Wedding Agreement

Wedding Agreement
101. Penyatuan dua insan 21+


__ADS_3

Ega setelah memimpin salat itu pun segera memimpin doa memperbanyak dzikir dan membaca shalawat nabi. Mereka pun sambil menunggu adzan isya menghabiskan waktu untuk saling menyimak saat mereka membaca Al-Quran.


Selesai salat isya, Asha segera menuju dapur untuk memanaskan sayur menu makan malam mereka.


"Sayang, menunya apa malam ini?" tanya Ega duduk kursi di meja makan mengamati istrinya dari kejauhan yang sibuk menyalakan kompor listriknya.


"Nasi goreng, buat yang simpel saja tadi sebenarnya masak rica-rica ayam tapi aku lupa beri garam lagi jadi rasanya asin Mas ngak layak untuk di makan. Mas mau di buatkan apa? Biar aku masak lagi."


"Mikirin apa hingga lupa begitu? Apa sedang memikirkan aku atau jangan-jangan kamu sudah merindukan suamimu yang tampan ini karen seharian kita tidak bertemu."


"Siapa sich yang ngak merindukan kamu Mas? Secara kamu itu suami idaman banget, semua wanita ingin memiliki kamu," puji Asha dengan meletakan piring berisi nasi goreng di depan suaminya. "Makanlah, suamiku tercinta. Kata orang dulu cinta itu dari perut naik ke hati, bukan dari mata ke hati," tawa Asha sambil menuangkan air putih dari teko ke gelas Ega.


"Kalau cintaku murni tanpa istilah itu karena aku mencintaimu karena Allah. Sayang, kok cuma satu piring? Kamu ngak makan?"


"Aku lagi diet mas, coba dech Mas Ega perhatikan tubuhku makin berisi. Aku gendutan ya, nanti kalau aku makan saja tidak mengontrol diri takutnya badanku tambah melebar tidak menarik lagi lalu Mas akan cari wanita lagi kan aku takut, jika di campakkan olehmu," ucap Asha berdiri disamping suaminya.


Ega segera menarik tangan istrinya hingga duduk dipangkuannya, ia mengusap pipi Asha dengan lembut lalu menciumnya sekilas.


"Walapun kamu akan berubah menjadi gemuk atau melar karena melahirkan anakku, aku tidak akan mempermasalahkan semua itu. Bagiku fisik tidaklah penting bagiku hatimu yang sholehlah yang membuat aku makin cinta dengan kamu. Sudah jangan pakai acara diet segala, sini buka mulut kamu! Mas suapin!" ucap Ega dengan menyodorkan satu sendok nasi goreng.


Asha menggelengkan kepalanya dengan menutup rapat mulutnya.

__ADS_1


Ega yang melihat sikap Asha segera memiliki ide agar istrinya itu membuka mulutnya menerima suapannya. Kini ia segera ******* bibir istrinya dengan lembut beberapa menit hingga sang empu kehabisan nafas.


Melihat Asha membuka mulut, kini ia segera menyodorkan paksa satu sendok nasi goreng dengan sosis di atasnya. Sedangkan Asha terpaksa menerima dan menguyahnya.


"Pintar, kamu harus makan yang banyak. Kenapa harus makan banyak? Karena setelah ini kamu akan kehabisan energi untuk pergelutan olahraga kita, sayang."


"Olahraga! Apa malam ini kamu akan memintanya lagi, Mas?"


"Iya, karena aku sudah menahan beberapa hari hampir satu minggu aku tidak mendapatkan servisan dari kamu. Rasanya itu sudah tidak dapat menahan lagi. Ayo cepat kita habiskan nasi goreng ini!" perintah Ega.


****


Di dalam kamar Ega yang telah berganti baju itu menyandarkan punggungnya di ranjang dengan kaki lurus dengan mengamati istrinya yang duduk di depan cermin dengan memakai cream malam di wajahnya. Asha merupakan wanita yang senang melakukan perawatan tubuh dengan sendirinya.


