskan amarahnya, namun melihat Nara yang nampak lelah bersandar di tempat duduknya, Aryan memukul stir mobilnya untuk meluapkan kekesalannya. 

__ADS_1


Sampai di parking area gedung penthousenya, Aryan pun mematikan mesin mobilnya dan menarik handremnya dengan kasar. Dilihatnya Nara masih tertidur pulas. 


Aryan menghela napasnya berat lalu mengacak rambutnya sendiri. Dibukanya pintu di sisi Nara lalu mengangkat raga istrinya yang kelelahan sampai ia memasukkan Nara ke kamar pribadinya. 


Beberapa malam tidur di kamar Nara lumayan kurang nyaman untuk Aryan dengan tempat tidur dan besar tubuhnya yang tidak imbang. Sedangkan di kamar pribadinya yang memang diperuntukkan bagi dua orang itu, Aryan bisa leluasa bergerak meski sedang tidur. 


Merasakan dirinya yang juga kelelahan, Aryan yang sudah berganti pakaian tidur itu pun mengambil posisi seperti biasa di samping istrinya. Hingga tak lama kemudian napasnya sudah mendengkur teratur sampai membuat Nara kini malah terbangun. 


“ Ck ! Ngapain masih tidur  di sini. Habis marah-marah gak jelas, kayak gak punya dosa!” gerutu  Nara saat ingat  Aryan yang tadi memarahinya tidak jelas. 


Merasakan tubuhnya yang lengket dan belum ganti baju, Nara akhirnya membangunkan dirinya turun dari tempat tidur di kamar suaminya. Nara pun keluar menuju kamarnya untuk mandi dan meninggalkan Aryan yang masih mendengkur. 


Di kamar mandinya kini Nara menikmati mandi malam berguyur air hangat hingga bisa membuatnya rileks setelah penat seharian. Mengenakan handuk kimono dengan rambut terurai basah, Nara keluar kamar mandi. 


“ Hahhhh !” Nara kaget luar biasa saat tubuhnya membentur sosok tubuh tinggi tegap yang tak lain suaminya sendiri yang berkacak pinggang di depan pintu kamar mandi. 


“ Kabur?”


Nara jelas mendengus kesal karena Aryan ini tak berhenti menatapnya tajam. “ Memangnya aku tahanan ?” 


Nara menerobos tubuh Aryan lalu beralih ke lemari pakaiannya mengambil satu stel piyama panjang lengkap dengan pakaian dalamnya. 


“ Kalau untuk mandi saja kenapa harus di sini? Di kamar yang sana kan juga bisa.” 


“ Kamu ini kenapa sih, Aryan ! Urusan mandi saja dipermasalahkan. Sudah, keluarlah ! Aku mau ganti baju. Males banget meladeni emosimu yang dari tadi tidak jelas !” 


Melihat rambut basah Nara yang menguarkan aroma harum menggoda hidungnya, Aryan lantas mendekati Nara yang baru saja menutup lemarinya. “ Keluar? Kenapa aku harus keluar? Memangnya aku ini siapamu , hem ?”


Nara jelas gugup saat Aryan yang sudah mengangkat dagunya itu kini hampir mengunci tubuhnya yang terpentok pintu lemari. 


“ Kalau kamu tidak mau keluar, aku saja yang keluar ke ruangan lain. Minggir , jangan mendobrak pintu lagi.” 


Aryan kini makin mengunci tubuh Nara yang memegang erat baju gantinya. “ Kenapa ? kamu malu? Aku bahkan sudah tahu semua isi tubuhmu, El. Setiap inci yang tidak ingin kamu perlihatkan malam ini aku sudah pernah melihat dan merasakannya, bahkan dua kali,” bisik Aryan penuh intimidasi di akhir kalimatnya.


“ Lalu kamu ingin memperkossaku lagi, begitu ?”


“ Memangnya kamu tidak ingin? Kamu masih normal, kan ? Sudah berapa lama kita menikah? Kamu bahkan belum pernah secara sadar melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Dan aku diam.”


Nara tertunduk dan tergeragap mengakui kesalahannya. Meski pernikahan mereka hanya karena sebuah tanggung jawab Aryan terhadap anak yang dikandungnya, namun mereka telah menikah secara resmi dan Nara pun seolah tidak pernah merasa berdosa untuk menolak tiap kali Aryan menginginkannya. 


“ A-aku… eem..”


Merasakan aroma Nara yang begitu harum, Aryan sampai mengendus mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang masih basah. “ Mungkin malam ini kamu bisa selamat karena virus yang sama -sama ada di tubuh kita. Tapi kamu tidak bisa terus menghindariku, El. Aku suamimu dan kamu selayaknya—”


Aryan tak bisa melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba hormon kelelakiannya mencuat bbegitu saja. Tapi dia berusaha keras mengendalikan dirinya saat ini. 


“ Maaf tadi aku hanya cemburu. Aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain, El.”


“ Aku juga tidak suka kalau kamu cemburu. Aku sudah menahan diri melihat para wanita yang pernah dekat denganmu, Aryan,” balas Nara yang tidak bisa bergerak karena Aryan belum beranjak sedikitpun dan hampir menindihnya sambil berdiri. 


“ Siapa? Clara ? Sofia ? mereka bukan siapa-siapaku, El.” 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2