
Ega tertawa renyah ketika mendengar ucapan Papa Raka. Istrinya yang melihat ia tertawa segera mencubit pahanya hingga meninggalkan bekas merah dan ia meringis menahan sakit.
"Kamu sakit ya?" tanya Raka pada Ega.
"I-iya," pekik Ega terbata-bata. "Asha nakal, Pah. Dia menganiayaku!" ujarnya lagi.
"Sayang, di dalam rumah tangga ngak boleh ada KDRT. Jangan di ulang!" tegur Aira.
KDRT apanya aku hanya memberikan ia pelajaran saja agar dia tidak tertawa mengejekku. Awas kamu Mas, akan aku beri hukuman kamu nanti umpat Asha di dalam hatinya.
Ega yang melihat raut wajah Asha cemberut itu tertawa di dalam hatinya penuh dengan kemenangan. Ia segera mengelus paha istrinya yang berada di bawa meja makan.
Asha yang melihat itu pun segera menampik tangan suaminya dengan keras dari atas pahanya. Lalu melirik dengan tatapan sinisnya.
"Ega, Sha, kapan kalian mengadakan resepsi pernikahan kalian. Papa rencananya akan membuatkan pesta mewah untuk kalian."
"Benar itu, sebaiknya kalian segera melaksanakan pesta sebelum kamu hamil, Sha. Bunda dan Papa rencananya akhir tahun ini akan membuatkan pesta pernikahan kalian. Menurut kalian gimana?" tanya Aira.
"Kalau Asha sich terserah kalian, aku begini saja sudah bahagia. Bagiku pesta juga tidak terlalu penting, yang penting kita sudah sah di hadapan Allah dan tercatat di buku pernikahan yang sah dalam negara," ketus Asha.
Kamu itu sama persis dengan Bundamu, pesta itu penting agar semua tahu jika kalian sudah ada yang memiliki apa lagi ini Ega terjun di dunia bisnis batin Raka.
"Kalau Ega terserah kalian saja mana baiknya, tapi rencananya di pesta ulang tahun rumah sakit aku akan mengumumkan berita bahagia tentang rumah tangga kita ini. Aku harap kalian akan datang menyaksikan hari bahagia itu," terang Ega.
__ADS_1
"Berita bahagia?! Asha hamil?" tanya Raka.
"Papa ini, emang berita bahagia jika aku hamil. Berita bahagianya itu agar orang-orang yang dulu menghina, merendahkan kita itu tahu siapa sebenarnya suamiku. Mereka selalu mengejek Mas Ega, selalu memandang rendah dia. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat melihat kebenarannya. Pasti mereka akan bersujud mohon ampun pada kamu, Mas." Asha membayangkan gimana wajah Papa Bela jika yang saat itu di hina adalah pemilik rumah sakit sebenarnya pasti dia akan mati kutu.
Aira yang melihat putrinya senyum-senyum tak jelas segera membuyarkan lamunannya, ia takut jika putrinya kesambet barang yang tidak jelas atau sedang merencanakan pikiran jelek.
"Sha, apa yang kamu pikirkan? Jangan bertindak macam-macam!" tegur Aira untuk mengingatkan putrinya agar tidak ceroboh dalam bertindak.
"Asha tidak mungkin bertindak macam-macam, aku akan selalu disampingnya. Jadi Papa dan Bunda jangan khawatir, aku selalu menyuruh orang untuk selalu mengawasi Asha kemana pun dia pergi."
"Mas! Apa-apaan?! Aku ini bukan anak kecil, aku bisa jaga diri sendiri, tidak perlu melakukan hal yang tidak penting begitu," dengus Asha.
"Tidak penting kata kamu! Aku ngak ingin terjadi sesuatu denganmu! Banyak orang yang akan mengincar kamu, Sayang. Apa lagi kamu anak dari keluarga Wijaya kamu istri dari Albram, dunia bisnis itu kejam. Memang aku tidak memiliki musuh tapi setidaknya kita jaga-jaga," jelas Ega.
