
Tidak ada suara dibalik ponselnya, ia mencoba memanggil Arsen untuk memastikan jika putranya baik-baik saja.
"Nak, apa kamu baik-baik saja. Apa kamu sudah tidur," panggil Asha di dalam ponselnya.
"Maaf mah, Arsen ketiduran. Ya sudah mah, Arsen pamit mau tidur besok juga harus kerja. Assalamualaikum, selamat malam mah," pamit Arsen.
.
.
.
Arsen sengaja bangun lebih awal, entah mengapa ia menjadi semangat untuk menjalani hari-harinya setelah mengetahui fakta yang sebenarnya. Selesai sarapan dengan roti bakar ala kadarnya ia memilih untuk pergi ke kontrakan Adiba sekedar melihat wanita pengisi ruang hatinya.
Hari ini ia memilih memakai mobil sederhana yang jarang diketahui karyawannya agar memudahkan dirinya untuk menguntit Adiba. Ia memakirkan mobilnya sedikit jauh dari kontrak Adiba agar tidak menimbulkan kecurigaan jika ia menguntit.
__ADS_1
Arsen melepas kacamata hitamnya, melihat Adiba yang sibuk menyapu teras kontraknya dengan sesekali ngobrol dengan ibu-ibu yang menggendong bayi.
Satu jam, ia berdiam diri di dalam mobil sesekali memperhatikan gerak-gerik Adiba. Setelah hampir setengah menunggu Adiba untuk keluar namun juga tak kunjung keluar, akhirnya ia memilih untuk pulang.
"Masih ada waktu, besok juga ketemu di kantor," lirih Arsen menyalakan mesin mobilnya meninggalkan area rumah pinggiran kota.
***
Adiba selalu memilih hari libur kerjanya untuk berada di dalam kontrakan mencari pekerjaan sampingan yaitu jualan online untuk menambah biaya kuliah serta untuk menyambung hidupnya.
Sebenarnya ia masih memiliki harta peninggalan kedua orangtuanya rumah yang ada di kota J namun ia tidak ingin menjualnya hanya untuk melunasi hutang. Rumah yang penuh kenangan akan menjadi penguat hatinya untuk selalu berjuang mencapai cita-cita sesuai permintaan terakhir ayahnya.
Adiba teringat ucapan Arsen semalam, "Apa aku cari kerjaan lain saja ya."
"Mau cari kerja lain apa?" Tanya teman sekamar Adiba.
__ADS_1
Adiba mengangkat kedua pundaknya.
"Kamu kan sudah kerja di AD, buat apa cari yang lain. Cari kerjaan susah lo, siapa tahu nanti kamu lulus kuliah nilai kamu bagus bisa diangkat jadi karyawan disana. Itu kan sesuai bidang kamu," ucap Nela.
"Aku lulus juga masih lama, di cafe tempat kamu kerja ngak ada lowongan ya. Kerja apa aja dech yang penting halal."
"Entar aku tanyakan ke bosnya, tapi kamu beneran? Di tempatku kerja gajinya dikit hanya setengah gaji kamu, apa cukup buat kamu hidup, bayar kuliah, nyicil hutang juga.
Benar juga kata Nela, kalau aku mementingkan egoku gimana nasib hutangku pasti setiap bulan rentenir akan mengejar-ngejarku. Sebaiknya aku pikir baik-baik dulu sebelum aku menyesal batin Adiba.
"Gimana? Beneran kamu mau pindah, jika iya aku bilang sama si bos biar kamu besok bisa langsung kerja," tanya Nela memastikan kembali.
"Nanti aku kabari, aku masih bingung dengan keputusan yang akan aku buat. Aku takut salah langkah, kamu tau kan hutangku banyak. Kalau aku ngak bisa nyicil bisa-bisa aku di jadikan istri kelima juragan Beno," jelas Adiba.
"Bagus dong, kalau kamu nikah sama dia hutang kamu lunas. Sebentar lagi dia juga akan sekarat mati, kamu dapat warisan," tawa Nela.
__ADS_1