Wedding Agreement

Wedding Agreement
83.Kedatangan tamu


__ADS_3

Di dalam kamar Ega segera menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Matanya tertuju pada gambar awan empat dimensi yang ada di plafon kamarnya tapi pikirannya masih mencerna dengan jelas pesan yang disampaikan oleh sang mertua.


Tanpa Papa minta pun aku akan selalu jaga Asha sampai aku menutup mata. Aku saja yang selalu jaga dia dari kejauhan bahkan saat-saat dimana Dion akan merengut kehormatan Asha.


Ega segera membalikkan badannya untuk mencoba memejamkan matanya namun usahanya sia-sia. Ia menoleh ke arah jam yang menempel dinding sudah menujukan larut malam bahkan sudah hampir menjelang pergantian hari.


"Sudah jam 12 malam, tapi Asha kok belum kembali ke kamar. Dia pasti menghindar dariku, agar tidak memberiku jatah," umpat Ega.


Cklek


Asha segera masuk dengan membawa satu gelas penuh air putih. Melirik suaminya tengkurap, ia segera menyusul naik ke atas ranjang. Ia segera membaringkan tubuhnya disamping Ega, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga ke atas dada.


Ega yang berpura-pura tidur itu segera membalikkan badan hingga saling berhadapan dengan istrinya. Asha yang merasa terkejut dengan tangan suaminya yang menempel pada dadanya segera membuka matanya.


"Mas Ega!" teriak Asha.


Ega segera membungkam mulut istrinya dengan mulutnya, hingga bungkaman itu menjadi semakin panas dan bergairah.


"Mas, aku ngak bisa nafas." Asha segera mendorong tubuh suaminya sedikit menjauh. "Beri kode dulu kenapa?" ucapnya lagi dengan mengusap bibirnya yang basah bekas air liur suaminya.


"Habis kamu berteriak! Nanti Papa dan Bunda dengar gimana? Padahal kita tidak lakukan apa-apa, nanti mereka pikir macam-macam gimana?"


Asha segera menyentil jidat suaminya. Lalu mencubit gemas pipinya.


"Mas Ega ini lupa ya, kamarmu ini kedap suara. Aku berteriak, kencang juga mereka tidak akan dengar. Lagi pula kamar sebelah ruang kerja kamu. Jangan-jangan kamu cari kesempatan dalam kesempitankan?!"


Benar juga kata Asha kenapa aku jadi lupa. Ah, biarkan saja. Kebohohanku tadi ada gunanya dapat ciuman pengantar tidur. Batin Ega.


"Sayang, kalau mereka tidak dengar kita lanjut lagi yang barusan ya. Kamu tadi sore bilang malam, jadi sekarang boleh ya," rengek Ega yang seperti anak kecil minta dibelikan permen.


Ega yang merajuk itu pun tidak tinggal diam begitu saja. Tangannya mulai berkeliaran mencari main yang sangat nikmat di mainkan jari-jemarinya.

__ADS_1


"Mas, maafkan aku," lirih Asha merasa bersalah.


"Maaf buat apa? Kamu tidak berbuat salah?"


"Aku kedatangan tamu barusan, makanya aku lama tadi ngak masuk-masuk ke kamar agar kamu tidur dulu," lirih Asha dengan menundukan wajahnya tanpa berani menatap suaminya.


Ega yang melihat wajah sedih Asha karena merasa bersalah itu pun segera mengangkat dagunya hingga mereka saling bertatap muka.


"Kamu tidak salah, itu sudah jadi kodratnya seorang wanita yang setiap bulannya akan kedatangan tamu. Sudah kita bisa melakukannya saat kamu sudah suci, Mas bisa menahannya. Sini, aku peluk!" Ega segera membuka lebar kedua tangannya agar Asha datang dalam dekapannya.


"Temakasih, Mas kamu tidak marah. Seharusnya tadi sore aku tidak menawarnya, dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri."


"Sudah! Jangan dibahas lagi, sudah mau pagi cepat tidur! Tidak enak jika besok kita bangun kesiangan."


