Wedding Agreement

Wedding Agreement
Akibat perbuatan Clara


__ADS_3

Plakkk !


“ Keterlaluan kamu, Clara !” Irfan murka pada putrinya saat pagi-pagi sudah mendapatkan kabar bahwa nilai saham di perusahaannya hari ini anjlok.


Terlebih penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah Clara yang menyinggung Aryan semalam. Clara sendiri yang mendapat tamparan dari Ayahnya kini meminta perlindungan sang Ibu yang langsung memeluknya. 


“ Sudah berapa kali Papa peringatkan kamu! Kenapa kamu masih nekat !” 


Clara masih mengelus pipinya yang panas dalam dekapan Ibunya yang tidak berani menginterupsi kemarahan suaminya. 


“ Papa membebaskan kamu hidup senang di luar sana bukan berarti kamu jadi ngawur begini ! Lihat sekarang akibatnya ! Puluhan tahun Papa menjaga perusahaan ini baru sekarang goyah karena ulah kamu!”


“ Tapi, Pa……” 


“ Ssssttt!” Mama Alina membungkam mulut putrinya agar tidak menyahut saat Papanya sedang murka.


“ Dengan , Clara !Hubungan Papa dengan keluarga Maheswara sebelum ini tidak ada masalah. Dan sekarang kamu sudah merusak semuanya hanya karena cinta butamu itu!”


“ Clara hanya ingin mendapatkan Aryan kembali, Pa.” sambil terisak Clara mencoba melunakkan hati ayahnya yang sangat jarang memarahinya itu.


“ Kalau Papa bilang jangan ya jangan ! Aryan sudah memilih orang lain dan kamu jangan jadi wanita yang tidak punya harga diri !” Irfan sampai menunjuk tajam ke depan wajah Clara dengan napas yang tersengal.


Hingga kemudian sang istri bingung lalu mengelus punggung suaminya agar tidak terlalu keras pada putri mereka.


“ Papa . sudah ! Jangan terlalu emosi, nanti tensinya naik lagi”


“ Terakhir kalinya Papa peringatkan kamu, Clara. Mulai hari ini Papa tutup semua akses kebebasan kamu ! Tidak ada lagi yang bisa kamu suruh-suruh melakukan hal konyol lagi seperti semalam !”


Clara jelas mendelik kesal dengan hukuman ayahnya yang meski terlihat sepele namun membuat gadis yang terbiasa  hidup bebas dan senang itu kini menghentakkan kakinya jengkel.


Clara yang memanfaatkan koneksi ayahnya untuk bisa masuk ke area dinner meeting khusus bagi para pengusaha itu kini harus gigit jari. Terlebih ia sudah tak bisa lagi meminta tolong orang -orang Irfan yang dia suruh semalam untuk memuluskan rencananya menggiring Aryan padanya agar mereka kembali lagi bersama. 


Sementara Irfan yang kini memasuki kamarnya masih terbawa emosi belum bisa mengendalikan situasi mencekam di perusahaan. Aryan sengaja memberi peringatan keras pada siapa saja yang berani menyinggungnya.


“ Sabar, Pa. Tenangkan pikiran dulu supaya tidak salah langkah. Tidak apa, hanya anjlok sedikit, kita pasti bisa menaikkannya kembali. Papa fokus ke perusahaan saja, biar Clara mama yang urus.”


Alina masih berusaha menenangkan suaminya yang terlampau emosi karena Clara tak mengindahkan peringatannya.


“ Maafkan Papa, Ma. Apa Papa terlalu keras dengan Clara?”


Alina menggeleng dan memahami sifat putrinya yang harus mendapatkan apapun keinginannya.” Tidak apa, Clara memang salah. Wajar sekali jika Papa marah, mungkin selama ini kita terlalu memanjakan dia . Makanya dia selalu berbuat semaunya. 


Irfan mengangguk membenarkan ucapan sang istri kalau mereka memang terlalu memanjakan Clara sejak kecil. “ Sekarang mama urus dia, suruh fokus ke karirnya saja. Jangan menyinggung Aryan lagi, dia sudah jadi suami orang.” 


...----------------...


