Wedding Agreement

Wedding Agreement
Berdiri di atas kaki sendiri


__ADS_3

“ Sedang apa, El?” 


Aryan memicing dalam kondisi mata masih belum terbuka sepenuhnya saat mendengar Nara sudah bangun lalu sibuk dengan ponsel dan selembar kertas dan pensil. 


“ Lagi ada ide,” jawab Nara serius seraya mencorat coret selembar kertas dengan tangannya yang terampil. 


Aryan mendongak memicing melihat hasil coretan istrinya yang sudah terbentuk seperti sebuah pakaian entah model apa, Aryan tidak paham .


Merasakan tidur dengan nyenyak semalam membuatnya bangun dengan malas pagi ini. Rasa-rasanya Aryan ingin tambah sehari lagi meringkuk mencari kehangatan di atas peraduan ini. 


“ Apa cita-citamu setelah punya kemampuan desain seperti itu, El?” tanya Aryan masih melesakkan kepalanya ke tubuh Nara yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur. 


“ Aku ingin berdiri diatas kakiku sendiri, Aryan. Aku ingin punya karir yang cemerlang dengan kemampuanku sendiri . Ingin seperti orang-orang lainnya yang berjalan mendongak dan menunjukkan kalau aku tidak dapat direndahkan!”


Ada sebuah makna penekanan dari ucapan Nara hingga membuat Aryan membangunkan tubuhnya saat ini. 


“ Berdiri dengan kakimu sendiri ? Kalau begitu katakan, dimana posisiku nanti saat kamu sudah bisa melakukannya?”


Nara lantas termenung , ia menghentikan sementara pergerakan jemarinya.


“ Kita tidak akan tahu seperti apa kita di masa depan , Aryan ! Itu kan hanya angan-anganku saja, lupakan !”


Nara lantas meletakkan pekerjaannya dan menyingkap selimut untuk turun dari tempat tidur. Namun dengan cepat Aryan menangkap tubuhnya dari belakang.


“ Tunggu . Mengapa aku selalu menangkap keraguan dari setiap ucapanmu, El ? Kamu anggap pernikahan ini seperti apa ? Mengapa aku tidak ada dalam rancangan masa depanmu?”


Nara gemetar saat Aryan mendekapnya dari belakang hingga menimbulkan desiran halus di tengkuknya akibat deruan napas Aryan yang berhembus panas pagi ini. 


“ Eemm, aku…. aku mau mandi dulu, Ar !”


“ Tidak ! Jangan menghindar !” Aryan semakin mengeratkan dekapannya lalu menderukan napasnya lebih berat lagi.” Apa kamu menganggap pernikahan ini tidak ada artinya ?”


“ Ar, lepaskan aku. Aku tidak bisa bernapas !”


Aryan akhirnya melepaskan tangannya hingga Nara buru-buru memerosotkan tubuhnya menghindari suaminya sendiri. Nara memasuki kamar mandi dan segera mandi tanpa melakukan ritual khusus berharap ia segera pergi ke tempat sekolah modenya. 


Baru saja ia melingkarkan selembar handuk ke tubuhnya, tiba-tiba ada kekuatan dari belakang yang membuat handuk itu tertarik hingga membuka tubuhnya kembali. 


Nara menoleh cepat, Aryan sudah menyunggingkan senyum nakalnya. 


“ Aryan , kamu mau apa ? Aku sudah buru-buru , hari ini masuk kelas lebih pagi.” 


Tak peduli tubuh Nara yang sudah setengah kering, Aryan, malah kembali mengunci tubuh Nara dengan perutnya yang menyembul kecil itu dengan mengendus aroma sabun yang memanjakan hidung. 


“ Kamu wangi banget, El !” 


“ Aryan kembalikan handukku, aku sudah mandi.” 

__ADS_1


Aryan tak peduli , ia tetap melangkah mendekati istrinya seraya melepas pakaiannya . 


“ Kita mandi lagi saja. Kenapa sih buru-buru , toh kita juga akan berangkat bersama.”


Aryan sudah menyalakan air shower hingga membuat tubuh Nara kembali basah. 