****


Pagi hari Ega yang bangun lebih awal itu pun setelah melakukan salat subuh segera menuju dapur karena merasa tengorokannya kering. Melihat mertua perempuannya ada di dapur ia segera menyapanya.


"Assalamualaikum, pagi Bunda. Maaf ya, kami tuan rumah malah bangun kesiangan," sapa Ega dengan menuangkan air putih kedalam gelas yang ia pegang.


"Waalaikumsalam, Nak Ega sudah bangun. Mana Asha?"


"Asha masih tidur. Biasa Bun, setiap dia datang bulan merasa perutnya kram dan tubuhnya pegal-pegal semua. Aku antar ke periksa selalu saja menolak, aku khawatir saja dengannya aku takut jika dia memiliki penyakit atau yang akan membahayakan dia," terang Ega.


"Tidak, itu biasa kok. Bunda dulu juga gitu, tapi setelah Bunda melahirkan kram itu hilang. Tapi jika kamu merasa takut sebaiknya saat di rumah sakit paksa dia untuk cek kesehatannya. Bunda jadi takut karena kalian sudah menikah setengah tahun tapi Asha belum hamil juga atau jangan-jangan memang ada masalah ya."


Gimana mau hamil, saat kita pelepasan saja aku selalu mengeluarkan di luar karena aku tidak ingin Asha dianggap hamil di luar nikah. Aku ingin mempublikasikan hubungan kita dahulu baru kita program hamil pikir Ega.


"Ga, kamu kenapa?" tanya Aira lagi saat melihat menantunya melamun.


"Tidak apa-apa, Bun. Kalau begitu Ega bangunkan Asha dulu ya," pamit Ega segera kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Sayang kamu dimana?" teriak Ega saat mendapati istrinya tidak ada di atas kasur.


Asha yang baru saja keluar dari kamar mandi segera duduk dimeja rias sambil menatap Ega lewat pantulan cermin yang ada di depannya.


"Mas Ega ini kenapa pagi-pagi sudah berteriak! Aku dari tadi juga masih dikamar," tegur Asha sambil menyisir rambutnya.


"Habis aku khawatir denganmu, gimana perut kamu masih sakit tidak? Jika masih sakit nanti sampai di rumah sakit kita periksa ya."


"Mas, aku ini tidak apa-apa," tegas Asha. "Aku sakit perut itu hanya di awal saja. Habis itu tidak ada masalah, aku juga sudah pernah konsultasi ke dokter kandungan aman-aman. Rahimku normal semuanya normal," jelas Asha.


"Alhamdulilah kalau normal, kamu cepat ke dapur sana bantu Bunda buat sarapan. Aku akan bersiap-siap dulu, nanti jam 11 aku ada meeting penting di perusahaan."


****


Di meja makan semuanya telah siap untuk menikmati sarapan yang telah sajikan dimeja makan oleh Aira.


Asha segera mengambilkan nasi goreng kedalam piring suaminya, lalu mengambil untuk dirinya sendiri.


"Sha, tiap pagi masak apa buat suami kamu?" tanya Raka yang tahu putri bungsunya itu tidak bisa masak.


"Masak air," kekeh Asha.


"Papa serius!"


"Asha juga serius," tawa Asha. "Habis Papa ini aneh, tiap pagi ya Asha buatkan suamiku dengan menu berbeda-beda tidak nasi goreng saja," ucapnya lagi.


"Memang kamu bisa masak?! Di rumah saja kamu tidak bisa bedakan mana garam dan gula, terus itu mrica sama ketumbar," ledek Raka yang memang kenyataannya begitu beberapa tahun yang lalu.


"Papa tidak percaya! Coba tanya sama orangnya langsung."


"Kalian itu kalau ketemu selalu saja berdebat, kalau saling jauh selalu mengeluh rindu kangen. Sudah, sebaiknya cepat makan keburu dingin," tutur Aira.

__ADS_1


Bersambung..


Mohon kritik dan sarannya ya, agar lebih baik lagi. Jangn lupa sll ingatkn jika ada typo terimakasih..😘😘😘


__ADS_2