
"Sudah, kalian harus menginap disini tidak ada penolakan!" tegas Asha. "Biar aku siapkan kamar tamunya," ucap Asha segera berajak berdiri menuju kamar tamu.
Aira yang melihat putrinya pergi segera ikut berdiri meminta izin pada sang pemiliknya, "Apa boleh Bunda ikut Asha membantunya, Nak Ega?"
Walaupun dia seorang mertua, dia tahu diri jika dia adalah tamu ia harus menghargai tuan rumah walaupun itu rumah anak dan menantunya.
"Jangan! Biar Asha saja yang merapikan, Bun. Itu sudah jadi tugas dan kewajiban dia, tapi bunda harus menganggap apartemen ini seperti rumah Bunda sendiri," jawab Ega dengan mengulas senyum di kedua sudut bibirnya.
"Terimakasih, Nak Ega."
Setelah kepergian Aira dan Asha di ruang tamu kini tinggal dua laki-laki yang sama-sama berkuasa. Ega bingung harus memulai percakapan apa dengan papa mertuanya itu.
Sedangkan Raka menunggu menantunya untuk buka pembicaraan agar ia bisa memancing untuk menginterogasinya. Hampir lima belas menit tidak ada di antara mereka yang memulai membuka suara hingga Ega mencoba untuk mengenal keluarga istrinya lebih jauh lagi.
"Pah, ini rokoknya." Ega meletakan satu bungkus rokok di atas meja untuk ia tawarkan pada papa mertuanya dengan korek di atasnya.
Sebenarnya Ega bukanlah perokok aktif ia hanya sesekali merokok untuk mengimbangi teman atau pun rekan kerjanya di kala waktu mereka berkumpul itu pun hanya satu batang sehari bahkan terkadang ia hanya membawanya saja tanpa menghisap barang panjang yang terkadang membuat ia sesak nafas itu.
"Papa sudah hampir satu tahun ini mengurangi merokok. Papa sudah tua, jadi harus sedikit-sedikit belajar menjaga kesehatan," tolak Raka halus.
"Benar, Pah. Sebaiknya kita menghindari barang ini. Aku hanya membawa saja, jarang aku menghisapnya."
"Benaran kamu bukan perokok aktif?" tanya Raka yang tidak percaya dengan perkataan menantunya karena setahu dirinya pasti setiap laki-laki selalu perokok aktif.
__ADS_1
"Benar, Pah. Aku tidak terlalu suka merokok."
Benar yang di katakan Nathan, jawabnya sama. Beruntung kamu Sha memiliki suami seperti Ega.
"Nak Ega, sejak kapan kalian pindah? Kenapa tidak mengabari kami agar kami bisa membantu kalian pindahan."
"Sekitar satu mingguan, maaf kami rencananya minggu depan ingin main ke Surabaya sekalian memberi tahu alamat rumah kami yang baru. Semoga Papa dan Bunda tidak marah," lirih Ega. Gimana aku mau mengatakannya kepada Papa kalau wajahnya saja sekarang kelihatan dingin begitu rasanya aku ingin tenggelam saja, lebih muda bicara dengan rekan bisnis dari pada dengan mertua.
"Kami tidak masalah, justru Papa senang akhirnya kalian bisa pindah rumah bahkan ini lebih istimewa dengan apa yang papa rencanakan. Sebenarnya kedatangan Papa dan Bunda berkunjung ke rumah kamu ingin membelikan kado untuk Asha apartemen. Kamu pasti tahu jika Asha hari senin ia akan berulang tahun yang ke 21," jelas Raka.
Semoga dengan aku bicara begini kamu bisa terbuka dengan latar belakang kamu. Aku paling tidak suka di keluarga Wijaya ada pembohong, aku tidak masalah dengan harta atau kekayaan yang kamu miliki yang terpenting kejujuran dan iman yang kuat pikir Raka menatap Ega tanpa berkedip untuk memberikan kode sorot mata agar sang menantu berkata jujur.