“ Apa tidak sadar lagi?” Aryan menggerakkan bola matanya ke kanan ke kiri untuk mencerna informasi yang didapatkan dari Jonas, asistennya.


Pria itu baru saja pulang dan tengah melonggarkan dasi dan kancing kemejanya di kamar saat Jonas tiba-tiba memberinya kabar dari Singapura bahwa kondisi Yunita kembali memburuk. 


“ Begini, tetap pantau kondisinya dan minta dokter di sana melakukan yang terbaik. Tidak peduli ada yang menghadang , sikat saja !”

__ADS_1


Aryan masih menghadap ke arah lemari bajunya yang terbuka sembari mendengar suara Jonas dari seberang panggilan.


“ Masalah Nara biar saya yang urus, tidak usah buka suara apapun. Iya, Nara harus tetap tahu kalau ibunya baik-baik saja di sana.”


Aryan menutup panggilannya lalu mengambil satu buah baju ganti dari dalam lemari lalu  menutupnya kembali.


“ Astaga, El !” Aryan terperanjat bukan main saat melihat Nara yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya dengan wajah memerah saat ini .” El, ka-kamu… Ada perlu apa?” 


Belum juga wanita itu menjawab, Nara sudah menumpahkan air matanya,” Jadi Ibuku di sana tidak baik-baik saja? Kenapa kamu menyembunyikannya, Ar?”


Aryan jelas salah tingkah karena Nara ternyata mendengar obrolannya di telepon tadi.


“ Bu-bukan begitu maksudku, El. Aku sudah meminta tim medis yang di sana melakukan tindakan terbaik. Kita doakan saja dari sini, ya.”


Aryan mengusap wajah Nara yang basah namun Nara makin terguncang. Mendengar apapun soal ibunya , perasaan Nara tidak bisa tegar. Hanya sang Ibulah alasannya hidup saat ini. Hanya sang Ibu yang membuat Nara harus kuat hidup dalam tekanan seperti ini.


“ Tolong bawa aku menemui ibuku, Aryan,” mohon Nara dengan suara lirih saat Aryan memeluknya.


Nara sadar permintaannya ini sudah diluar jalur perjanjiannya. Namun Nara tidak bisa hanya bisa duduk diam. Wanita itu pikir pengobatan di luar negeri adalah yang terbaik dan semua yang berobat ke sana pasti akan mengalami kesembuhan . 


“ El, kondisi kehamilanmu masih rawan untuk bepergian. Sabar, sedikit ya. Bulan depan setelah periksa lagi aku akan usahakan.”


Mendengar janji Aryan padanya. Nara makin terguncang dalam pelukannya. “ Tenangkan diri dulu, aku hubungi Jonas lagi setelah ini untuk meminta kabar.”


Nara pun mengangguk patuh saat Aryan  memintanya duduk di sofa kamar. Aryan keluar memanggil bik Ina meminta minuman hangat untuk Nara sementara dirinya kemudian memasuki kamar mandi. 


Sekeluarnya dari kamar mandi, Nara sudah tidak lagi ada di kamarnya sementara minuman yang dibuatkan bik Ina masih utuh.


“ Tadi bibi lihat masuk ke kamarnya, Tuan.”


Aryan segera memanjangkan langkahnya memasuki kamar Nara dan benar saja. Baru memasuki ambang pintu, Aryan mendapati Nara duduk menunduk di tepi tempat tidur.


“ El, kenapa? perutmu sakit?”


Nara nampak mengernyit memegangi perutnya dengan mengatur napasnya sebisa mungkin setelah kembali memuntahkan isi perutnya barusan. 


“ Kita ke rumah sakit sekarang !”


“ Tidak, tidak ! Aku tidak apa, Ar !”


“ Tidak apa bagaimana!”


Nara menahan tangan Aryan yang ingin membopongnya. Ia masih berusaha mengatur napasnya dengan memejam sejenak untuk mengembalikan emosinya.


“ Tidak apa. Aku hanya terlampau emosional saja, maaf. Lain kali aku akan mengatur emosiku,” Janji Nara yang lekas menyadari bahwa ia tidak boleh terlalu bersedih bagaimanapun kondisinya karena kandungannya akan langsung bereaksi saat ia terlampau sedih seperti saat ini.


