
Sungguh menyebalkan mau keluar makan siang bersama tapi dia memberikan kissmark begitu banyak membuat malu saja batin Asha. Pasti Naila dan Diana mengejek aku habis-habisan nanti.
"Sayang, kenapa wajah kamu di tengkuk seperti itu? Apa kamu sakit?"
"Aku tidak apa-apa hanya sedikit kesal sama kamu."
Ega mendekati istri memegang kedua bahunya sambil menatap wajah Asha dari pantulan cermin rias yang ada di hadapannya.
"Aku buat salah sama kamu. Jika iya, maafkan suamimu ini ya."
"Buat apa minta maaf juga, ini juga bukan salah kamu sepenuhnya."
Asha mengakui jika ia juga salah seandainya bibirnya itu tidak meracau mungkin suaminya juga tidak akan memberikan tanda kepemilikkan sebanyak ini di leher juga di kedua dadanya.
"Kamu malu dengan tanda ini?" tanya Ega dengan menunjuk bekas kissmark yang ia buat.
Asha mengangguk.
__ADS_1
Ega segera berjalan menuju lemari tempat dimana ia meletakkan beberapa sall. Ia segera mengambil warna yang senada dengan baju yang di kenakan istrinya. Ia melingkarkan pada leher istrinya.
"Sudah aman, ayo pergi!" ajak Ega.
****
Di tempat lain Naila masih kesal dengan sikap Rizki yang tiba-tiba masuk ke dalam apartemennya tanpa permisi. Ia bingung kenapa sang kekasih bisa saja masuk ke dalam padahal ia tidak pernah memberi tahu kode sandi apartemennya.
Naila yang masih mengenakan handuk yang lilit di tubuhnya menatap calon imamnya yang duduk di sofa tidak mau pergi.
"Kamu bisa ngak keluar dari kamarku!" tegas Naila.
"Rizki, aku bilang kamu keluar!" teriak Naila dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Rizki segera berdiri berjalan menghampiri Naila yang masih diam mematung dengan memegangi handuknya.
"Jangan mendekat!" hardik Naila berjalan mundur.
__ADS_1
Rizki semakin mendekat sedangkan Naila semakin berjalan mundur hingga langkah kakinya terhenti saat tubuhnya sudah menyentuh dinding di belakangnya. Rizki mengunci gerak Naila dengan salah satu tangannya ia letakkan di tembok dengan mata menatap sang kekasih.
"Apa yang ingin kamu lakukan? Jangan macam-macam!" hardik Naila.
Rizki hanya tersenyum dengan gaya mesumnya.
"Sudah cepat keluar! Kamu itu masuk rumah orang seperti pencuri tanpa permisi."
"Memang aku pencuri, pencuri hatimu," jawab Rizki.
"Jangan bercanda! Oya, bagimana kamu bisa masuk apartemenku? Aku tidak pernah mengajak kamu kesini, aku juga tidak pernah memberi tahu sandiku," tanya Naila menyelidik.
Rasanya aku harus menganti kodeku dengan sidik jari agar dia tidak bisa masuk kesini. Ini sangat berbahaya jika aku sedang terlelap tidur ia masuk begitu saja lalu aku di perkos* dia bagaimana pikir Naila.
"Jangan berpikir buruk! Kalau aku mau memperkos* kamu maka akan aku lakukan sekarang, tidak perlu menunggu kamu tidur. Tahu kenapa? Karena melakukan dengan wanita yang sedang tidur itu tidak asyik," bisik Rizki.
Apa dia bilang? Jadi dia sudah pernah melakukannya, ah aku dapat suami kenapa harus sisa wanita lain kalau aku bisa menolak aku tidak mau menuruti wasiat kakek. Dasar play boy darat batin Naila mengeluarkan seribu umpatan serapahnya.
__ADS_1
Rizki mengusap wajah Naila dengan ibu jarinya dari pipinya hingga berhenti di tengah-tengah bibir Naila yang sedikit manyun.
"Jangan menggodaku, sayang!" Rizki berbisik di telinga Naila dengan salah satu tangannya mulai menyingkap handuk yang di kenakan wanita cantik yang ada di depannya itu.