Wedding Agreement

Wedding Agreement
93. Haid


__ADS_3

Astagfirulah kenapa aku jadi berburuk sangka dan su'udzon begini sudahlah mungkin Mas Ega ingin memberi nasehat padaku agar aku menjadi lebih baik lagi pikir Asha.


"Sayang, kenapa kamu diam?!" tanya Ega.


"Tidak apa, aku hanya mengantuk saja. sudah selesai belum Mas? Mas, habis ini kamu ngapain lagi. Gimana jika kita nonton ke bioskop atau jalan-jalan," ajak asha dengan bergelajut manja di pangkuan suaminya dengan menyadarkan kepalanya didada kekar milik Ega.


Apa sebaiknya aku menyenangkan Asha dulu, ke pesantren untuk berpamitan ke Abah juga Umi lain kali saja. Aku sebagai suami belum pernah mengajak Asha jalan-jalan. Batin Ega mulai menimang-nimang mana yang harus ia dahulukan.


Asha yang melihat suaminya sedikit terdiam, segera membelai wajah suaminya.


"Mas lain kali saja kita nontonnya, kita lanjut kerja saja. Sepertinya kamu sedang banyak pekerjaan, sini aku bantu, Mas." Asha kini mulai mengambil lembar beberapa formulir yang ada di depannya menatap setiap tulisan demi tulisan.


Ega segera mengambil lembar kertas lalu meletakan pada meja kerjanya.


"Aku tidak sibuk, hanya ingin ke pesantren pamit pada Abah juga Umi jika aku sudah tidak bisa mengajar lagi. Kamu tahu kan waktuku sudah tidak banyak lagi, dulu aku belum punya kamu jadi bisa mengamalkan ilmuku tapi sekarang ada kamu disampingku aku harus bisa bagi waktuku antara kerja cari nafkah dan keluarga," jelas Ega.


"Kalau gitu kita ke pesantren saja Mas, tapi kita pulang dulu ya aku ganti baju kalau seperti ini kan tidak mungkin."


Makanya aku meminta kamu berjilbab agar setiap ada acara atau sesuatu yang mendadak tidak perlu berganti-ganti baju seperti ini tapi aku tidak bisa memaksamu, Sayang.


Ega segera berdiri menggandeng tangan Asha untuk menuju kamar yang ada di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Mas, ngapain kita ke kamar bukannya tadi Mas bilang mau ke rumah Abah?"


"Sayang, kata kamu tadi tidak mungkin jika kamu pakai baju seperti ini makanya Mas ajak kamu untuk ganti baju."


"Ganti baju! Memang ada bajuku disini?!" tanya Asha menyelidik.


Ega tidak banyak bicara ia segera membuka lemari besar pintu dua yang ada disebelah lemari pakaiannya. Saat pintu terbuka lebar mata Asha mengganga tak percaya akan apa yang ia lihat dari setelah gamis syar'i hingga setelah baju dengan tok panjang dengan berbagai koleksi tas, sepatu, sandal serta aksesoris yang memenuhi lemari besar itu.


"Mas ini semua kamu siapkan untukku?!" tanya Asha.


Asha segera mengambil salah satu gamis dari desainer ternama di kota ini lalu membentangkannya pada tubuhnya lalu bercermin di depan pintu.


"Kamu cantik sayang," puji Ega. "Pakailah ini!" perintah Ega berjalan menghampiri Asha lalu memeluknya dari belakang dengan menyandarkan dagunya di pundak istrinya.


Ega segera melepas pelukkannya lalu memutar tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan. Ia segera meraih kancing yang ada di jas Asha untuk membantu melepaskannya satu persatu hingga terlepas semua, setelah itu ia menarik lengan jas Asha satu persatu hingga jas hitam yang digunakan istrinya terlepas dari tubuh sang istri.


"Aku bisa melakukannya sendiri, sebaiknya kamu cepat salat ashar sana! Aku juga akan mandi dulu, badanku rasanya lengket juga sangat ngerah, Mas. Kamu juga mandi sana!"