Aryan langsung memeluk Nara tanpa ragu lagi melihat kesakitan demi kesakitan yang istrinya rasakan selama menjaga kehamilannya.


“ Maafkan aku, El. Karena aku kamu banyak menanggung sakit seperti ini.”


Nara menggeleng tak ingin Aryan terus menyalahkan dirinya sendiri. Toh semuanya sudah terjadi dan harus tetap dijalani. 

__ADS_1


Bik Ina memasuki kamar Nara membawakan ponsel Aryan yang berdering sekaligus membawa minuman untuk Nara yang belum sempat ia sentuh.


“ Iya, Oma.” Aryan kini duduk pula di samping Nara yang sedang meminum air lemon madu buatan bik Ina . 


“ Aryan, turunlah . Oma sebentar lagi sampai di lobby. Oma bawa beberapa makanan untuk Nara.”


“ Tumben tidak naik saja, Oma.”


“ Oma buru-buru, Opamu ini mau ada acara sebentar lagi. Cepat turun ya.”


Aryan mematikan panggilannya saat Nara akan merebahkan dirinya,” Oma mau ke sini bawa makanan buat kamu, aku ambil dulu di bawah ya. Oma tidak mampir soalnya,” ucap Aryan lalu segera berdiri.


“ Aryan, aku ikut !”


Aryan pun mengangguk lalu meraih jemari Nara untuk kembali bangun. Berdua kini mereka memasuki lift menuju lantai paling dasar di gedung ini. Aryan pun tak melepas genggamannya ke tangan istrinya hingga membuat tubuh Nara menghangat.


Betapa sentuhan Aryan saat ini selalu mampu membuatnya tenang meski Nara harus kembali berperang melawan logikanya sendiri.


Sampai di lobby, mereka berdua lalu keluar ke area drop off kendaraan dengan pemandangan gemericik air mancur di bundaran tempat kendaraan berhenti sementara di area gedung ini. 


Sebuah kendaraan sedan klasik berhenti tepat di depan Aryan yang berdiri bersama Nara. Nara langsung menyunggingkan senyum lebar mengetahui Oma Herlina datang meski tidak mampir ke tempat mereka .


Namun senyum Nara hanya bertahan sesaat kala kaca mobil terbuka dan langsung menampilkan sosok Haris Maheswara yang menatapnya tajam dan mengerikan. Nara sontak merubah raut wajahnya. 


“ Nara ! Ikut turun juga !” pekik Oma girang mengetahui Nara menyambutnya. Wanita tua itu malah ikut turun dari mobil dengan banyak barang di tangannya.


“ Oma dari mana bawa banyak tas seperti itu?”


“ Belanja! Oma sengaja membeli banyak makanan khusus untuk Nara,” dengan suka cita Oma memberikan tumpukan pape bag pada Nara yang malah melempar pandangannya pada Opa yang duduk manis di mobilnya dengan wajah dingin.


“ Untuk Aryan ?”


“ Kamu gak usah !” Oma sampai menepuk telapak tangan cucunya saat Aryan pun meminta jatah pada neneknya. “ Oh ya, Aryan. Ada yang Oma ingin bicarakan sama kamu. Ke sini sebentar. “ Herlina lantas menggamit lengan cucunya sedikit menepi.


Sementara Nara kini berdiri canggung dengan membawa banyak barang di tangannya. Kesempatan ini pun tak disia- siakan oleh Opa Haris yang kemudian turun dari mobilnya lalu menghampiri Nara yang jelas ketakutan. 


“ Sudah dengar kabar soal ibumu di sana ?”


Deg !


Jantung Nara tiba-tiba berdegup hebat.


“ Begitulah akibatnya setiap kali kamu melampaui batasanmu di sini. Jangan lagi berulah atau kalau tidak Ibumu yang—”


Nara lantas mendongak dengan rahang menggertak keras. Bibirnya sudah bergetar hebat.


“ Kalau ibu saya ada apa-apa di sana, saya juga tidak bisa menjamin anak ini akan baik-baik saja setelah ini !” 


.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2