
Setelah beberapa hari menginap di rumah orangtuanya, Asha kini menikmati liburan bersama suaminya di pantai.
Selesai salat magrib, Ega mengajak istrinya turun untuk makan malam. Sampai di lantai dasar, ia segera menyalakan perapian yang ada di dekat ruang keluarga bukan perapian asli tapi cukup membuat suasana hangat dan semakin romantis. Mereka sekarang berada di vila tepi pantai yang telah ia sewa selama dua hari ini.
Ega juga telah menyiapkan beberapa bantal di dekatnya perapian sedemikian rupa hingga terkesan seperti untuk segera melakukan skidipap.
Mereka menikmati hangatnya perapian dalam diam hanya tangan yang saling menggenggam dan bisikan cinta yang seolah-oleh mereka ucapkan di antara kesepian dan pelukan.
Asha semakin mempererat pelukannya memeluk tubuh suaminya yang ada di dekatnya dengan menyusupkan wajahnya ke dekat ketiak Ega yang membuat candu baunya ketika ia hamil ini.
"Sayang, geli ini," desis Ega.
__ADS_1
Asha tidak menghiraukan ucapan suaminya, ia makin menjadi. Mengedus-ngedus ketiak suaminya berlama-lama disana hingga sang empu bergeliat kegelian. Merasa pegal-pegal ia menyudahi aksinya lalu mengambil beberapa snack yang ada di depannya.
Membuka salah satu makanan yang telah disediakan suaminya yaitu kripik ubi sebenarnya ia tidak suka tapi suaminya memilihkan makanan ringan yang memiliki kandungan nutrisi yang terbaik. Karena ubi banyak mengandung termasuk vitamin B, vitamin C, zat besi, kalium, mineral copper (tembaga), dan beta karoten yang kemudian diubah menjadi vitamin A dalam tubuh. Pada janin dalam kandungan, vitamin A sangat penting untuk pembentukan mata, tulang dan kulit.
Merasa lelah mulutnya mengunyah makanan, ia menyudahinya lalu merebahkan kepalanya di pangkuan suaminya. Ega mengusap kening istrinya, lalu ia membungkukkan wajahnya mendekatkan untuk mengecup sekilas bibir sang istri. Tanpa ia sadari ciuman itu berlanjut hingga keduanya saling menikmati mengarungi lautan cinta untuk yang tersekian kalinya hingga desahan dan eragan merekalah yang mengisi keheningan malam itu.
Pagi hari itu di lalui Asha dengan penuh kebahagian yang berlipat ganda. Siapa coba yang tidak bahagia berlibur bersama dengan suami tercinta setelah hampir empat bulan lamanya tidak berlibur karena alasan kandungannya rentan dengan keguguran. Padahal kandungannya baik-baik saja tak ada masalah itu hanyalah alasan suaminya saja.
Indah sekali batin Asha.
"Kamu suka sayang?" tanya Ega.
__ADS_1
Asha mengangguk.
Ega mendekatkan tubuhnya lalu mengambil ponselnya untuk mengabadikan momen mereka. Kini mereka berjalan menelusuri tepi pantai dengan bergenggaman tangan menikmati air pantai sambil melihat sunrice yang sangat indah yang nampak dari timur.
"Makasih mas, sudah membawaku ketempat yang indah ini," ucap Asha.
"Sudah kewajibanku untuk menyenangkan tuan putri yang telah lama tidak berlibur."
"Mas Dalam hidup ini, jadilah seperti Matahari, kamu mungkin terbenam, namun besok kamu akan terbit kembali. Bangkit dan bersinar!" gumam Asha.
"Iya sayang, matahari adalah bintang di pusat tata surya kita. Kehadirannya senantiasa menghangatkan dan menyinari kehidupan kita. Biasanya ada dua momen indah yang ditunggu oleh banyak orang, yaitu saat matahari terbit dan saat matahari terbenam atau senja. Pada waktu ini cahaya matahari begitu indah untuk dipandang. Dan pada waktu ini juga banyak orang yang mengaitkan maknanya dengan masalah kehidupan, yaitu antara terbit dan tenggelam, atau terang dan gelap. Matahari mengajarkan kita bahwa kehidupan ini tidak selamanya terang, atau maknanya kebahagiaan. Dan tidak selamanya gelap, atau maknanya kesedihan. Matahari juga mengajarkan kita bahwa tidak selamanya kita berada diatas dan tidak selamanya kita berada dibawah," jelas Ega.
__ADS_1
"Semoga kamu selalu bersyukur, dan tidak mengeluh atau merasa sombong dengan apa yang kita miliki saat ini sayang," ucap Ega lagi.