Wedding Agreement

Wedding Agreement
136. Tumpang


__ADS_3

"Sayang sebenernya ada apa? Aku tak mengerti hari apa ini? Apa kamu memiliki acara?"


Ash menggeleng.


"Lalu ada apa? Katakan!"


"Mas aku ingin jalan-jalan pagi di depan taman apartemen habis salat subuh. Mas mau menemaniku kan?" tanya Asha.


"Cuma itu?"


Ega bernafas lega ternyata di hari ini tidak ada acara spesial. Jika hanya itu yang di inginkan istrinya sangatlah mudah untuk menurutinya.


"Tidak, nanti siang aku ingin makan masakan bunda Aira."


Masakan bunda berarti kita harus pergi ke Surabaya, kalau ngak cepat berangkat pasti jalan mancet.


"Siap sayang, kita habis jalan-jalan pagi segera bersiap berangkat kerumah bunda dan papa. Aku ngak janji kalau kita sampai sana tepat waktu makan siang, kamu tahu kan perjalan Malang dan Surabaya cukup rumahan jauh ditambah hari minggu jalan pasti rame," jelas Ega.


Asha mengangguk sambil tersenyum.


"Ya sudah cepat ambil air wudhu salat habis itu kita turun kebawah," ajak Ega.

__ADS_1


****


Di taman cukup rame pengunjung yang ingin berlari pagi atau sekedar jalan-jalan pagi merilekskan pikiran yang hampir satu pekan bekerja ada juga yang menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga dan membeli sarapan.


Asha berjalan berdampingan bersama suaminya yang tidak mau melepas genggam tangannya sama sekali. Setelah berjalan memutari taman, Ega menarik tangan istrinya untuk duduk dibangku kosong taman yang berhadapan dengan bunga kertas yang bermekaran.


"Sayang, kamu mau sarapan apa? Disebelah sana ada bubur ayam, mas belikan ya?" tawar Ega.


Asha melihat kemana arah tangan telunjuk Ega, melihat penjual bubur yang menurutnya kurang menarik ia rasanya ingin muntah.


"Aku ngak suka, aku lihat kedainya aja mual mau muntah Mas."


Muntah! Biasanya aku juga beli bubur disana, ia selalu memakan dengan lahap sampai habis kenapa sekarang ia ngak suka pikir Ega. Apa ini bawaan ibu hamil yang seleranya berubah-ubah.


"Aku ingin rujak buah."


"Sayang, perut kamu masih kosong tidak bagus jika pagi-pagi makan buah yang asam-asam. Sarapan dulu nanti rujak buahnya beli saat kita pulang gimana? Dimakan siang hari pasti segar dan sangat nikmat," tutur Ega yang tidak ingin asam lambung istrinya kambuh.


"Benar ya mas, kita beli nasi pecel di ujung sana yang ada nasi ramesnya. Aku sudah sangat lapar ini," rengek Asha.


Asha dan Ega menghampiri penjual nasi pecel yang disajikan dengan wadah daun pisang yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.

__ADS_1


"Bu nasi pecel dua ya," ucap Asha.


"Iya neng, nasi pecel atau pakai tumpang?" tanya penjual.


"Campur aja, tapi banyaki sambel tumpangnya, nasinya dikit aja banyaki sayur daun pepayanya. Yang satu bentar bu, aku tanya suamiku dulu," ucap Asha. "Mas Ega kamu pakai apa?" ucap Asha kepada suaminya yang sudah duduk di lesehan.


Ega berdiri menuju tempat istrinya karena tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan istrinya.


"Apa sayang?" tanya Ega.


"Kamu nasinya pakai apa?"


"Nasi pecel biasa, tambah lauk sate pelo ati, sate telur puyuh, sama bakwan jangung ya," ucap Ega.


"Pecel aja apa pakai tumpang?"


"Pecel aja, bu. Kalau tumpang ya capek," gurauan Ega.


Maksudnya apa sich mas Ega aku kok gagal paham batin Asha.


"Maksudnya mas?" tanya penjual yang tidak bisa memahami kata Ega.

__ADS_1


"Ha, ha, bercanda bu," jelas Ega berlalu pergi menuju tempat duduknya kembali.


__ADS_2