Wedding Agreement

Wedding Agreement
156.Eps 156


__ADS_3

Setelah kepergian Rizki, Nathan duduk di sebelah Rian yang sedang gusar memikirkan nasib teman juga bosnya itu.


"Kalian sudah lama berteman dengan Ega?" tanya Nathan.


"Iya, bang. Kami berempat berteman dari Ega masih nol sampai ia sukses seperti ini. Kita berjuang bersama-sama tapi di antara kita berempat Ega yang memiliki kelebihan hingga ia mampu membangun perusahan, hotel, dan restoran mungkin karena ia tidak suka foya-foya atau main wanita," jelas Rian.


Kalau mereka berjuang dari nol tidak mungkin Rian atau Rizki mengkhianati adik ipar tapi kita tidak tahu apa isi hati dan pikiran seseorang. Mungkin mereka baik di luarnya tapi sesungguhnya mereka menusuk perlahan-lahan karena iri dengan semua yang dimiliki Ega.


"Berempat? Siapa yang satunya kok aku tidak pernah melihat?" Nathan terus bertanya untuk sedikit mengorek informasi untuk mencari tahu dalang dari musibah yang menimpa adik iparnya.


"Kevin, dia berada di luar negeri. Ia juga seorang pengusaha, hanya aku dan Rizki yang bekerja atas naungan perusahaan Ega. Ega sering kali memberi modal kami, bahkan ia juga memberikan salah satu anak cabang perusahannya untuk kita secara cuma-cuma tapi kami menolaknya," jelas Rian.


"Ega tidak banyak musuh, dia tidak pernah membuat salah pada orang lain setahuku. Dia selalu berbuat baik pada semua orang, dia juga dermawan, aku juga bingung siapa yang berani membuat kejam pada Ega," ucap Rian lagi.


Kalau dari penjelasan Rian rasanya tidak mungkin jika mereka pikir Nathan kembali.


"Apa tadi kamu memberi kabar Asha?"

__ADS_1


Rian menggeleng.


"Aku tidak berani memberi tahu Ash, abang tahu sendiri dia hamil tua. Aku takut jika dia terlalu banyak berpikir akan membuat janinnya terganggu apa lagi ibu hamil muda sensitif," jelas Rian.


"Terimakasih kamu sudah memikirkan keselamatan adikku, sudah aku salat ashar dulu, kamu salat tidak? Ayo kita salat berjamaah mendoakan keselamatan Ega," ajak Nathan.


"Kita bergantian saja, abang duluan. Jika kita berjamaah takut terjadi sesuatu dengannya nanti."


****


Asha yang berada di dalam mobil pikirinya tidak tenang, ia segera menyalakan ponselnya melihat berita kecelakan yang mobilnya mirip dengan milik suaminya.


"Siapa nyonya yang belum sadarkan diri? Apa orang yang berada di berita tadi?" tanya Wati asisten Asha.


"Iya, bi. Semoga orangnya baik-baik saja, dan bukan mas Ega."


Ya Allah lindungi suamiku dimanapun dia berada, berikan keselamatan, mudahkan langkahnya, jauhkan dia dari segala macam musibah batin Asha.

__ADS_1


Sampai di depan rumah sakit ia segera turun berjalan sedikit berlari mencari ruang icu.


"Nyonya jangan lari! Anda sedang hamil," ucap Wati dengan suara terengah-engah mengejar Asha.


Asha mengabaikan nasihat asistennya yang penting saat ini ia ingin memastikan suaminya atau bukan tapi ia berharap jika yang mengalami kecelakaan itu bukan suaminya.


Saat ia hampir saja sampai di ruang icu melihat orang yang tidak asing sedang duduk di kursi penunggu ia segera memastikannya.


Itukan bunda dan papa kenapa mereka disini batin Asha.


"Bunda, papa, kalian kok ada disini?" tanya Asha heran.


Aira dan Raka saling memandang lalu menatap putrinya dengan prihatin, bibirnya tak mampu berbicara.


Asha melihat sampingnya ada Rian ia semakin khawatir juga penasaran.


"Rian, kamu kok juga disini?" tanya Asha. "Bun, apa yang di dalam suamiku? Apa yang mengalami kecelakaan mas Ega?" tanya Asha kembali dengan tubuh yang semakin melemas.

__ADS_1


Bersambung..


Mohon maaf jika sering telat up, mungkin akan rutin lagi awal bulan karena pekerjaan nyata yang menguras waktu. Smg tidak bosan dg cerita recehan author.


__ADS_2