Wedding Agreement

Wedding Agreement
33 Season 2


__ADS_3

Asha yang melihat suaminya terdiam tidak segera melanjutkan percakapan dengan putranya, ia mengambil alih ponselnya. Ia tidak ingin membuat putra sulungnya bersedih atau menderita lagi.


"Nak, papa juga setuju dengan apapun keputusan kamu. Mama yakin kamu itu bisa menentukan yang terbaik buat kamu," sahut Asha. "Nak, kapan kamu ingin menikahi wanita itu?" tanyanya lagi.


"Secepatnya, Mah. Seperti kata kalian, agar tidak ada zina diantara kami. Sudah cukup dosa yang Arsen tanggung selama ini, Arsen ingin bertaubat untuk lebih baik lagi," jelas Arsen. "Kalau bisa dua minggu lagi, aku ingin menghalalkan dia," ucap Arsen.


Ia ingin mengikat Adiba dalam pernikahan agar dia tidak lagi meninggalkan dirinya, dengan begitu ia bisa menebus semua kesalahannya dimasa lalu dengan membahagiakan wanita yang amat ia cintai.


"Apa tidak terlalu buru-buru, apa kamu sudah menyiapkan segalanya dengan seksama?" selidik Asha.


"Aku tidak perlu persiapan, Mah. Aku dan dia sudah sepakat tidak ada pesta yang mewah, yang terpenting hubungan yang sah secara agama dan tertulis dinegara disaksikan orang terdekat itu lebih dari cukup," jelas Arsen.


"Apa nanti kamu ngak menyesal, menikah hanya sekali, Nak. Izin kamu sebagai orangtua untuk membuatkan pesta untukmu."

__ADS_1


"Tidak, Mah. Asal aku menikahinya itu lebih dari cukup, insyaallah tidak ada penyesalan dikemudian hari. Ini juga permintaan dari dia," jelas Arsen.


Sepertinya wanita itu bisa mengubah Arsen menjadi lebih baik dan bangkit lagi. Batin Ega mendengarkan percakapan putranya dengan istrinya.


"Baiklah, kamu ingin memberi mahar dia apa? Biar mama yang memberinya sebagai ganti pestanya," ucap Asha. "Apa sebuah rumah, mobil, atau perhiasan pengeluaran terbaru," usul Asha.


Ega memberi tatapan pada istrinya itu lalu ia berkata, "Mah, keindahan pernikahan bukan soal besar kecilnya mahar agar terlihat wah dimata orang lain. Namun, dari seberapa ikhlas dan ridha pengantin pria memberi dan pengantin perempuan menerimanya."


"Jadi papa dulu menikahi mama memberi cincin dengan berat lima gram karena hanya segitu iklhasnya papa. Dasar pelit, padahal juga kaya," dengus Asha mengingat kejadian tiga puluh satu tahun yang lalu.


Ega hanya geleng-geleng kepala, ternyata istrinya masih mengingat hari sakral itu. Mungkin jika ia tidak pura-pura miskin ia ingin memberi mahar mewah tapi itu demi kebaikan agar mendapatkan istrinya yang mampu menerima apa adanya tanpa embel-embel harta.


Eta meraih tangan istrinya itu agar tidak marah, ia memberi sorot mata memelas agar sang istri memaafkannya. Asha hanya membalas dengan senyuman.

__ADS_1


"Mah, Pah, kalian masih ada disitu?" tanya Arsen dibalik sambungan teleponnya.


"Masih, Nak. Gimana tawaran mama, kamu minta apa? Apa pun akan mama dan papa beri," ucap Asha. Ia tidak mau menantunya nanti mengungkit masalah mahar yang terlalu sedikit dikemudian hari yang membuat penyesalan putranya.


"Arsen mampu membeli mahar dengan uang Arsen sendiri, Arsen hanya meminta pada kalian untuk mendoakan, merestui hubungan Arsen dengan Adiba. Insyaallah, minggu depan aku ingin menghalalkannya. Aku harap mama dan papa bisa datang kesini untuk memberikan restu pada kami," jelas Arsen


Ega terdiam mendengar nama Adiba.


"Kedatangan kalian sangat kami harapkan, sudah ya, Mah, Pah. Arsen istirahat sudah larut malam, assalamualaikum. Kalian jaga kesehatan," ucap Arsen langsung mematikan panggilan teleponnya.


Ia sengaja mematikan dengan segera dengan alasan tidak ingin mendengar ucapan menyakitkan dari kedua orang tuanya, yang terpenting saat ini ia sudah meminta restu pada mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2