Wedding Agreement

Wedding Agreement
Saling menyalahkan


__ADS_3

Nara mulai berkutat dengan tugasnya membuat tiga buah pakaian hanya dalam waktu tiga minggu saja. Hanya berbekal bakat sederhana dan ilmu yang mungkin sudah hilang saat ia berkuliah, Nara yang baru menjadi siswa sekolah mode itu pun nampak sibuk tanpa bantuan siapapun. 


HIngga waktu sudah hampir tengah malam, Nara masih asik dengan kesibukannya. Padahal ia sudah beberapa kali menguap namun sangat menyayangkan kalau harus berhenti dan bisa membuatnya tidak dapat tidur.


“ Hoooaaammmm! “ Nara menguap lebar sampai kemudian ada sebuah tangan yang membungkam mulutnya yang terbuka. 


“ Siapa ini yang nyuruh tengah malam begini begadang, hem? Sampai tidak tahu waktu.” 


Nara mendongak dan ternyata Aryan yang baru pulang bekerja itu kini memeluknya dari belakang.” Tengah malam?” ulang Nara memastikan lagi waktu di jam tangan Aryan yang sedang melingkar di tubuhnya .” Sudah jam dua belas ternyata .” 


“ Bagus sekali, ya. Kalau aku tidak pulang begini kamu akan teruskan sampai pagi ?”


Nara menggeleng manja dan mengakui kesalahannya yang memang tidak tahu waktu karena saking asiknya. 


Aryan menyisir penampilan istrinya yang nampak berbeda malam ini, hingga kemudian pria itu mengangkat tubuh Nara dan mendudukannya ke atas meja setelah menyingkirkan barang-barang entah apa yang berserakan di atasnya. 


“ Aryan , awas ! Jangan sembarangan disisihkan.” 


Aryan tak menggubris , ia cuek saja lalu menarik ujung daster Nara yang terlihat lucu dengan motif buah nanas kecil - kecil merata. 


“ Baju apa ini?”


“ Daster! Bagus kan ? Murah meriah, loh. Enam puluh ribu saja dan aku beli setengah lusin buat ganti sehari-hari.”


“ Seperti yang dipakai bik Ina tadi ?”


Nara mengangguk senang.” Iya, bik Ina aku belikan dua. Tadi kita kembaran .”


“ Kembaran?” Aryan makin mengerutkan wajahnya geli.” Jangan sampai nanti aku memeluk bik Ina dari belakang hanya karena aku tidak bisa membedakan kalian.” 


Nara jelas langsung tertawa dan menutup mulutnya sendiri membayangkan Aryan yang bisa salah mengenali dirinya dengan bik Ina yang dari bentuk badan saja sudah berbeda. 


“ Kamu kenapa sampai tidak tidur seperti ini?” wajah Aryan kini berubah serius saat wajah mereka kini sejajar,” Kalau event ini hanya akan membuatmu lelah sampai lupa waktu seperti ini,  lebih baik tidak usah ikut !”


Aryan seolah memberinya ultimatum keras karena mengabaikan waktu istirahatnya sendiri. Dan Nara jelas langsung kecewa. Ia sadar sudah salah.


“ Tapi , Aryan ! Semua sudah berjalan masa tidak boleh ikut ?”


Aryan kini menumpukkan tubuhnya pada tepian meja lalu mencondongkan dirinya ke arah Nara yang spontan mundur takut.


“ El, ada hal yang mesti kamu ingat dengan posisimu saat ini. Kamu hamil , ada sosok lain yang perlu kamu jaga selain dirimu sendiri. Jangan jadi ibu yang egois hanya karena kamu senang melakukan semua ini, mengerti?” 


Nara mengangguk seraya tertunduk. Wajah melasnya sungguh terlihat menggemaskan di mata Aryan yang sebenarnya sudah penat karena baru tengah malam seperti ini ia kembali dari pekerjaannya. 


“ Lagipula , aku kan tidak bisa tidur kalau tidak ada kamu, Ar. Jadi aku menyibukkan diri saja,” kilah Nara secara tidak langsung sudah mengakui bahwa ia kini sudah ketergantungan dengan keberadaan Aryan di sampingnya. 


“ Sekarang aku sudah pulang, kamu tidur ya. Sudah malam.”