“ Aryan kamu begitu ganas, aku tidak bisa mengimbangimu !’ 


Nara segera mendorong tubuh suaminya untuk mundur dan ia segera keluar kamar mandi tanpa penutup apapun hingga kemudian mengambil handuk baru dari dalam lemari. 


“ El…. El.. lucu sekali, malu-malu tapi sebenarnya mau juga,” ucap Aryan sambil menggeleng seraya menertawai dirinya sendiri saat proses berkenalannya terhadap banyak wanita cantik dan sempurna kini justru jatuh ke tangan seorang wanita sederhana bernama Elnara.


Aryan keluar kamar mandi saat Nara sudah berganti baju dan berdiri di depan cermin. 


“ Tidak perlu dandan berlebihan, begini saja sudah cantik. Jangan memperlihatkan wajah menor di depan orang lain .” protes Aryan. Nara memang sudah cantik sekali  tanpa makeup tapi dengan menggunakan makeup tak Aryan pungkiri istrinya semakin cantik jadi ia tidak rela wajah cantik istrinya dinikmati oleh orang lain. Aryan tak mau banyak pasang mata laki-laki yang menatap penuh pemujaan pada istrinya, terlebih di sekolah mode istrinya, Aryan sering melihat banyak para siswa laki-laki yang menatap kagum pada istrinya. 


“ Siapa juga yang mau dandan. Bau lipstik saja aku mual.”


“ Lalu ?”


Nara mengoleskan foundation ke beberapa bagian lehernya yang menghitam bekas hisapan Aryan semalam yang begitu memalukan bila terlihat oleh orang lain. 


“ Lihat ini !” Nara menunjukkan bekas tanda kepemilikan yang Aryan buat tidak hanya satu namun beberapa tersebar memutar di lehernya.” Sudah aku tutupi pakai foundation tapi masih terlihat. Bagaimana ini ? Kalau ada yang melihat kan aku malu, Ar !” 


Aryan jelas tertawa lebar sampai menarik lehernya melihat hasil perbuatannya semalam yang ternyata menyusahkan Nara yang susah payah menyembunyikan bekasnya. 


“ Aryan ! Aku sudah kesiangan, kamu cepat pakai baju , sana !” 


Akhirnya Nara menyiasati tampilan lehernya dengan sebuah syal satin yang ia bentuk sedemikian rupa sehingga menutup sempurna. 


“ Wahh, kamu memang benar-benar fashion enthusiast sejati, El . “ puji Aryan mengagumi kemampuan istrinya dalam menyiasati penampilan. 


...----------------...


“ Nyonya muda maaf, Tuan Aryan masih ada pekerjaan.”


Sebuah kendaraan tipe sedan hitam metalik berhenti tepat di depan lobby Esmod dimana Nara baru saja keluar dengan banyak barang di trolley.


“ Tidak apa kak. Bisa minta tolong masukkan ini ke mobil ?”  


Jonas segera turun dan memasukkan banyak barang yang merupakan bahan Nara dalam membuat pakaian untuk kompetisi. Nara sendiri yang tipe tidak bisa duduk diam juga dengan cekatan memasukkan banyak barangnya. 


“ Biar saya saja, Nyonya,” pinta Jonas sungkan karena Nara seperti tidak ingat kalau sedang hamil karena pergerakannya yang tanpa batas sama sekali.


“ Nara , dijemput siapa lagi nih?” celetuk salah seorang temannya yang menyisir Nara seperti bukan orang sembarangan melihat kendaraan yang menjemputnya kini berbeda lagi dengan tampilan lebih mentereng. 


“ Oohh, ini kakak saya. Pulang dulu, ya. Daaahh !” 

__ADS_1


Tak ingin berbasa basi, Nara segera naik ke mobil dan meninggalkan siapapun yang penasaran dengan kehidupan Nara yang nampak luar biasa. 


“ Nyonya muda, maaf . Tuan muda Aryan sudah melarang anda memanggil saya dengan sebutan itu.”


Nara langsung mengerutkan keningnya, Jonas ternyata keberatan dan takut karena Nara cuek sekali saat menyebutkan pria itu adalah kakaknya. 


