
Asha melihat suaminya yang memesan makanan dengan berbagai menu itu hanya bisa mengangkat kedua alisnya.
"Mas, kok duduk?! Ini nasinya belum ada lo, gimana kita makannya?" tanya Asha lagi.
"Nasinya masih di ambilkan dari penanaknya, tadi nasinya habis aku mau ambil sendiri belum matang," ketus Ega.
"Mas sering kesini ya, atau ini juga termasuk milik Albram?"
"Ngawur ae, bukanlah Sayang. Ini milik anak didik santri Abah tapi aku yang memberi modal usaha ini. Masakkannya enak banget lo, kamu harus coba."
Pasti dia cewek! Kalau masakkannya enak, ada motif apa Mas Ega memberinya modal pasti Mas Ega ada rasa-rasa dengannya apalagi dia suka masakkannya. Kata orang dulu cinta itu datang dari perut lalu ke hati batin Asha menatap nanar manik mata suaminya yang sibuk makan gurami dengan dicolok sambal itu.
Asha segera menggeleng-gelengkan kepala mengusir pikiran negatifnya agar tidak su'udzon terhadap suaminya. Ia yakin jika hanya ada namanya di dalam hati suaminya.
"Mas dia sudah menikah ya?"
"Belum, memang ada? Apa kamu cemburu?" goda Ega.
"Siapa sich yang ngak cemburu kalau suaminya dekat dengan wanita lain, apa lagi kamu suka masakannya Mas. Secara aku kan ngak bisa masak, jadi minder aku."
"Sayang, aku senang kamu cemburu. Tapi dia itu laki-laki jadi kamu tidak perlu khawatir, walaupun wanita sekalipun aku tidak akan tertarik karena aku sudah memiliki istri secantik kamu yang selalu setia menyambutku, menyiapkan semua keperluanku. Kamu coba pasti akan ketagihan," perintah Ega menyuapin gurami ke mulut Asha.
"Mas Ega, ini nasinya! Maaf ya membuat kalian menunggu," ucap Bian dengan meletakkan dua porsi nasi. "Mas, ini ya istrinya cantik sekali," pujinya sambil tersenyum.
"Jaga mata kamu! Kamu bukan muhrim sama dia," tegur Ega.
"Maaf, habis istri kamu cantik banget sisain satu dong buat aku. Biar aku ada temannya saat jualan," ketus Bian ikut duduk disamping Ega.
Kok dia duduk! Padahal pembeli lagi banyak, aneh ini orang. Katanya minta teman agar ada teman jualan batin Asha menundukan wajahnya kebawah.
"Senggang ya? Gimana usaha kamu lancar? Sudah buka cabang berapa lagi ini? Dunia bisnis itu harus yang hati-hati, kamu harus menomerkan satu kualitas, rasa, kebersihan juga. Lalu jika sudah berjalan lancar jangan lupa menyisihkan sedikit untuk anak yatim juga fakir miskin," ucap Ega mengingatkan.
__ADS_1
"Soal itu aku selalu ingat Mas, alhamdulillah bulan ini bisa buka cabang lagi satu. Total jadi ada empat cabang. Ini berkat modal dari kamu Mas, kalau tidak ada kamu waktu itu pasti aku tetap nganggur, maaf aku tidak bisa membalas semua kebaikan kamu."
"Santai saja, jika butuh bantuan atau sesuatu bilang saja jika aku bisa dan mampu pasti aku akan membantumu."
"Siap itu Mas, tapi sekarang aku lagi butuh bantuan mencarikan jodoh. Siapa tahu yang mencarikan Mas Ega bisa dapat secantik mbak di depanku ini," tawa Bian.
"Dia itu hanya ada satu di dunia. Dia hanya milikku. Kamu cari saja sendiri, itu pembelimu juga cantik-cantik tapi ingat cari yang cantik luar dalam," kata Ega sambil menyeruput kopi hitamnya.
