
Dua bulan kemudian Asha duduk di balkon kamarnya menatap langit yang cerah dengan membaca ayat-ayat Allah dengan mukena yang masih ia kenakan setelah salat isya.
Dua hari ini Ega tugas keluar kota karena kondisi yang sangat mendesak ditambah kondisinya dalam masa pulih dari sakit. Ia tidak izinkan untuk ikut padahal ia sangat bosan jika harus di apartemen sendiri tanpa suaminya untuk pertama kalinya.
Merasakan menguap beberapa kali padahal jam masih menunjukan pukul tujuh malam mungkin rasa kantuknya efek dari ia minum obat. Ia meletakan Al-Qurannya di meja sampingnya lalu memejamkan matanya sambil melipat kedua tangannya didadanya dengan mukena masih menempel di tubuhnya.
Alam sadarnya membawa mimpi buruk yang entah pertanda apa, ia melihat Ega tertawa bersama wanita cantik yang duduk disampingnya tanpa ia kenal siapa wanita itu. Ia melihat suaminya bercumbu mesra di depannya hanya bisa berlari menjauhi pandangan yang menurutnya zina itu. Saat ia mulai lelah berlari, keringat dingin bercucuran di wajah dan seluruh tubuhnya. Ia kini hanya bisa menangis histeris dengan berteriak memaki dirinya sendiri yang tak bisa menjaga suaminya dengan baik hingga harus menerima kenyataan jika ia harus rela berbagi.
Goyangan pelan di lengannya dengan beberapa kali usapan di wajahnya membuat ia tersadar dari mimpi buruknya.
Ia melihat suaminya didepannya segera menghambur memeluk erat dan tidak ingin melepas pelukan itu, ia takut jika Ega akan berpaling darinya karena sampai detik ini belum ada tanda-tanda kehamilan di dalam rahimnya.
"Mas aku mohon, jangan pernah tinggalin aku apapun yang terjadi, Asha mohon!" ucap Asha di sela-sela tangisnya.
"Sayang, Mas kan cuma pergi dua hari itu pun juga dinas. Kalau masalah itu bisa diselesaikan Rian pasti Mas akan tetap disini. Sebenarnya ada apa? Apa kamu mimpi buruk?"
Asha mengangguk.
"Mimpi apa? Kamu tadi berteriak-teriak menyalahkan diri kamu sendiri, apa kamu ada masalah? Ceritalah dengan Mas agar beban pikiran kamu berkurang. Kamu juga sudah berhasil wisuda dengan nilai ipk terbaik, bahkan kamu mengelar sarjana kedokteran dengan nilai teratas, apa yang membuat kamu gelisa?" tanya Ega dengan menghapus air mata Asha.
"Aku mimpi buruk, Mas. Aku melihat kamu sedang bercumbu dan tertawa bersama wanita, dadaku rasanya sakit melihat kamu, Mas hingga aku frustasi berteriak-teriak.
Ega mempererat pelukannya, mengusap punggung belakang dengan memberikan ciuman bertubi-tubi di kening sang istri.
__ADS_1
Aku tidak akan pernah menghianati kamu, apa pun yang terjadi kelak hanya maut yang bisa memisahkan kita karena di hatiku hanya ada namamu batin Ega.
"Mas apa kamu akan meninggalkan aku jika aku tidak segera hamil?" tanya Asha dengan melepas pelukaannya lalu menatap bola mata Ega berharap suaminya berkata jujur walaupun menyakitkan ia akan mencoba menerima daripada dia bermain dibelakangnya.
Ega tidak menjawab justru ia memberikan kecupan di bibir sang istri yang makin lama semakin dalam hingga beberapa menit bibir mereka saling terpaut menikmati rasa rindu sekaligus untuk mencurahkan rasa cinta mereka yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Sayang, jangan pernah berpikir macam-macam. Pernikahan kita masih belum genap dua tahun, kesempatan kita masih banyak. Allah masih memberikan waktu untuk kita berdua menikmati masa pacaran, Allah mengerti dulu kita belum sempat bersenang-senang seperti layaknya seorang kekasih yang lagi kasmaran makanya kita jalani saja dulu. Aku juga tidak meminta kamu memiliki anak, aku masih ingin memiliki kamu saat ini, aku rasanya masih belum sanggup jika kamu membagi perhatian kamu dengan anak kita nanti," ucap Ega.
