
"Maksud Umi? Kenapa aku harus hati-hati, dia kan ibu Mas Ega maka aku kan harus menghormati beliau," ucap Asha mulai menerka-nerka.
Kamu tidak paham akan ibunya Ega, dia itu wanita yang tega menghalalkan segala cara demi kebahagian dirinya sendiri. Aku takut jika sifatnya itu tidak berubah maka dia akan memonopoli Ega sendiri demi hartanya dan memisahkan kalian batin Umi Syarah.
"Umi, kenapa melamun? Apa yang sebenarnya Umi ketahui, tolong katakan padaku agar aku tahu dan lebih hati-hati menghadapinya," mohon Asha.
"Umi sebenarnya tidak ingin menjelek-jelekkan seseorang karena itu dosa besar apa lagi seperti ini Umi sama saja ghibah tapi Umi melakukan ini demi kebahagian kalian. Ibunya Ega sudah kembali ke Kota ini, selama ini dia menikah lagi di kota Paris dan disana dia tidak memiliki anak, sekarang suaminya telah meninggal lalu ia memutuskan kembali kesini," jelas Umi.
Kenapa Umi mengetahui semuanya sedangkan Mas Ega kenapa tidak diberi tahu oleh Umi sebenarnya masa lalu serumit apa di kehidupan masa lampaunya batin Asha mulai bingung.
"Umi bolehkan aku bertanya sesuatu?" ucap Asha ragu-ragu.
"Tanya saja kalau Umi bisa jawab pasti akan aku jawab. Memang yang ingin kamu tanyakan tentang apa? Pasti tentang masa lalu suami kamu," tebak Umi.
"Benar Umi, aku bingung Mas Ega pernah bercerita tentang Ibunya itu pun di dengar juga dari almarhum ayahnya kalau ibunya pergi saat ia masih balita tapi kenapa umi seperti mengetahui semuanya? Apa umi mengenal Ibunya Mas Ega?" tanya Asha.
"Umi mengenal baik ibunya Ega, dia dulu anak didik kami tapi dia hanya dua tahun saja tinggal di pesantren. Dia sebenarnya masih saudara dengan Umi, dia keponakan Umi. Tapi kita tidak terlalu dekat, orang tuanya mendidik dengan kesombongan padahal sebenarnya ia tidak kaya hanya mengandalkan gengsi saja. Sudah Umi tidak ingin membahas lagi, nanti kita jadi ghibah tambah dosa."
"Tidak apa Umi, hanya sekali. Jadi nenek dan kakek dari Ibu Mas Ega masih ada umi, tolong dong Umi Syarah kasih tahu Asha asal usul atau setidaknya titik terang tentang ibunya Mas Ega," mohon Asha dengan merajuk memegang lengan Umi.
"Mereka sudah tidak ada, mereka meninggal karena serangan jantung saat mendengar Ashita pergi keluar negeri. Ashita nama ibunya Ega sedangkan ayahnya Ega. Nama Asegaf di ambil dari nama mereka berdua sedangkan Albramata dari nama panjang keluarga ayahnya. Sebentar kamu tunggu disini!" perintah Umi.
__ADS_1
Umi tahu semua tentang masa lalu orang tua Mas Ega tapi kenapa Umi tidak mengatakan padanya. Apa yang membuat Umi menyembunyikan dari Mas Ega apa tidak sebaiknya Mas Ega tahu sebenarnya. Aku harus tanya lagi ke Umi pikir Asha saat menatap punggung Umi yang masuk ke dalam ruang kerjanya.
Umi keluar dari ruang kerjanya dengan membawa amplop kecil berwarna putih entah apa isinya, Asha hanya menatap Umi yang berjalan ke arahnya yang semakin dekat. Dari arah pintu masuk Ega dan Abah Jafar datang dengan mengucapkan salam.
Sedangkan Umi yang tahu akan kedatangan Ega serta suaminya segera menyembunyikan amplop warna putih yang berisi foto ibunya Ega ke dalam saku gamisnya.
"Abah sudah kembali," sapa Umi sambil tersenyum.
"Sudah Umi, kan ini juga sudah habis isya jauh lihat itu sudah jam delapan lebih. Disana tadi juga tidak ada jadwal Abah untuk mengajar jadi Abah pulang saja untuk mengobrol dengan cucuku," jelas Abah.
"Oh gitu ya, padahal aku masih ingin berdua dengan Asha lo, Bah. Tapi kalian sudah datang jadi berkurang dech waktu Umi," jelas Umi duduk disamping Asha.