Nara mengangguk patuh seperti anak kucing yang membuat siapa saja tak tahan untuk mencubitnya.


Begitu pula dengan Aryan yang langsung mencubit pipi Nara lalu mencuri kecup di bibir Nara yang terkesiap. 


“ Tidak minta izin ,” ucap Nara kaget saat Aryan yang biasanya bicara meminta izin menyentuhnya kini main sosor saja. 


“ Memangnya aku siapamu,hem ? Suami kan sah-sah saja mau berbuat apapun pada istrinya.” Aryan menyingkap rambut Nara dengan jemarinya hingga menggambarkan wajah Nara yang kini terlihat tanpa penghalang bagi Aryan untuk menyusurinya lebih dalam. 


Tak peduli dirinya masih penat dan belum berganti pakaian, Aryan seenaknya saja menciumi wajah Nara lalu turun permukaan leher yang seolah memanggil-manggil untuk dirasai. 


“ Kamu tahu, El? Aku baru sadar kalau kamu itu sangat cantik.”


“ Gombal ! Aku juga baru tahu kalau kamu itu……”

__ADS_1


“ Apa ?”


“ Messum sekali !” ucap Nara penuh penekanan karena semenjak Nara membuka jalan untuk boleh menyentuhnya, Aryan kini seolah tak ada waktu lain untuk menyulut sendiri gairahnya setiap saat. 


“ Sudah makan ? Bik Ina bikin lasagna. Mau aku panaskan ?”


Aryan jelas menggeleng cepat lalu semakin menempelkan wajahnya yang belum mandi.


” Aku makan kamu saja !”


...----------------...


Nara tiba-tiba terbangun lalu membungkam mulutnya pagi ini. Tanpa duduk terlebih dulu, Nara langsung melompat ke kamar mandi memuntahkan lasagna yang ia makan semalam. 


“ Dih, udah berapa lama gak muntah kenapa pake muntah lagi !” kesal Nara memukul tepian wastafel saat nyawanya saja belum terkumpul pagi ini namun ia kembali mengalami morning sickness setelah ia pikir tidak lagi mendapatkannya sejak beberapa minggu terakhir.


“ Haahhh !” Nara makin kesal, padahal ia sudah hampir lupa bagaimana rasanya muntah seperti ini.” Nyusahin amat sih!” umpatnya kembali menyalahkan kehamilannya yang membuat Nara serba tidak nyaman. 


Kerongkongannya terasa terbakar panas, ulu hatinya pun mendadak perih . Nara masih tertunduk mual dan rasanya ingin kembali muntah. Sampai kemudian ia kembali muntah sampai lemas. 


“ El, astaga ! Kenapa ini ?” pekik Aryan kaget saat kembali ke kamar dari olahraga di ruang fitnes mendengar suara muntah di kamar mandi . Dan Nara sudah meringkuk tertunduk memegangi perutnya yang terasa aneh .


” Kamu muntah lagi?” 


Nara mengangguk lemas, sampai kemudian Aryan mengangkat tubuhnya untuk dibawa ke tempat tidur. 


“ Kamu dari mana, Ar?” lirih Nara seolah menyalahkan Aryan karena menghilang saat ia belum bangun hingga sang jabang bayi sedang protes karena kehilangan sentuhan dari ayahnya. 


“ Maaf , aku bangun lebih dulu lalu olahraga. Tunggu sebentar aku panggil bik Ina dulu.” 


Aryan yang masih mengenakan kaos basah oleh keringat itu bergegas keluar dan meminta bik Ina membuatkan minuman untuk Nara.


“ Elnara, kenapa kamu bicara seperti itu !” Aryan yang mendengar keluh kesah istrinya itu langsung melebarkan langkahnya menundukkan tubuhnya di depan Nara yang sudah mencengkram tangannya sendiri. 


“ Aku mau muntah lagi !” hentak Nara kemudian menyingkirkan tubuh suaminya dan kembali berlari ke kamar mandi. 


Tak hanya perut dan kerongkongannya yang panas, sepertinya kepala Nara sudah mendidih saat ini. Bahkan Nara berani menampik tubuh Aryan yang akan melakukan sesuatu untuknya. Bik Ina datang dengan segelas lemon hangat dan melihat Nara yang tengah emosi di kamar mandi dan Aryan jelas bingung bagaimana cara menenangkannya. 