"Mas Ega gombal dech, tapi beneran kak ngak bohong."
"Tidak, sayangku. Sudah ayo masuk, nanti kamu masuk angin," ucap Ega. "Aku kangen sama kamu," bisik Ega.
Ega segera membopong tubuh sang istri masuk ke dalam kamar dengan bibir mereka saling terpaut. Ega segera meletakan tubuh Asha di atas kasur dengan pelan, ia segera lepas mukena yang dikena Asha lalu menyingkap rambutnya meletakan di belakang telinganya.
"Sayang, mas rindu apa boleh memintanya?"
"Mas cepat ambil air wudhu sana! Habis itu kita salat berjama'ah lalu," perintah Asha yang sengaja menggantung perkatanya.
Sedangkan di dalam mobil Naila dan Diana yang perjalanan menuju ke apartemen Asha untuk bertemu sebelum Diana pergi dinas keluar kota untuk pertama kalinya.
"La, kita yakin ke apartemen Asha? Apa kita ngak akan ganggu dia?" tanya Diana.
"Tidak bakalan, suaminya Asha kan lagi dinas keluar kota sama Rizki. Kata Rizki pulangnya masih besok, tadi sore kamu dengar sendiri kan kalau Asha bilang suaminya pulangnya masih besok pagi," jelas Naila mengingat percakapan telepon yang mereka lalukan tadi sore.
__ADS_1
"Din, kalau kita ngak kumpul bareng sekarang kapan lagi, lusa kamu sudah berangkat ke Kediri. Kita sudah tidak bisa ketemu juga bercanda. Sudahlah mumpung Bang Ega ngak ada kita nginap saja di rumah Asha. Aku kangen kita molor bertiga rebutan selimut sama guling," ucap Naila lagi.
Diana memikirkan ucapan sahabatnya itu memang benar jika tidak sekarang kapan lagi, sejak Asha menikah mereka tidak pernah lagi tidur bersama seperti dulu.
"Baiklah, kita mampir beli camilan sama buah, juga mie instan ya. Sudah lama kita ngak menikmati makan sepiring bertiga," jawab Diana.
Diana dan Naila segera membawa beberapa kantong belanjaan yang berisi makan ringan hingga berat yang akan mereka gunakan pesta kecil-kecilan untuk salam perpisahan Diana yang akan bekerja jauh itu.
Di depan pintu apartemen Naila menekan bunyi berkali-kali namun tak kunjung ada yang membukakan pintu.
"Gimana? Ada ngak si Asha? Kok lama sekali buka pintunya," keluh Diana yang merasa jamuran nunggu Asha.
Naila mengangkat bahunya.
"Apa dia sudah tidur? Coba kamu hubungi dia?" saran Diana.
Naila segera menghubungi Asha untuk beberapa kali namun panggilannya tak terjawab.
"Gimana? Aktif kan?"
"Aktif tapi tidak di jawab. Apa benaran dia sudah tidur cepat sekali dia tidurnya. Coba sekali lagi, kita sudah belanja banyak, nanggung jika kita pulang," ucap Diana.
Naila mencoba menghubungi kembali namun tetap sama tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Biar aku telepon ganti, kamu tekan itu bel! Biar dia kedengaran, masa suara berisik ponsel juga bunyi bel ngak dengar. Dulu saja dia tidur selalu jam sepuluh malam ini juga masih jam delapan belum ada," umpat Diana.
"Sudah jangan banyak bicara ini salah kita, harusnya kita memberi dia kabar kalau kita kesini. Biar dia tidak tidur," tegur Naila.