Umi tadi bawa apa ya? Mas Ega sudah datang gimana caraku bertanya dengan Umi kalau seperti ini batin Asha.
"Nak Asha sebaiknya jangan pernah berghibah ya. Abah tahu kamu pasti paham akan itu tapi disini Abah hanya ingin mengingatkan saja," jelas Abah yang bisa membaca pikiran seseorang.
Asha dan Umi Syarah hanya bisa diam saat mendengar ucapan laki-laki paruh baya itu karena memang betul yang mereka bicarakan tadi adalah berghibah masalah ibunya Ega.
"Benarkah Kejahatan Ghibah Lebih Berat dari Zina?" tanya Ega berpura-pura tidak tahu padahal ia paham akan semua itu. Ia hanya ingin istrinya itu lebih mengerti akan dosa besar itu pikirnya dengan bertanya seperti ini karena ia tahu istrinya minim ilmu agama.
Abah Jafar yang melihat dua wanita yang saling diam tidak berani menatapnya segera memberi nasehat dengan sedikit berceramah dengan panjang lebar.
__ADS_1
Seberapa berat ancaman dan dosa bagi orang-orang yang suka berbuat ghibah atau menggunjing? Surat Al-Hujurat ayat 12 menyatakan bahwa ghibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain) sama saja dengan memakan daging bangkai saudara kita sendiri.Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, (Surat Al-Hujurat ayat 12)."
Diriwayatkan, pada zaman Rasulullah SAW bila ada orang yang berbuat ghibah, maka siksanya langsung diperlihatkan, sebagaimana yang terjadi pada dua orang wanita yang diperintah olehnya untuk memuntahkan darah kental dari mulutnya setelah menggunjing saudaranya. Seiring banyaknya orang menggunjing, seperti sekarang ini, siksaan itu pun tak lagi diperlihatkan. Terlebih dosa besar itu sudah dianggap sebagai hal biasa dan lumrah terjadi.
Padahal, Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa dosa ghibah berat dari dosa zina:
الْغِيبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا . قِيلَ: وَكَيْفَ؟ قَالَ: الرَّجُلُ يَزْنِي ثُمَّ يَتُوبُ،
فَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَإِنَّ صَاحِبَ الْغِيبَةِ لَا يُغْفَرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبُهُ
Artinya: Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang
sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,’” (HR At-Thabrani).
Tak hanya itu, diriwayatkan bahwa Allah pernah berfirman kepada Nabi Musa AS, “Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan bertobat dari perbuatan ghibah, maka dia adalah orang terakhir masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dalam keadaan terbiasa beruat ghibah, maka dia adalah orang yang paling awal masuk neraka.” Lebih bahaya lagi, kelak di akhirat orang yang suka ghibah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah oleh orang yang dighibahnya. Amal kebaikannya dibayarkan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya, termasuk kepada orang yang telah dighibahnya. Setelah amal kebaikannya habis, amal keburukan orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia akan menjadi orang yang bangkrut, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits berikut ini. Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang sudah tidak memiliki dirham dan harta benda lain.” Ia menjelaskan, “Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa amal shalat, amal zakat, amal puasa, namun dia pernah mencaci si ini, menuduh si ini, makan harta si sini, menumpahkan darah si ini, memukul si ini sehingga yang ini dibayar dengan kebaikannya dan yang ini dibayar dengan kebaikannya. Setelah kebaikan-kebaikannya habis sebelum semua kezaliman terbayar, maka diambillah keburukan-keburukan mereka yang pernah dizaliminya lalu ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia dilemparkan ke dalam neraka.”
Demikianlah bahaya perbuatan ghibah yang selama ini kita anggap enteng. Mudah-mudahan, berkat uraian Abah ini, kita semakin waspada terhadap segala bentuk perbuatan yang dapat menghapus amal kita, termasuk perbuatan ghibah. Harapannya, agar amal kita selamat tidak ada yang menggerogoti dan diterima di sisi Allah SWT. Amin. Jelas Abah panjang lebar.
Umi hanya bisa banyak-banyak baca istighfar di dalal hatinya sambil berdoa memohon ampun. Sedangkan Asha hanya bisa membatin jika ia sudah tidak bisa lagi mengorek informasi tentang ibu dari suaminya itu jika sudah begini pikirnya.
bersambung...
__ADS_1
Maaf jika telat up, dan upnya berasa garing juga tidak memuaskan karena author hanya manusia biasa yang jauh dari kata sempurna.. ini lah kemampuan author.. 🙏🙏🙏🙏🙏 smg tidak pernah bosan..