Wedding Agreement

Wedding Agreement
153.Eps 153


__ADS_3

Asha mendengar adzan subuh segera bergeliat menarik otot-otot tubuhnya. Menoleh kearah samping melihat suaminya tertidur pulas ia mengusap wajahnya lembut untuk membangunkan salat berjamaah bersama.


"Mas, bangun yuk. Salat berjamaah lalu kita jalan-jalan, aku pengen makan bubur," rengek Asha.


"Bubur apa? Biar pelayan membuatkan untukmu," lirih Ega mengucek kedua matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya.


"Aku ingin bubur masakan suamiku, tidak mau bubur yang lain," tegas Asha.


"Baik sayang tapi kita salat subuh dulu ya. Habis salat kamu tidur, aku buatkan bubur."


Ega tidak pernah bisa menolak apa yang di inginkan istrinya karena ia sangat mencintai Asha apapun akan ia lakukan asal istrinya bahagia.


Ega setelah memimpin salat berjamaah ia menuju dapur untuk membuat bubur ayam. Baginya memasak adalah hal muda karena sejak kecil ia sudah terbiasa dengan alat dapur karena ia hanya hidup dengan anggota keluarga serba laki-laki tanpa ada sosok wanita disekelilingnya.


Asha merasa bosan jika harus tiduran saja, ia memilih keluar untuk berkeliling melihat rumah barunya yang belum sempat ia lihat bagaimana indah dan nyamannya.

__ADS_1


Ia melihat taman bunga di belakang rumahnya, ia segera duduk di rerumputan memandang berbagai bunga yang mulai bermekaran.


"Indah sekali, tidak menyangka jika mas Ega mendesain, serta menyiapkan rumah ini sendiri. Akulah wanita yang paling beruntung," lirih Asha.


"Nyonya, sedang apa anda?" tanya tukang kebun melihat sang majikan berada di tanah.


Asha tersenyum, lalu menepuk sebelahnya agar pelayan ikut duduk didekatnya.


"Bukan maksud aku menolak nyonya, tapi tidak sopan jika aku seorang pembantu duduk bersanding dengan anda," lirih tukang kebun yang usianya empat puluhan tahun.


"Apa itu nyonya," tanya tukang kebun duduk berhadapan dengan Asha.


"Bapak sudah lama kerja disini? Oya siapa nama bapak?"


"Lumayan lama sejak rumah ini berdiri. Nama bapak Umar," jawabnya.

__ADS_1


Lama jadi rumah ini sudah mas Ega beli lama dong batin Asha melamun.


"Dulu rumah ini milik seorang artis terkenal, namun mereka bercerai hingga akhirnya di jual sekitar satu tahun lalu. Tapi rumah ini tidak sebagus saat ini. Dulu rumah ini gersang, seperti tidak penghuni. Sejak rumah ini dibeli Tuan Ega jadi kelihatan seperti istana pasti yang melihatnya ingin berlama-lama disini," jelas Pak Umar.


****


Hampir dua bulan Ega dan Asha menempati rumah barunya mereka hidup bahagia tanpa ada batu krikil yang menyandung jalan mereka. Ega semakin sukses dalam dunia bisnisnya, kandungan Asha pun sudah mulai menginjak usia tujuh bulan tinggal dua bulan lagi buah hati mereka akan hadir ditengah kebahagian mereka.


Hari sabtu seperti biasa Ega selalu mengosongkan waktunya untuk menemani istrinya yoga hamil. Ia selalu memantau dengan baik perkembangan janin yang ada di dalam kandungan istrinya yang kini mulai aktif banyak gerak menendang-nendang yang terkadang membuat Asha meringis kesakitan.


"Sayang, kita beli baju buat si dedek dulu ya," ajak Ega yang ingin segera membeli semua perlengkapan calon bayinya.


"Iya mas."


Asha memang tidak bisa menolak lagi permintaan suaminya karena usia kandungnya juga sudah dekat dengan waktu persalinan. Dan belum tentu juga suaminya bisa menemani ia belanja ditambah ia yang mulai malas keluar walaupun sekedar jalan-jalan.

__ADS_1


__ADS_2