
Arsen menarik handle pintu kamarnya dengan tangan kanan, dan tangan kiri menarik tangan Adiba agar wanitanya masuk ke dalam kamar.
Adiba menggelengkan kepala mengisyaratkan dirinya tidak mau masuk ke dalam. Ia takut jika Arsen akan berbuat macam-macam. Ia bersikeras untuk menahan tubuhnya agar tidak melangkah sedikit saja yang berakibat fatal.
Arsen melihat tubuh kaku Adiba, ia tertawa di dalam hatinya. Ia tidak perlu menunggu waktu lagi. Dengan cekatan ia menggendong Adiba ala bryde style menuju tempat duduk yang telah siapkan. Ia menurunkan Adiba, kemudian ia merogoh benda yang ada disaku celana lainnya yang terbungkus rapat di sebuah kotak kecil berwarna merah.
Ia membuka dengan perlahan tapi pasti. Menyodorkan pada Adiba dengan sedikit berjongkok. Ia sudah merencanakan lamaran sejak kemarin-kemarin dengan matang, bahkan ia juga telah menyiapkan ucapan yang akan ia sampaikan.
"Hari itu akan datang, saat kamu menjadi milikku. Tapi, aku hanya akan menunggunya saat itu tiba. Jika memang aku harus menunggu selamanya itupun akan aku lakukan karena aku tak bisa hidup tanpamu. Maukah kau menikah denganku?" ucap Arsen yang tidak memindah sedikit posisinya.
Kini di dalam hatinya berharap wanita yang ia cintai menjawab 'Iya' ia tidak bisa membayangkan jika ia harus kembali bersabar untuk menunggu. Sudah sepuluh tahun lebih ia menunggu cintanya kembali.
__ADS_1
Adiba diam menganga, ia tidak tahu jika sepagi ini akan mendapatkan kejutan yang membahagiakan dalam hidupnya. Ternyata doa dalam setiap sujudnya tercapai. Ia setiap malam selalu berdoa untuk dipertemukan dengan jodoh yang mampu mengerti dirinya dan menerima apa adanya.
Kesabarannya tidak sia-sia, sekarang membuahkan hasil. Jodoh itu telah Tertulis di Lauhul Mahfudz, pantas untuk apa khawatir? Sebab janji Allah adalah pasti. Yakin saja, sudah tertulis sebuah nama untukmu, dan telah disiapkan seseorang yang terbaik bagimu, itulah yang selalu ia ingat. Ia tidak pernah minder mendapatkan gelar perawan tua seperti yang orang-orang bicarakan.
Arsen yang melihat Adiba tidak segera menjawabnya segera mengucapkan kata kedua yang telah ia siapkan. Ia sudah tidak tahan menahan rasa pegal lututnya yang terlalu lama jongkok untuk menopang beban tubuhnya itu.
"Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, seseorang yang mendukungmu tanpa batas, yang membiarkanmu tumbuh tanpa batas, dan mencintaimu hingga akhir. Maukah kamu mengizinkanku menjadi orangnya?" ucap Arsen.
Adiba mengangguk malu-malu.
"Will you merry me?" tanya Arsen memastikan kembali sebelum ia menyematkan cincin di jari manis wanitanya.
__ADS_1
"Yes, i will." Adiba menjawab dengan tersipu malu penuh kebahagiaan.
Arsen segera memakaikan cincin pada jari Adiba. Ia menarik kursi untuk Adiba duduk. Ia duduk berhadapan dengan Adiba dengan tangannya tidak ingin melepas dari genggaman wanitanya.
"Terimakasih, kamu sudah mau menjadi wanitaku. Aku ingin kau menjadi istriku selamanya, melahirkan anak-anakku, menjadi ibu untuk anak-anakku kelak. Dan kamu yang merawatnya, aku sungguh bahagia bisa memiliki kamu cinta pertama dan terakhir," ucap Arsen dengan mencium punggung tangan Adiba mengecupnya beberapa detik.
"Cinta kita adalah cinta sejati, buktinya kita sudah terpisahkan puluhan hari bahkan bulan kita dipertemukan kembali berarti kita berjodoh. Jika kita tidak berjodoh mungkin kamu sudah menikah dengan wanita lain," ucap Adiba dengan bergurau.
Bersambung..
Yuk kepoin spoiler visual mereka di ig Duwi sukema
__ADS_1