“ Apa saja juga dia larang kalau tidak suka, egois sekali ! “ gerutu Nara malah jadi cemberut dengan sikap keras kepala Aryan yang begitu arogan hanya karena masalah kecil saja. 


Sampai di rumah, bik Ina mengantar paket belanja online milik Nara yang dipesan atas izinnya pada Aryan untuk membeli beberapa baju ganti untuknya . Meski sudah bersuami orang kaya, Nara tetap selalu memberitahu suaminya karena merasa kartu kredit yang Aryan berikan padanya bukanlah miliknya. 


“ Wah, sudah datang ya ?” 


Nara langsung membuka paket itu di depan bik Ina dan memberinya dua buah daster rumahan berukuran jumbo untuk wanita itu. 


Sementara Jonas kembali mengangkut barang milik Nara dan ditata sekalian di ruang kerja Nara yang kini nampak sangat meriah seperti sekolah mode mini lengkap dengan beberapa patung manekin dan etalase baju.


“ Untuk bibi, Nyonya?”


“ Iya , buat bik Ina. Pakai saja, nanti kita kembaran.”


Karena antusias akan mengerjakan tugasnya di rumah, Nara segera mandi dan memakai sebuah baju daster korea dengan motif buah nanas yang nampak lucu di tubuhnya.


Nara sengaja membeli daster untuk pakaiannya di rumah sekaligus sebagai baju tidur lantaran tidak ingin menyulut Aryan yang mudah terbakar api gairahnya begitu melihat Nara mengenakan baju tidur satin yang menggoda. 


Untuk sementara Nara menyimpan setelan piyamanya karena sudah tidak nyaman dengan bagian celananya. 


“ Wah, lumayan murah meriah bisa buat ganti-ganti,” ucap Nara menertawai dirinya sendiri di depan cermin dengan pakaian daster yang lumrah dipakai ibu-ibu. 


Namun baju rumahan yang konon menjadi pakaian paling nyaman sedunia itu kini menyatu sempurna dengan tubuh Nara yang mungil dengan perut menyembul kecil.


Tak ingin membuang waktu dengan bersantai di rumah , Nara yang memang pada dasarnya tidak bisa duduk diam itu kini mulai berkutat di meja kerjanya yang tanpa sekat ruangan namun menghadap langsung  ke jendela kaca.


“ Silahkan susu dan makannya, Nyonya muda.”


Nara membalikkan badan lalu melihat bik Ina juga memakai daster sama dengannya.


“ Hahaha, Bik Ina lucu juga, bagus kan bik ? Ini daster korea lho, meski import tapi harganya super murah.”


“ Tapi belum dicuci, Nyonya . Bibi cuci dulu baju yang lain, ya ?”


Nara menggoyangkan telapak tangannya saat sedang meminum susu hamilnya.” Tidak perlu , bik. Saya sudah biasa pakai baju baru tanpa dicuci. Toh sampai sekarang saya juga masih sehat wal'afiat kan ?” ucap Nara begitu santai dan masih menyamakan kebiasaan hidupnya dengan masa lalu meski taraf kehidupannya kini jauh sudah berubah. 


.


...****************...


Maaf kalo up nya lama dan jarang tp aq usahain agak panjang walaupun jarang.. Yg pasti bakal aq selesaikan sampai tamat dan gak akan gantung ceritanya. Aq jg lagi ngejar novel semalam dengan istrimu dulu biar cpt tamat lalu fokus ke novel ini... Soalnya wedding agreement byk konfliknya jd aq selalu berusaha agar feelnya dpt.. Maaf kalo rada negbosenin atau lambat alurnya krn emang sengaja di buat seperti itu... Karena awal pernikahan mereka kan sebuah keterpaksaan jd ada proses yg panjang dan gak mungkin langsung nerima gitu aja trs mereka gak saling kenal dan gak saling tau keluarga masing² seperti apa. Jd yg sabar nunggunya ya krn novel ini agak panjang nanti bab nya . Ikutin terus yaa cerita mereka .🫰🫶

__ADS_1


__ADS_2