Wedding Agreement

Wedding Agreement
129. Pingsan


__ADS_3

Kevin sengaja berpura-pura tidak mengenal Diana, ia tidak ingin sahabatnya tahu jika mereka pernah saling kenal.


"Diana."


Diana membalas uluran tangan Kevin lalu tersenyum kecut.


"Hai, sudah jabat tangannya!" tegur Rizki. "Nanti ada yang cemburu," ucapnya lagi.


"Siapa yang cemburu?" Kevin bertanya dengan menyelidik.


Rizki melirik Rian lalu menatap Kevin.


"Rian yang cemburu, emang mereka pacaran? Sepertinya mereka tidak saling kenal, Rian juga cuek sama cewek cantik di sampingku ini," sindir Kevin.


Apa Kevin juga akan menyukai cewek bar-bar itu, apa aku harus sedikit bersifat lembut untuk Diana agar bisa dekat dengannya tapi bagaimana dengan harga diriku pikir Rian.


"Rian gimana kamu? Suka ngak sama Diana? Kalau ngak biar sama Kevin saja," tanya Rizki.

__ADS_1


"Kamu itu Riz, biar Diana yang menentukan lagi mereka sudah dewasa biar mereka menentukan jalan hidupnya sendiri. Sudah cepat makan itu keburu dingin, jika kalian tidak suka dengan yang aku dan istriku siapkan kalian bisa pesan lagi. Gratis makan sepuasnya, bawa pulang juga boleh," tutur Ega.


"Ga, gue boleh bawa pulang cewek cantik ini ngak? Aku maunya makan dia saja," canda Kevin.


"Emang aku barang kamu bawa-bawa pulang," ketus Diana yang hanya bisa di dengar oleh Kevin karena ia bicara dengan nada rendah.


Kevin mendengar amarah kucing liarnya hanya bisa tersenyum puas di hatinya. Ia akan terus mengejar Diana sampai titik darah penghabisan.


Rian melihat Kevin yang sangat dekat dengan Diana hanya bisa menahan sesak di dadanya. Aku harus minta maaf dengan Diana setelah ini, aku juga harus bertindak cepat agar aku ngak kalah dari Kevin sepertinya Kevin sangat menyukai Diana batin Rian.


**************


Ega duduk di meja kerja dengan menatap layar ponselnya sedangkan Asha memilih bermain ponsel melakukan pesan chat dengan saudaranya yaitu Nabila.


"Sayang serius sekali lagi chat sama siapa?" Ega bertanya sambil duduk di samping istrinya dengan meneguk kopi yang telah disuguhkan istrinya.


"Sama Mbak Bila."

__ADS_1


"Oh, kok kelihatan serius sekali bahas apa sich? Gimana kabar mereka?"


"Mereka alhamdulilah baik, Mas. Mas kepo dech, mau tahu apa yang lagi aku bahas?"


Ega merebut ponsel istrinya membaca pesan chat yang di kirim oleh kakak iparnya itu. Saat ia menggeser-geser kebawa membaca isi chatnya hanya bisa membulatkan mata tidak percaya.


"Sayang, kamu sudah siap beneran untuk memiliki anak?" tanya Ega setelah membaca pesan yang berisi curahan hati sang istri yang ingin segera hamil. "Kamu jangan asal minum jamu ya, kamu kan ngak tahu bagaimana nanti resikonya" nasihat Ega.


"Itu tadi kan jamu alami dari alam Mas."


"Iya aku tahu, Daun jelatang atau daun semangi merah itu bahan alam apa kamu tahu detailnya kandungan juga manfaatnya?"


Asha menggeleng.


"Begini sayang, emang dua daun itu bisa di manfaatkan oleh orang yang ingin segera memimiliki anak tapi kita juga harus konsultasi pada ahlinya yaitu dokter spesiali kandungan dan anak. Daun jelatang adalah jenis tanaman herbal yang serba bisa. Kandungannya dapat memelihara sistem kelenjar, rahim, kaya akan mineral, bahkan dapat meredakan alergi musiman karena bersifat anti-histamin alami. Selain itu, jelatang kaya akan klorofil yang penting untuk meregulasi darah. Selain itu, daun jelatang juga mengandung vitamin A, C, potasium, kalsium, dan zat besi. Sedangkan Daun semanggi merah mengandung mineral tunggal yang dibutuhkan oleh sistem kelenjar. Fungsinya adalah detoksifikasi polutan lingkungan dan juga untuk kesehatan jantung. Tak hanya itu, daun semanggi merah meningkatkan fungsi peredaran darah, meningkatkan lendir pada serviks, dan menyokong jaringan rahim. Lendir serviks sangat penting selama proses pembuahan karena memelihara dan melindungi ******, serta bertugas sebagai media di mana ****** melakukan perjalan untuk membuahi sel telur," jelas Ega panjang lebar.


Asha yang tiba-tiba terasa pusing memegangi kepalanya, kemudian ia terjatuh pingsan.

__ADS_1


"Asha bangun sayang, kamu barusan baik-baik saja kenapa jadi begini?" lirih Ega dengan menepuk pipi sang istri pelan.


__ADS_2