"Kita mandi bersama, Sayang. Sudah lama kita tidak mandi bersama."


"Mas Ega! Aku sedang datang bulan, apa kamu tidak jijik apa?"

__ADS_1


"Jijik kenapa? Kita hanya mandi bersama," jelas Ega.


"Tapi aku takut nanti kamu tidak kuat menahannya," ledek Asha. "Kamu kan laki-laki normal, Mas. Apa lagi saat aku tidak haid saja kamu selalu menerkamku tanpa ampun," jelas Asha.


"Sayang, aku paham akan itu. Dalam Al-Baqarah: 222, ditegaskan bahwa haid merupakan kotoran. Dari sini, para ulama sepakat keharaman berhubungan saat haid. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang anggota tubuh istri yang harus dijauhi saat haid. Pertama, Imam Ibnu Abbas dan Abidah Al-Salmani mengatakan, seorang suami harus menjauhi seluruh anggota tubuh istrinya saat haid. Artinya, tidak boleh menggauli istrinya dengan cara apa pun karena berpedoman pada keumuman ayat tersebut. Kedua, mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i dan Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa anggota tubuh istri yang harus dijauhi adalah anggota tubuh antara lutut dan pusar," jelas Ega.


"Berhubungan saat haid merupakan pelanggaran berat. Praktik ini disepakati oleh ulama perihal keharamannya berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 222. Status hukum praktik berhubungan saat haid juga berlaku pada praktik jimak saat istri sedang menjalani masa nifas.


Hubungan badan saat istri sedang menjalani masa nifas juga merupakan pelanggaran berat sebagai keterangan berikut ini: “Hubungan badan dengan istri yang sedang haid haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seorang Muslim yang menganggapnya halal bisa berubah menjadi kufur. Keharaman ini didasarkan pada firman Allah, ‘Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah, ‘Itu adalah kotoran. Maka itu, jauhilah perempuan saat haidh. Jangan kalian dekati mereka hingga mereka suci. Kalau mereka telah suci, maka datangilah mereka dari jalan yang Allah perintahkan kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertobat dan orang yang bersuci,’’ (Surat Al-Baqarah ayat 222)," jelas Ega.


Padahal aku cuma bilang begitu saja tapi Mas Ega jelasinya panjang lebar banget beginilah punya suami dengan kepintaran yang luar biasa di atas rata-rata ralat laki-laki dengan kesempurnaan yang luar biasa


batin Asha mendengarkan penjelasan suaminya.


Ega yang belum selesai itu pun masih berbicara panjang lebar dengan apa yang ia ketahui.


"Mereka yang melakukan pelanggaran berat berhubungan saat haid ini dikenakan sanksi berupa denda sebesar satu atau setengah dinar. Penetapan sanksi ini merujuk pada hadits riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim berikut ini: “Seorang suami yang berhubungan badan dengan istrinya saat haidh dianjurkan untuk bersedekah satu dinar bila hubungan dilakukan saat darah haidh baru keluar (masih deras), dan setengah dinar saat darah haidh mulai surut beradasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan Al-Hakim. Ia (Al-Hakim) menilai shahih hadits ini. Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika seseorang behubungan badan dengan istrinya saat ia haidh, hendaklah ia bersedekah satu dinar bila darah haidhnya masih merah dan setengah dinar bila darah haidhnya sudah menguning." (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405 H, juz 3, halaman 552). Selain dikenakan sanksi karena pelanggaran berat, seseorang juga diwajibkan untuk bertobat kepada Allah karena praktik ini merupakan dosa besar yang harus dijauhi," ucap Ega.


"Iya sayang, aku mandi dulu nanti keburu kesorean kita kesananya," ucap Asha beranjak pergi meninggalkan suaminya yang masih berdiri di depannya.


Ega yang melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi ia segera berlari menyusulnya untuk ikut mandi.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2