Wedding Agreement

Wedding Agreement
131. Bolehkah aku mencium suamimu


__ADS_3

Ega segera mengantarkan istrinya duduk di meja tunggu antrian bersama dengan pasien lainnya yang ingin meriksakan kandungannya.


"Sayang, kamu tunggu disini! Mas akan daftar sekalian ambil nomer antrian," ucap Ega.


Ega menuju tempat pendaftran dimana para suami mendaftatkan istri serta calon bayinya. Ega sengaja tidak menyalahkan wewenangnya sebagai pemilik rumah sakit ia ingin menjadi pemilik yang profesional yang tidak dipandang sebelah mata.


"Tuan Albram eh dokter Al, ada yang perlu kami bantu," ucap petugas pendaftran.


"Aku mau mendaftarkan istriku memeriksakan kandungannya, ke dokter spesialis obgyn. Tolong kamu daftar ya, kami dapat nomer antrian berapa?"


"Dokter Al sebaiknya lewat belakang saja agar tidak mengantri," jelasnya.


"Tidak, kita harus mematuhi prosedur yang ada. Satu lagi, kalian harus bekerja dengan jujur. Apa kalian selalu melakukan hal curang seperti yang barusan kalian katakan pada pasien yang kalian kenal?" Ega menyelidik.


Ega tidak suka membeda-bedakan orang baginya penjabat ataupun orang miskin sama jika berobat di rumah sakitnya. Bahkan ia menyarankan pada pegawainya untuk memberikan keringanan pada pasien yang kurang mampu tanpa mengurangi pelayan perawatannya.

__ADS_1


Petugas rumah sakit hanya diam dengan menundukkan wajahnya tanpa berani menatap sang pemiliknya.


"Jangan di ulangi kesalahan kalian! Aku ingin semua orang yang berobat disini sama tanpa kalian istimewakan. Sudah lanjutkan pekerjaan kalian," tegur Ega mengambil kartu antrian lalu pergi meninggalkan karyawannya.


Ternyata Dokter Al sangat baik juga tidak memandang rendah orang yang tidak punya bahkan dia rela antri untuk memeriksakan istrinya sedangkan ia bisa juga langsung mendapatkan pemeriksaan secara langsung batin petugas administrasi kagum dengan sosok Albram.


Ega duduk di sebelah istrinya yang masih sibuk ngobrol dengan wanita dengan perut besar disamping kanannya.


"Bunda gimana rasanya hamil tua seperti itu? Apa ada keluhan gitu?" tanya Asha.


"Berarti ini hamil anak kedua ya, Bun. Kenapa bisa lemas seperti itu?" Kepo Asha.


"Sayang, kamu ini dokter tapi tidak tahu," bisik Ega di telinga istrinya.


Asha menoleh, "Mas sudah ya? Aku kan penasaran?"

__ADS_1


"Sudah nanti juga di jelasin di dalam, setiap orang itu berbeda-beda bawaan hamilnya," terang Ega.


"Mbak Asha ini suami mbak ya, wah tampan sekali. Kalian pasangan yang sangat serasi, yang satu cantik, yang satunya tampan pasti anak kalian jadi perpaduan dari kalian," pujinya.


"Bunda terlalu memuji, bunda juga cantik. Cantik itu relatif," jawab Asha. Jelaslah perpaduan dari aku dan Mas Ega kalau perpaduan kamu dan suamiku maka kalian selingkuh batin Asha.


"Mbak Asha aku boleh minta tolong ngak?" ucapnya ragu-ragu.


"Apa itu? Jika bisa pasti akan aku bantu."


Ela segera mendekatkan wajahnya ke telinga Asha lalu berbisik dengan ragu-ragu tapi ia hanya ingin kelak anaknya lahir tampan seperti laki-laki tampan yang ada di depannya.


"Bolehkan aku mencium suami kamu?"


Asha yang mendengar permintaan wanita hamil disampingnya hanya bisa bengong. Rasanya sesak di dada ia tidak mau suaminya di sentuh oleh wanita lain apalagi meminta cium.

__ADS_1


__ADS_2