Ega yang melihat tatapan papa mertuanya semakin garang, kini nyalinya semakin menciut. Ia ingin berkata jujur agar tidak ada lagi beban dosa yang ia pikul namun disisi lain ia belum siap harus menerima kenyataan jika papa mertuanya murka terhadapnya lalu menyuruhnya untuk menjauhi istrinya. Ia tidak sanggup untuk jauh sedetik saja dengan Asha.
"Ega tahu, kebetulan Papa ada disini. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Ega katakan pada kalian. Hari senin rencananya aku akan mengadakan pesta kecil-kecilan di rumah sakit untuk merayakan ulang tahun Asha," kata Ega untuk mengawali kejujurannya.
Rumah sakit! Apa maksud dari Ega? Namanya pesta juga di hotel, di restoran mewah atau vila kenapa dia memilih rumah sakit. Jika memang dia benar Albram pasti dia akan mengunakan restoran mewah yang ia punya. Batin Raka.
"Rumah sakit! Maksud kamu rumah sakit dimana Asha magang? Kenapa harus disana?" cecar Raka dengan menyelidik. "Apa tidak sebaiknya kamu gunakan hotel milik Papa saja, itu juga milik kalian. Kami akan membantu kamu untuk membuat kejutannya," saran Raka.
"Terimakasih atas tawaran dan niat baik Papa. Aku sudah terlanjur merencanakan pesta di rumah sakit semua konsep sudah aku susun dengan baik, aku berharap Papa dan Bunda akan datang menyaksikan hari bahagia itu."
"Konsep apa yang sedang kamu buat? Boleh Papa bantu, Papa juga ingin ikut andil dalam acara spesial putri kesayanganku itu," mohon Raka. Sebenarnya apa rencana Ega? Kenapa harus di rumah sakit apa tidak ada tempat lain saja. Awas jika membuat kecewa Asha atau membuat malu keluarga Wijaya batinnya.
__ADS_1
"Semua sudah siap, tinggal menunggu hari H. Apa ada rekan kerja atau teman yang ingin Papa undang."
"Sepertinya tidak ada. Jangan lupa beri kabar Bang Nathan dan Mbak Bila ya, mereka juga sangat menanti hari bahagia adik kesayangnya."
"Pasti itu, Pah. Papa sudah makan malam belum biar Ega siapkan," pungkasnya.
"Memang kamu bisa memasak?!"
"Bisa, karena aku dari kecil hanya hidup berdua dengan Ayahku jadi apa pun kita kerjakan bersama."
"Kemana ibumu?"
"Kata Ayahku, Ibuku pergi meninggalkan kami. Saat itu usiaku masih belum genap tiga tahun. Aku juga tidak terlalu ingat jelas sosok beliau yang tega menelantarkan anak balita sepertiku hanya karena beliau ingin hidup kaya, meninggalkan tugasnya menjadi seorang ibu," jelas Ega.
Raka segera mendekat menantunya menepuk pundak Ega, lalu memeluknya.
"Maafkan Papa, membuat kamu meningat masa lalu kamu yang pahit itu. Anggaplah Bunda Aira seperti ibu kandungmu sendiri, Papa paham pasti kamu butuh sosok kasih sayang ibu," kata Raka dengan mengusap punggung belakang Ega.
Ega segera membalas pelukan mertuanya, ia merasa bersyukur selalu bertemu dengan orang baik-baik di sekelilingnya yang sangat sayang dan perduli dengan hidupnya.
"Terimakasih, Pah. Hanya kalian yang Ega punya saat ini. Ayahku telah tiada, kakekku juga sudah lama pergi. Keluarga yang aku punya hanya kalian dan Abah saja," lirihnya. "Pah, maafkan Ega telah berbohong pada kalian," kata Ega yang tidak ingin membalas kebaikan mertuanya dengan kebohongan yang selama ini ia sembunyikan.
Raka segera melepas pelukan Ega, menatap menantunya dengan menyelidik.
__ADS_1
Bersambung..