"Maksudnya luar dalam? Kita bukan muhrim, Mas. Tidak mungkin kan kita melihat kedalam-dalam dia lebih detail itu sama saja kita menodai mereka. Mas Ega ini ustad tapi mengajariku untuk berbuat zina tidak punya pendirian sama sekali."
Asha menahan tawa mendengar jawaban teman suaminya itu yang memang asli polos atau pura-pura polos.
Ega segera melempar kerupuk udang yang ada didepannya menuju wajah Bian, beruntung Bian dengan sigap menangkapnya hingga tidak sampai mengenai wajahnya.
"Kamu itu sok polos apa pura-pura bodoh!" geram Ega. "Sudah kamu pergi sana! Aku mau menikmati makan malamku, kalau ada kamu selera makanku hilang," usir Ega dengan melototkan matanya.
"Mas Ega belum menjelaskan yang luar dalam itu lo, berarti kalau aku mau cari cewek harus aku buka bajunya dulu liat cantik ngak yang dalam gitu Mas? Atau aku harus coba sekalian untuk merasakannya?"tanya Bian.
"Ya kamu kan Mas. Kamu barusan bilang suruh cari wanita yang cantik luar dalam. Bicara belum ada satu jam sudah lupa, padahal rambutnya juga belum keluar uban," ledek Bian bicara tanpa dosa.
Astgafirulah kenapa kamu jadi bertambah lemot sich cara pikir kamu, Bian. Kalau aku ngak jelasin aku yang dosa tapi jika di jelasin maka kapan aku makan malamnya ini juga perutku sudah berdemo meminta jatah, pasti Asha juga sudah kelaparan pikir Ega.
"Begini ya maksudku bukan begitu, kalau kamu melakukan hal seperti yang kamu pikirkan kamu akan dosa besar. Sudah lain kali aku jelaskan sekarang aku ingin menikmati makan malam bersama istriku, lain kali aku jelaskan lewat wa atau telepon."
"Ok, selamat menikmati hidangan lesehan kami dengan menu andalan yang super mantap, berharap yang makan selalu bilang mantap betul," gurauan Bian pergi meninggalkan Asha dan Ega yang mulai menyantap makanan di depannya.
Ega dan Asha menikmati makan malamnya dengan suara hening tanpa ada pembicaraan yang ada hanya suara penyanyi dangdut yang berada tidak jauh dari mereka yang sedang menyanyikan lagu sewates angen dari Demy.
Mung sewates angen, mung sewates angen
Welas hang sun kudang-kudang,
__ADS_1
Saikine yo wis ilang
Hang sun karepaken hang sun karepaken
Mung ketemu ambi riko masio mung bisikan beloko
Sambangen tah isun masio mung sedelo
Sing kuat maning isun nahan kangen hang sun songgo
Keliwat liwat kangen isun nyesek nong dodo
Niat sun nglalekaken riko tapi sun sing biso
Mung sewates angen mung sewates angen
Welas hang sun kudang-kudang saikine yo wis ilang
Hang sun karepaken hang sun karepaken
Mung ketemu ambi riko masio mung bisikan beloko
Ega yang lebih dulu selesai makan, melihat ada sedikit sisa makanan di ujung bibir Asha segera berpindah duduk menghampiri istrinya sambil membawa tisu di tangan kanannya. Ia mengusap dengan hati-hati, menatap wajah cantik istrinya yang semakin hari semakin membuatnya bertambah cinta.
Asha yang mendapat tatapan itu pun semakin salah tingkah, ia segera meletakan piringnya mencuci tangannya di wadah baskom yang ada di depannya, padahal ia masih sangat lapar ingin menghabiskan bebek goreng yang begitu nikmat.
"Sudah selesai? Kenapa tidak di habiskan?" tanya Ega dengan merapikan hijab yang dikenakan Asha.
Semoga kamu selalu mengenakan hijab seperti ini, Sayang. Kamu sungguh cantik memakai hijab di kepalamu batin Ega.
__ADS_1