“ Sepertinya Nyonya masuk angin. Beberapa hari ini tidur larut, kan ?” 


Nara mengiyakan saat bik Ina mendekat dan merasakan tubuh Nara yang menghangat. 


“ Tidur larut untuk apa juga, El? Mulai nanti kamu tidak usah mengerjakan apapun, aku tidak suka kamu malah menyalahkan anak kita karena kamu sendiri yang begadang.”


Aryan malah ikut emosi dan memberi peringatan keras untuk istrinya.


“ Aku begadang juga buat apa ! Kamu juga tidak membiarkanku tidur kan tiap malam !” ucap Nara tak kalah emosi. Ia mampu memutar omongan suaminya yang memang minta dilayani hasratnya meski di tengah malam buta hingga membuat Nara harus lama saat memulai tidurnya kembali. 


“ Kamu malah nyalahin aku lagi ! “ balas Aryan tak kalah meninggi. 


“ Sudah , Tuan Muda. Tolong jangan ikut emosi.” Bik Ina terpaksa menengahi keduanya yang sama-sama tersulut emosi karena saling menyalahkan.” Mari , Nyonya. Bik Ina beri minyak di lehernya.”


Bik Ina dengan perilaku keibuannya kini berhasil  membujuk Nara untuk berbaring di sofa dengan posisi punggung lebih tinggi lalu mengoleskan minyak kayu putih tipis-tipis di area leher hingga punggung Nara.


Tak lupa pijatan kecil di area pundak dan pelipis Nara yang menenangkan juga diberikan bik Ina yang paham betul bagaimana menangani wanita yang hormon kehamilannya memang sangat labil seperti majikannya ini. 


“ Bagaimana , Nyonya ? sudah lebih enakan?” Bik Ina kemudian menyodorkan air lemon dengan jahe dan madu pada Nara yang meminumnya sampai habis. 


“ Terima kasih, Bik. Bik Ina baik sekali.” Nara sampai mengelus lengan perempuan gemuk itu dengan wajahnya yang hangat .” Bik Ina anaknya ada berapa? Punya anak perempuan juga apa tidak ?”


“ Anak bibi mah cuma satu, laki-laki Nyonya. Tapi sekarang dia jauh di itu…..yang banyak kanguru nya .” 

__ADS_1


“ Maksud bibi di Australia ?” 


“ Nah, iya itu , Nyonya .” Bik Ina sampai terkekeh saat yang dia ingat justru hewan khas negara tersebut. “ Bik Ina sudah kehilangan suami sejak lama. Jadi, Tuan Muda Aryan yang menjamin masa depan anak bibi sampai bisa sekolah S2 di sana. Jadi, bibi bisa tenang tinggal dengan Tuan Muda sejak dulu .”


“ Waahh ! “ decak Nara kagum dengan pengabdian wanita paruh baya ini.” Bik Ina hebat. Saya selalu ingat sama ibu tiap kali melihat Bibi. Mampu membesarkan anak tanpa suami selama bertahun-tahun .” Nara kembali menempelkan tangan wanta itu ke wajahnya ."


Merasakan perhatian dari wanita itu, Nara malah ingin bermanja dengannya seperti yang biasa ia lakukan dengan sang ibu yang kini jauh darinya. 


“ Nyonya beruntung nanti tidak perlu seperti bibi yang membesarkan anak sendiri. Tuan muda Aryan sangat bertanggung jawab terhadap Nyonya dan calon bayi kalian.”


Nara kini tertunduk murung.” Apa dia sesayang itu dengan kami , Bik?”


“ Bibi ikut senang. Senang sekali. Bibi begitu tahu perubahan Tuan Muda selama bersama Nyonya. Dia sudah banyak berubah, Nyonya dan kehamilan ini yang sudah merubahnya.”


Bik Ina meletakkan telapak tangan Nara ke perutnya.” Nyonya bisa rasakan kehidupan yang tumbuh di sini. Dia yang menyatukan kedua orang tuanya. Dia yang membuat semua orang berubah menjadi lebih baik.”