Raka mendengar penuturan menantunya salut dengan keputusan yang sangat bijak menurutnya. Kamu memang benar-benar pengusaha muda dengan seribu gudang prestasi tidak ku sangka bisa memiliki menantu sehebat kamu.
"Bang Nathan juga papa bilangin ya," sahut Asha.
"Sayang, untuk Bang Nathan biar aku saja yang bicara dengannya. Lagi pula besok aku ada rapat pemegang saham pasti akan ketemu dia," ujar Ega.
Dia sering bertemu Nathan tapi kenapa Nathan tidak pernah tahu jika adik iparnya ada bersama dia disaat-saat penting seperti itu. Apa sulit mengenali Ega atau memang Ega selalu menyamar agar tidak diketahui identitasnya batin Raka.
"Mas sering yang rapat bersama Bang Nathan?" tanya Asha menyelidik.
__ADS_1
"Sering, mungkin sudah hampir dua tahun ini kita bekerjasama. Memang kenapa? Apa ada sesuatu?"
"Waktu yang sangat lama. Sebenarnya apa motif kamu mendekati putriku?!" tegas Raka menatap Ega.
"Motifku karena aku mencintai Asha tidak ada yang lain," jawab Ega tegas.
"Kenapa aku jadi ragu denganmu, cinta alasan yang kurang tepat!"
"Papa!" ucap Aira dan Asha bersamaan.
"Motifku hanya itu, tujuan hidupku setelah aku sukses hanya mengejar cinta Asha yang sudah aku cintai sejak kecil saat dimana aku menyelamatkan dia. Papa tahu siapa yang jaga Asha selama ini, 'aku'. Ega mengucapkan penekanan pada kata aku agar mertuanya tahu yang sebenarnya.
"Apa katamu?! Aku! Jelas-jelas yang jaga Asha kami karena dia anak kami!" hardik Raka dengan melototkan matanya.
Aira dan Asha hanya bisa menatap dua lelaki di samping dan di depannya yang sama-sama keras kepala tidak ingin mengalah dalam berargumentasi.
"Papa tahu siapa yang selalu memberi kabar keberadaan Asha saat bersama Dion selama ini?! Itu aku, siapa yang selalu menggagalkan perbuatan maksiat Asha? Itu, aku. Siapa yang mengagalkan tes Dion agar tidak masuk universitas Malang? Itu, aku. Jika Papa bisa berpikir pajang menganggap Dion tidak baik harusnya Papa melakukan penjagaan ketat untuk Asha," jelas Ega membongkar semuanya.
Asha menutup mulutnya tidak percaya jika selama ini yang selalu menggagalkan semua itu adalah suaminya. Kini perasaannya antara kecewa dan bahagia, entah mana yang berdomisili raung hatinya saat ini. Berbeda dengan Aira yang bangga dengan Ega yang mencintai putrinya diam-diam rela melalukan apa saja tanpa membuat dia menyadarinya menjaganya sampai waktu yang tepat.
"Jadi saat itu yang menelepon kami, beralasan Asha sakit menyuruh kami datang ke rumah itu kamu?!" tanya Raka.
"Benar, aku yang melakukan semuanya. Karena aku tahu rencana licik Dion selama ini. Aku hanya melakukan di batas kewajaran saja, tidak lebih. Aku hanya ingin menjaga apa yang akan jadi milikku, agar tidak berbuat dosa terlalu banyak. Aku hanya menepati janjiku pada Asha waktu kecil itu," ungkap Ega.
__ADS_1
"Aku salut denganmu, maafkan Papa selalu curiga denganmu. Aku harap kalian selalu bahagia dalam menjalani kehidupan rumah tangga ini," kata Raka. "Bun, sebaiknya kita segera pulang. Ini juga sudah terlalu siang, katanya mau mampir ke pesantren juga," ajak Raka. Ia ingin segera pergi dari hadapan menantunya karena ia sangat malu dengan sikapnya yang su'udzon.
Bersambung