"Sayang, cobalah gaun kamu! Jika kebesaran atau kekecilan besok pagi masih ada waktu untuk memperbaikinya," ucap Ega. "Sebentar, Mas ambilkan!" ucapnya lagi.


"Dimana? Biar aku ambil sendiri, kamu pasti sangat lelah Mas. Kamu sudah seharian kerja." Asha segera turun dari ranjang untuk mengambil paper bag yang ada di dalam lemari.


Asha segera mengenakannya kini ia mulai kesulitan saat retsleting gaun yang ia kenakan tidak bisa ia naikkan.


Ega segera menghampirinya membantu sang istri hingga gaun berwarna putih itu sempurna di pakai istrinya. Ia memmutar tubuh Asha hingga saling berhadapan.

__ADS_1


"Sempurna sayang, sepertinya tidak ada yang harus diperbaiki lagi. Sini, aku bantu lepas lagi!" ujar Ega.


Ega segera melepas gaun yang di coba Asha hingga jatuh di lantai, kini ia melihat sang istri hanya mengenakan pakaian dalam saja ia segera mengunakan kesempatan itu sebaik mungkin.


Ia sudah tidak dapat menahan diri lagi karena Asha memamerkan pahatan Tuhan yang sangat sempurna, tak kuasa menahan lagi gejolak kelelakian yang sedari tadi terpenjara apa lagi hampir satu minggu ia tidak menjamahnya. Perlahan kuraih raga yang di mataku tanpa cela itu.


Ia segera membopong tubuh istrinya ke atas ranjang meletakan pelan lalu menindihnya menelusuri setiap jengkal tubuh sang istri dengan sesekali memberikan ciuman lembut di setiap titik area sensitif.


Merasakan Asha juga menikmati permainnya ia segera membuang seluruh kain yang menempel pada tubuhnya juga istrinya hingga kini mereka polos tanpa ada sebenang kain yang menutupinya.


Ega segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka sebelum penyatuan dua insan yang berbeda saling bersatu untuk melepaskan rasa cinta dan kasih sayang mereka. Sedikit demi sedikit, kami merengkuh madu. Malam semakin larut, manisnya madu asmara semakin kusesap rakus, dua raga yang bertaut diiringi hati yang terpaut sesekali melepaskan desahan demi desahan dengan jeritan kenikmatan. Suasana semakin nikmat dan mendukung untuk mengulang setiap detik percintaan mereka karena suasana yang dingin dengan germicik air hujan yang ada di luar.


Merasakan beberapa kali pelepasan ia segera mengecup kening istrinya, "Makasih sayang, aku sangat mencintaimu. Terimakasih sudah sabar memberamai ku sampai detik ini. Doakan semoga aku bisa menjadi imam yang lebih baik bagi mu dan keluarga ini. Aku bersyukur sekali dipertemukan dengan mu istriku. Salam sayang hingga jannah."


“Suamiku… .sayang, cinta telah membuat kita bisa bergenggaman erat hingga sejauh ini. Badai sekian kehidupan sudah kita lampaui bersama, doaku semoga kita bisa semakin sakinah bersama," jawab Asha melingkarkan tangannya di perut suaminya yang berbaring disampingnya.


“Mas, kita bertemu karenaNya Dialah Maha pemilik hati kita sehingga menjodohkan kita. Hingga kita bisa saling cinta. Aku selalu berdoa agar bisa saling cinta hingga surgaNya," lirih Asha dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya dengan memainkan bulu-bulu kecil yang ada di dadanya.


"Sayang jangan gitu, ah! Nanti jangan salahkan aku jika aku mengulangnya lagi," goda Ega gemas melihat sang istri.


"Mengulang! Apa masih kurang? Kita tadi satu jam Mas! Sudah aku mau tidur," ucap Asha memindah posisi tidurnya membelakangi tubuh suaminya.

__ADS_1


Ega segera memeluk istrinya dari belakang, "Sayang aku hanya bercanda. Tidur nyenyak sayang, aku sangat mencintai kamu."


Bersambung..


__ADS_2