Nara pun mengikuti pandangan ke arah perutnya yang kini sudah tertumpuk tangannya sendiri. Benarkan anak ini yang akan menyatukan mereka ? Nara sendiri diselimuti kegamangan akan perasaannya terhadap calon anaknya sendiri. 


Sampai bik Ina sudah pergi pun Nara masih belum sepenuhnya memiliki hati seorang ibu dalam dirinya. Pikirannya masih tertuju ke tujuan awalnya berada di sisi seorang Aryan Maheswara. 


“ Bagaimana, Bik?”


“ Sudah membaik, Tuan Muda. Bibi buatkan sup hangat dulu untuk Nyonya.”


Aryan yang masih jengkel itu diam-diam merapikan dan menyimpan semua peralatan kerja Nara berikut semua bahan kain dan perlengkapannya. Pria itu tidak ingin Nara memiliki kesibukan hingga melupakan waktu istirahatnya meski awalnya dia sendiri yang meminta Nara masuk ke sekolah mode.


“ Tuan Muda,” panggil Bik Ina saat Aryan akan memasuki kamar dengan wajah masam.


“ Hormon ibu hamil memang tidak menentu dan kadang sulit dipahami. Tolong maklumi, Tuan Muda harus lebih sabar, ya. Sebentar lagi akan jadi seorang ayah. Kehidupan menjadi orang tua akan lebih menyenangkan, percaya sama bibi.”


Aryan mengangguk lalu mengelus lengan wanita yang lebih ia sayangi melebihi ibunya sendiri. Aryan memasuki kamar dan melihat Nara yang masih nyaman merebahkan diri dengan punggung yang tinggi di sofa. 


Kedua tangan Nara kini berada di atas perutnya sementara matanya memejam namun Aryan tahu Nara tidak sedang tidur . Pria itu lantas menaikkan ujung selimut sampai ke atas dada istrinya hingga Nara kini membuka mata namun segera memalingkan wajahnya. 


Nara menyingkap selimutnya dengan kasar karena masih kesal dengan suaminya.


“ El…….”


“ Ngapain kamu ? mau nyalahin aku lagi !” bentak Nara tak tahan lagi untuk mengeluarkan emosinya kembali dan menampik tangan Aryan yang akan mendekatinya. 


Aryan yang kini berlutut di depan istrinya itu segera menangkap pergelangan tangan Nara lalu mendaratkan ciuman di area dimana calon anak mereka kini berada. 


“ Hey, anak Daddy yang ada di situ. Baik-baik di perut Mommy. Besok kita bermain bersama. Jaga Mommy ya, jangan bergejolak di sana .”


Nara memandang aneh sikap Aryan yang bicara sendiri dengan bayi yang bahkan belum bisa mereka lihat wujudnya. Tiba-tiba pelupuk Nayara menjadi basah , bahkan bulir air mata sudah mengalir tanpa bisa ia tahan. 


Nara sudah membuang napasnya kasar hanya dengan melihat Aryan yang seolah sedang membujuk anak mereka untuk tidak membuat dirinya tersakiti selama berada di dalam kandungannya . Nara terisak dengan napas tersengal hingga Aryan kini mendongak padanya.


“ Kenapa, El?”


Nara mengusap kasar wajahnya yang sudah basah. Ia menggeleng cepat bahkan kini Aryan kembali menahan tangannya lalu mengusap air mata Nara dengan jemarinya.


“ Mengapa menangis ? Maaf, ya. Aku yang tidak pengertian sama sekali. Aku yang terlalu berhasrat hingga tidak mengerti kondisimu, maaf .” 


Akhirnya Aryan mengaku salah karena memaksa Nara mengurusi gairahnya saat malam hari dimana harusnya Nara sudah mendapatkan waktu istirahatnya. 


Aryan malah mencondongkan tubuhnya di saat Nara masih menikmati keharuannya karena sebegitu berartinya janin ini bagi suaminya yang kini makin menempelkan wajahnya sampai napas mereka saling berhembus hangat. 


“ Tolong jangan menangis, El. Jangan biarkan anak kita ikut bersedih karena kamu mudah sekali mengeluarkan air mata. Maafkan aku, ya. lain kali aku tidak akan memaksa.”  


...****************...

__ADS_1


__ADS_2